Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
BAB 187. Kembali di jebak


__ADS_3

Liona memegangi perutnya yang masih datar dan tertunduk meneteskan air mata.


"Aku tidak menyangka akan menjadi orang pertama yang memberikan cucu pada keluarga Casiora, dan juga menjadi orang yang memberikan cucu pada keluarga suamiku." Ucap Liona menuntun Radit berpikir bahwa anak mereka akan menjadi pewaris pertama dari kedua keluarga.


Dengan begitu, meski keluarga Radit sangat malu dengan perbuatannya, mereka masih tetap akan memaafkannya karena anak yang menjadi cucu pertama dari kedua keluarga besar.


Benar saja, apa yang dikatakan Liona langsung mempengaruhi Radit dan keluarganya.


"Benar, anak ini anugrah terindah," ucap Radit kini berpikir jauh ke depan.


Suatu saat anak mereka akan mendapat posisi yang bagus di keluarga Casiora karena merupakan cucu pertama.


Dengan begitu, ia bisa menggabungkan dua keluarga dan bisa sejajar dengan Angkasa.


Dengan sedikit usaha lebih keras, ia bahkan bisa menyaingi Angkasa lalu memandang rendah perempuan yang sudah menghinanya, Leora!


"Selamat atas kehamilan Adik." Ucap Leora.


"Terima kasih Kak, selamat juga karena Kakak akan menjadi seorang tante." Ucap Liona tersenyum sambil meneteskan air matanya.


Setelah lama berada di kamar rawat Liona, kedua orang tua Radit akhirnya berpamitan untuk pulang.


Radit pergi mengantar kedua orang tuanya.


Ayah Radit menghela nafas lalu berhenti dan berbalik menatap putranya yang mengikuti mereka.


"Apa anak didalam perutnya itu milikmu?" Tanyanya.


"Apa maksud Ayah?" Tanya Radit.

__ADS_1


"Hmm, sebenarnya Ayah sangat tidak setuju kalau kau tidak jadi bercerai dengannya.


Apa yang sudah ia lakukan membuat nama keluarga kita direndahkan oleh banyak orang.


Tapi karena saat ini dia mengatakan dia mengandung anakmu, maka ayah dan ibu akan mempertimbangkan hubungan kalian.


Bagaimanapun, anak yang dikandungnya adalah cucu pertama dari keluarga Casiora jadi dia akan menjadi cucu yang akan menerima warisan terbesar.


Tapi jika dia benar-benar bukan anakmu, maka tidak ada untungnya mempertahankan bayi itu dan ibunya!"


Radit berdiri mengingat malam pertamanya dengan Liona.


Yang ia ingat mereka minum bersama lalu Radit mulai menciumi perempuan itu sebelum menggendongnya ke kasur, keduanya sudah polos tanpa sehelai kain Sampai akhirnya dia terlalu mabuk dan tidak mengingat kejadian berikutnya.


Tapi yang membuatnya yakin adalah saat ia bangun di pagi hari, ia mendapati noda darah di seprei, bahkan beberapa mengering di kulitnya.


Tidak ada alasan bahwa itu bukanlah darah kegadisan Liona.


"Bagus, kalau begitu, kembalilah dan temani istrimu."


"Baik Ayah." Jawab Radit sebelum kembali.


Sementara di kamar yang baru saja ditinggalkan oleh Radit, seorang perawat masuk untuk memanggil wali Liona.


Anasta merasa enggan untuk meninggalkan kedua putrinya. Bagaimana kalau Leora kembali menyakiti adiknya? Apalagi mengingat Liona kini hamil cucu pertama Casiora?


"Ibu, pergilah, lagipula di sini ada kakak yang menemaniku." Ucap Liona.


Akhirnya, Anasta tidak punya pilihan lain selain meninggalkan kedua anak kembarnya itu.

__ADS_1


Leora duduk di sofa yang diletakkan agak jauh dari tempat tidur.


Sementara Liona, perempuan itu memandangi Leora.


"Kakak, aku haus, tolong ambilkan aku minum." Ucap Liona tiba-riba.


"Baiklah," jawab Leora lalu dia segera pergi ke belakang mendapatkan air putih untuk Liona.


"Kak, ada tempat air yang selalu digunakan ibu untuk memberi minum. Dapatkah mencarikan itu, air itu air herbal yang disiapkan Ibu." Ucap Liona.


Leora mengangguk lalu ia kembali ke belakang untuk mencari tempat air yang dimaksud Liona.


Leora mendapatkan tempat air itu di rak paling atas dan membukanya untuk melihatnya. Benar, baunya seperti obat herbal.


Setelah memastikannya, Leora kembali menghampiri Liona dan menyerahkan tempat air minum itu.


"Terima kasih Kak." Ucap Liona.


"Minumlah," kata Leora kembali duduk di sofa.


Tapi,, Liona tidak meminum air yang diberikan oleh ora melainkan perempuan itu hanya memegangnya di tangannya dan menatap ke dalam botol.


"Ini hadiah terakhirku untuk Kakak. Semoga Kakak suka." Ucap Liona mengambil sebuah kotak dari tas yang dibawa Anasta untuknya.


"Apa ini?" Tanya Leora saat ia mengambil kotak hadiah itu.


Liona tidak menjawab, ia langsung meneguk airnya sampai habis lalu memberikan botolnya pada Leora.


"Ini Kak, tolong bantu aku mengembalikannya ke tempatnya." Kata Liona.

__ADS_1


Leora mengeryit, detik berikutnya, ia melihat Liona kejang-kejang di atas tempat tidur. Perempuan itu kembali menjebaknya!


Dengan cepat, Leora menekan tombol darurat sebelum menghubungi Angkasa.


__ADS_2