
"Hati-hati di jalan!" Seru Gina mengantar kepergian Leora dan Angkasa.
"Kenapa berubah pikiran? Mengapa tidak jadi membawa Giang?" Tanya Angkasa yang sedang merangkul istrinya sambil memasuki lift.
"Tidak, kemarin malam bayiku memberitahuku kalau aku tidak boleh memiliki kesayangan lain selain dia." Jawab Leora sambil mengelus perutnya yang masih datar.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu." Ucap Angkasa yang kini merasa lega karena gagalnya Giang menjadi saingan nya untuk mendapat perhatian dari Leora.
"Tapi sayang," Leora mengangkat wajahnya dan menatap suaminya.
"Ada apa? Kau mebutuhkan sesuatu yang lain?" Tanya Angkasa.
"Bayinya juga tidak mau berebut kasih sayang dengan ayahnya." Jawab Leora membuat Angkasa kehilangan kata-kata.
Baru saja ia merasa senang karena Giang yang tidak jadi bersaing dengannya memperebutkan perhatian Leora.
Tapi kini, bayinya sendiri lah yang mencegahnya mendapat perhatian dari istrinya sendiri!
"Uh,, sayangku, aku rasa anak kita tidak mungkin menginginkan hal seperti itu. Dia pas-"
"Tapi dia sendiri yang memberitahuku." Jawab Leora dengan wajah memelas.
"Bayi kita mengatakan apa?" Tanya Angkasa yang terlihat tak berdaya.
__ADS_1
"Aku dan bayi kita masih berada dalam satu tubuh jadi apapun yang ku pikirkan pasti berasal dari bayi kita.
Dan aku berpikir seperti itu, kalau bayi kita tidak mau berbagi kasih dengan ayahnya." Jawab Leora membuat Angkasa panas dingin.
"Lalu, lalu sayang,, apa yang harus kulakukan?" Tanya Angkasa merasa tak siap jika istrinya menginginkannya menjauh.
"Aku mau kita pisah rumah!" Ucap Leora membuat Angkasa bagai di sambar petir.
Masih lebih baik jika ia satu rumah dengan istrinya meski Giang berada di tengah-tengah mereka.
Tapi sekarang, pisah rumah?
Itu sama saja dengan membunuh Angkasa!
Begitu tiba di rumah Casiora, Leora langsung disambut oleh Tetua.
"Kakek!" Seru Leora langsung memeluk pria tua itu dan berjalan bersama ke dalam rumah.
"Kau jadi lebih sering kemari, apa terjadi sesuatu denganmu dan Angkasa?" Tanya Tetua.
"Tidak Kek, justru hubungan kami baik-baik saja.
Tapi perasaanku menginginkan kami berpisah. Mungkin bawaan bayi." Ucap Leora mengelus pelan perutnya.
__ADS_1
"Haha,, jadi karena cicitku. Ya sudah, Kakek tidak akan mempermasalahkannya lagi." Kata Tetua yang kini tersenyum begitu hangat.
"Iya Kek, kalau begitu, aku akan pergi menyapa ibu." Ucap Leora lalu berjalan ke kamar ibunya.
Begitu membuka pintu kamar, dilihatnya seorang perempuan sedang duduk diatas kursi roda dan memandang keluar jendela.
Perempuan itu ditemani seorang suster yang yang selalu menjaga Anasta.
"Ibu," Panggil Leora mendekati Anasta.
Sang suster langsung membalikan kursi roda Anasta hingga tatapan Leora dan Anasta bertemu.
"Ibu, bagaimana kabarmu?" Tanya Leora lalu berjongkok di depan kursi roda ibunya sembari memegang tangan kaku ibunya.
"B,,ba,,iiik" ucap Anasta langsung meneteskan air matanya.
Penderitaan anaknya disebabkan olehnya, membuatnya selalu merasa bersalah pada putrinya.
"Ibu, jangan menangis. Nanti cucu Ibu jadi sedih." Ucap Leora mengingatkan ibunya Kalau mereka tidak hanya berdua, tetapi ada seorang anak kecil yang ada di dalam perut Leora.
Anasta berusaha mengangguk dan menenangkan dirinya supaya tidak lagi menangis.
"Iya Bu, hari ini aku kan tinggal di sini. Kita bisa tidur bersama." Ucap Leora menyeka air mata Ibunya.
__ADS_1
Mendengar ia akan tidur bersama putrinya, Anasta merasa tenang, wajah perempuan itu menjadi berseri-seri hingga Leora tersenyum bahagia.