
Anasta yang melihat kepergian Angkasa dan Leora langsung berlari mengejar kedua orang itu.
"Sayang, kalian mau kemana?" Tanyanya.
"Kami akan kembali ke rumah Bu, di sini terlalu berisik untuk istriku beristirahat." Jawab Angkasa membuat Anasta tertegun karena memang sedari dulu semua putrinya menyukai ruangan kedap suara karena tidak suka di ganggu, itulah sebabnya kamar mereka masing-masing dibuat kedap suara.
Tapi kini, kamar milik Liona sudah digunakan oleh Luna, jadi kamar yang ditempati Leora dan Angkasa adalah kamar yang tidak kedap suara.
"Baiklah, kalau begitu, hati-hati di jalan." Ucap Anasta tidak mau lagi menahan kedua orang itu.
Ia hanya bisa memandangi kepergian kedua orang itu dengan perasaan bersalah.
Putrinya, Putri kandungnya sendiri sudah tidak menganggap rumah mereka sebagai rumah.
Rumah yang sudah ditempati Leora selama 20 tahun lebih untuk bertumbuh, sampai bisa menikah dengan Angkasa.
Liona langsung menghampiri ibunya "Ibu, aku minta maaf, ini semua salahku.
Dari tadi aku terlalu fokus pada diriku sendiri sampai mengabaikan adik adik adik ipar.
Harusnya tadi-"
"Tidak perlu menyalahkan diri, Ibu juga terlalu senang, jadi ibu lupa keberadaan mereka berdua.
__ADS_1
Mereka pasti sangat sedih karena kita mengabaikan mereka." Ucap Anasta.
'Bu, bukan sedih karena diabaikan! Tapi dia sedih karena kecemburuannya padaku.
Ya iyalah! Siapa yang tidak sedih melihat kekasih yang dicintai sudah bertunangan dengan orang lain dan bahkan dirinya sendiri malah mendapatkan pria miskin yang menyiksanya habis-habisan!' Gumam Liona merasa sangat puas.
Tapi detik berikutnya saat ia menoleh ke sampingnya, Liona kembali menggertakkan giginya saat mendapati Radit memandang kearah mobil yang sudah pergi.
'Sial! Apakah Radit kembali terpukau dengan Leora?! Ini mengesalkan!' gerutu Liona dalam hati.
"Sudah, jangan berdiri di sini, semua keluarga menunggu kita di dalam.
Ibu yang akan berbicara dengan adik kalian nanti, sebaiknya acara ini tetap berlanjut seperti tidak terjadi sesuatu." Ucap Anasta dijawab anggukan Liona lalu ketiga orang itu kembali memasuki rumah.
Sementara Angkasa yang menyetir, pria itu terus menggertakan giginya dengan tatapan kelam menatap jalanan sembari bergantian menatap istrinya.
Perasaan kacaunya membuat tangannya tidak mau bergerak untuk menyeka airmata Leora yang dijatuhkan untuk pria lain.
'Pria itu! Aku akan menghancurkan mu!' gumam Angkasa penuh amarah.
Mobil terus melaju sampai mereka akhirnya tiba di rumah mereka, lalu Angkasa menggendong Leora dan membaringkan perempuan itu di atas tempat tidur.
Sambil menahan kegeramannya, Angkasa meraih tisu dan menyeka airmata Leora.
__ADS_1
Begitu angkasa selesai menyeka airmata Leora, air mata yang lain keluar lagi dari sudut mata Leora membasahi wajah perempuan itu.
Angkasa benar-benar terbakar api cemburu! Dia tak bisa menahan dirinya lalu dengan cepat Angkasa menurunkan kepalanya dan membungkam bibir Leora.
Ia menyelipkan lidahnya ke dalam mulut istrinya lalu mencari lidah perempuan itu dan menggigitnya dengan keras.
Leora tersentak dan memberontak dalam ketidaksadarannya.
Puas di sana, Angkasa menuruni leher Leora dan meninggalkan tanda-tanda besar kepemilikannya di sana.
'Kamu milikku!'
'Kamu milikku!'
'Leora milik Angkasa!' Angkasa terus bergumam sembari menjelajahi tiap inci kulit Leora hingga akhirnya kegeraman kembali memenuhi dirinya.
Bayang tatapan Leora yang ditujukan ke Radit dan Liona membuatnya tanpa sadar mengigit kulit Leora hingga berdarah.
Leora terlihat mengeryit dan tangannya secara spontan mendorong wajah Angkasa hingga pria itu baru sadar bahwa dia telah melukai istrinya.
Tapi detik berikutnya, Leora kembali tertidur dengan air mata kembali mengalir di pipinya.
Angkasa merasa bersalah karena sudah melukai istrinya, tapi ia juga masih merasa geram saat melihat air mata Leora.
__ADS_1
Dengan kemarahan yang di tekan, Angkasa hanya bisa meninggalkan istrinya supaya dia tidak melukai Leora terlalu jauh.