
Setelah Radit datang ke rumah sakit, Anasta meninggalkan rumah sakit dan membiarkan kedua orang itu berduaan saja.
Saat itu sudah pukul 11 malam saat Anasta tiba di rumah Angkasa dan Leora.
Ding dong!
Ding dong!
Ding dong!
Tiga kali dia menekan bel, tapi tidak ada satupun orang yang keluar membuka pintu meskipun lampu di seluruh rumah itu dinyalakan.
"Apa mereka sudah tidur?" Gumam Anasta mengambil ponselnya lalu menelpon Leora.
Di dalam sebuah kamar dengan lampu remang-remang, 2 orang sedang berolahraga di tempat tidur saat ponsel salah satu orang itu bergetar di sebelah mereka.
"Sayang,, itu ponselnya!" Ucap Angkasa menggertakkan giginya.
"Diamlah!! Aku hampir selesai!" Jawab Leora yang sedang berada pada posisi woman on top.
Barulah saat panggilan kedua lalu keduanya rebah di tempat tidur dan Angkasa memanjangkan tangannya mengambil ponsel Leora.
"Ibu?" Ucap Angkasa sedikit bingung. Untuk apa Anasta menelepon di jam-jam seperti itu?
"Hmm,," Leora memeluk Angkasa dengan erat, memberi tanda pada pria itu kalau dia tidak mau mengangkat teleponnya.
"Halo Bu?" Angkasa yang mengangkat teleponnya.
"Kalian di mana? Ibu sedang ada di depan rumah kalian.
Semua lampu dinyalakan, tapi tidak ada penghuninya." Ucap Anasta dari seberang telpon langsung membuat Leora tersentak bangun dan duduk menatap suaminya.
__ADS_1
"Ahh, kami menginap di hotel malam ini, tapi kalau ibu ada di rumah, kami akan segera pulang sekarang." Ucap Angkasa dengan suara biasa saja.
"Aah, baiklah, kalau begitu, ibu akan menunggu." Jawab Anasta dari seberang telepon membuat dua orang itu sangat bertanya-tanya tentang maksud Anasta sangat ingin menemui mereka di malam itu juga.
"Suruh ibu masuk ke rumah." Kata Leora pada Angkasa.
"Ya Bu. Ibu bisa mendapatkan kunci yang diletakkan di pot bunga dekat lampu taman.
Kami akan segera pulang." Ucap Angkasa sebelum panggilan itu diakhiri lalu keduanya buru-buru membersihkan diri dan diantar oleh Yosi ke rumah palsu mereka.
Tiba di rumah sederhana , Leora dan Anasta duduk bersama di ruang keluarga. Angkasa sedang membuat minuman.
"Apa terjadi sesuatu? Mengapa wajah ibu terlihat bengkak?" Tanya Leora yang bisa memastikan kalau ibunya baru saja menangis dan memar di pipi nya mungkin merupakan bekas tamparan seseorang.
"Ibu baik-baik saja. Tidak perlu kuwatir." Ucap Anasta.
"Bu, silahkan minum dulu." Ucap Angkasa yang baru saja datang dari dapur.
"Sayang temani lah Ibu, aku akan ke kamar." Ucap Angkasa yang mengerti kalau anak dan ibu itu butuh ruang pribadi.
Setelah Angkasa pergi, Anasta menghela nafas menguatkan dirinya sendiri lalu menatap mata anaknya.
"Leora, maafkan ibu," kata perempuan itu dibarengi air mata yang jatuh berderai.
"I,, ibu? Ibu bilang apa?" Tanya Leora yang tak percaya setelah berbulan-bulan dipanggil Liona oleh ibunya akhirnya nama aslinya bisa di pakai ibunya untuk memanggilnya.
"Leora, ibu tahu semuanya, dari awal, ibu sudah tahu." Ucap Anasta terisak keras.
Leora tertegun mendengar pengakuan Ibunya, dalam hatinya dia ingin menanyakan banyak hal pada ibunya tapi melihat ibunya telah mengumpulkan keberanian yang sangat besar untuk mengungkapkannya Leora memeluk ibunya dan menepuk punggung perempuan itu.
"Jangan menyalahkan diri, aku tahu ibu sangat berat untuk melakukannya." Ucap Leora dengan suara lembut, berharap Ibunya akan terus baik-baik saja.
__ADS_1
"Maafkan Ibu, ibu bersalah padamu sampai tidak bisa tidur. Maafkan Ibu,, maafkan Ibu, anakku." Isak Anasta.
"Ibu,, akulah yang harus minta maaf pada Ibu, aku sudah terlalu banyak merepotkan ibu.
Tapi Bu, ada apa dengan pipi Ibu?" Tanya Leora saat ia melihat pipi wanita itu semakin membengkak.
"Ahh, ini,, ini baik-baik saja." Anasta menggunakan sapu tangannya membersihkan wajahnya yang berantakan.
"Leora, Ibu sudah bicara dengan adikmu, dia sudah setuju untuk mengungkapkan semuanya.
Juga,, sayang, apa kau bisa menjawab satu pertanyaan ibu, jawab dengan jujur."
"Apa itu Bu?" Tanya Leora.
"Apa aku bahagia menikah dengan Angkasa?"
Leora langsung tersenyum. "Ibu, aku tahu dulu aku mencintai Radit, tapi kini, aku sangat mencintai suamiku.
Dia memperlakukanku dengan baik, bahkan aku tidak pernah kesusahan dengannya.
Menikah dengannya membuatku merasa menjadi istri paling beruntung." Jawab Leora melegakan hati Anasta.
"Syukurlah kalau begitu, sekarang ibu tidak kuwatir lagi.
Pokoknya sayang, semuanya akan kembali seperti semula.
Identitasmu, karirmu, dan semuanya. Liona sudah berjanji pada ibu."
"Terima kasih Bu, aku mencintai Ibu." Ucap Leora lalu kembali memeluk ibunya.
@Info.
__ADS_1
Tolong katakan kalo ada typo, ini dibuat buru-buru... maaf ya....