Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
BAB 49. Mengajari Anggara


__ADS_3

Semua orang masih mematung, tapi Angkasa seolah tak mau mengusir orang-orang itu.


Angkasa terus diam di tempatnya sambil menatap ke-13 orang yang terlihat di depan pintu.


Dia bagai seorang raja iblis yang sengaja membuat orang terus tertekan karena kehadirannya.


Seperti tatapan Angkasa adalah cara pria itu menghukum semua orang.


Selain 13 orang di depna pintu,masih ada 7 orang dokter yang berada di belakang ke-13 orang itu, mereka sangat penasaran dengan apa yang terjadi, tapi sudah tidak ada tempat bagi mereka untuk melihat ke dalam kamar.


"Apa yang terjadi?"


"Mengapa kalian semua diam? Apa sesuatu yang buruk sudah terjadi?"


"Tidakkah kalian memberi jalan bagi kami?"


"Kami juga penasaran." Bisik-bisik mereka membuat Angkasa semakin marah.


Sementara para dokter yang sedang menghadap Angkasa tidak berani mengatakan apapun untuk mencegah rekan-rekannya saling berbisik di belakang mereka.


Siapa yang berani bergerak di depan seorang raja iblis yang siap melemparkan mereka ke lubang neraka?


"Bisakah kalian pergi sekarang?" Ucap Leora yang sudah kepanasan di balik selimut tebal.


Tapi siapa yang berani mematuhi perintah Leora dan mengabaikan orang yang masih berdiri memandang mereka dengan tatapan mengintimidasi?


Merasakan keheningan yang berkepanjangan, Leora akhirnya mengerti lalu ia kembali berkata "Sayangku, bisakah kau mengusir mereka?" Kata Leora dengan manja.


Kata 'Sayangku,' langsung membuat Angkasa yang semula tetap berdiri dengan wajah bagai Raja iblis yang sedang marah, langsung melembut bagai seorang malaikat berhati mulia yang sedang memberi berkat.


"Pergi," ucap Angkasa seolah pria itu tak pernah marah sebelumnya.


Semua orang yang berada di pintu tidak berani mengatakan apapun lagi, mereka langsung mundur meninggalkan pintu kamar Angkasa.


Semua orang itu telah pergi, Leora mengintip dari balik selimut dan bertanya dengan nada manjanya "Sayangku, apakah selimut ini sudah bisa kusingkirkan?"


Angkasa tak mengatakan apapun. Ia hanya berjalan mendekati Leora dan menyingkap selimut itu sampai setengah badan Leora kelihatan.


Tubuh Leora penuh dengan keringat, sementara wajah perempuan itu terlihat memerah karena kepanasan di dalam selimut.

__ADS_1


"Ahh, itu menyejukkan." Ucap Leora merasa sangat lega.


"Ayo mandi." Kata Angkasa menarik Leora ke gendongannya lalu mereka memasuki kamar mandi.


Sementara semua orang yang baru saja meninggalkan kamar Angkasa langsung berbaris menghadap Anggara.


Anggara lama diam sebelum bisa bereaksi dengan benar.


"Kalian bolehh kembali." Ucap Anggara tak mau lagi memusingkan semua orang-orang itu.


Ia merasa sangat gerah dan panas, jadi dia langsung pergi ke dapur lalu mendapatkan sebotol air dingin dan langsung meneguknya sampai habis.


"Mau kopi?" Tanya Sain yang sedang menikmati segelas kopi di mini bar.


Anggara langsung mendekati Sain dan duduk di depan pria itu sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Ceritakan padaku sekarang!" Katanya sambil menggertakkan giginya.


"Ahhh,, maaf, ini memang salahku. Aku lupa memberitahumu bahwa setiap kali terapi dengan Angkasa, dia selalu tenang saat aku membahas Leora.


Tapi jangan menyalakan ku terlalu dalam, sebab aku sudah memberitahumu, namun kau tetap saja ngotot merusak pintu itu.


Bahkan anjing yang selalu patuh pun akan menggigit tuannya jika dia selalu ditekan." Ucap dokter Sain membuat Anggara hanya bisa menggertakkan giginya, lagi dan lagi.


"Baiklah,, tolong jangan seperti ini. Karena aku punya satu pertanyaan yang sangat penting yang perlu kau jawab." Ucap Sain dengan wajah tenangnya.


"Apa itu pertanyaan berguna?" Tanya balik Anggara yang tak mau meladeni dokter Sain jika tidak berhubungan dengan kondisi kesehatan Angkasa.


"Oh,, tentu saja. Aku memerlukan ini untuk mengetahui kesehatan angkasa." Ucap Dokter Sain.


"Katakan!" Ucap Anggara.


Dokter Sain tertawa dalam hatinya sebelum tersenyum dan berkata "Apa kau tahu berapa lama mereka melakukannya?"


Pertanyaan dokter Sain langsung membuat Anggara menatap pria itu dengan tajam.


"Hei,, ini alasan medis. Lamanya dia bertahan bisa menjadi penentu kesehatannya." Ucap Sain yang sebenarnya lebih penasaran tentang ketangkasan Angkasa di atas ranjang.


"Aku tidak percaya apa pun yang kau katakan!" Kata anggaran mendengus kesal lalu pria itu kembali ke lemari es untuk mendapatkan sebotol air dingin lagi.

__ADS_1


"Ahh, baiklah, aku menduga kau tidak mau mengatakannya karena durasi mu jauh lebih singkat daripada yang Angkasa miliki.


Kau menelponku pada pukul 17.20.


Aku tiba di sini pukul 18.00.


Sekitar 30 menit, lalu kita berdebat 7 menit di depan pintu. Ditambah waktu sebelum kau mengetahui hubungan mereka, mukin sekitar 10 menit. Jadi mungkinkah 50 menit?" Tebak dokter Sain mendapat respon datar dari Anggara.


"Tebakanku benar. Lalu, kau sangat panik di menit ke 10 hingga mebutuhkan dokter dan tukang kunci, di menit ke 40 kau semakin tidak sabar untuk mengetahui keadaan di kamar.


Di menit ke 50 kau semakin frustasi lalu tanpa mendengarkan saranku, kau memaksa masuk ke kamar.


Dari caramu, aku bisa memastikan kalau kau membaca situasi dari pengalaman pribadimu?


Jika benar, kau mungkin pernah melakukan kekerasan pada perempuan, jadi bisa ku tebak kepanikan mu di menit ke-40 karena-"


"Bisakah kau diam? Menebak seperti itu tidak bisa membuktikan fakta sesungguhnya." Bentak Anggara dengan kesal.


"Haha,, aku hanya ingin mengatakan kesimpulan akhir, kau kau tidak bertahan lama di ranjang.


Kau merasa iri pada Angkasa, jadi dalam hatimu kau tidak menerima durasi itu bukan?


Hahaha!!!" Sain tertawa keras membuat Anggara semakin jengkel.


"Dari mana kau mendapat kesimpulan seperti itu?!" Tanya Anggara yang merasa direndahkan sebagai lelaki.


"Aku seorang dokter, bukan dokter biasa yang bisa dibodohi.


Biar ku tebak, mungkinkah itu 10 menit? Kau bereaksi dimenit ke-10 'kan?" Lagi tanya Sain membuat Anggara semakin kesal.


Ia baru akan memarahi Sain, saat mereka melihat Angkasa menuruni tangga bersama Leora.


"Oppss, hukuman segera tiba." Ucap Sain sambil tersenyum menikmati wajah tegang Anggara.


'Semoga pelajaran ini cukup untuk Anggara.' Gumam Sain.


Yang nanya soal sampul, itu diganti sama pihak MT sendiri.


Jadi otor gak bisa ubah, maaf ya kalo kurang pas di hati para pemirsa.🙏

__ADS_1


__ADS_2