
Semua peralatan telah tersedia, Leora juga sudah siap di posisinya. Ia memerankan Gita, seorang perempuan yang menjadi kawan lama dua pemeran utama.
Syuting pertama mereka iaalah adegan masa lalu pemeran utama Silvia dengan Gita.
Silvia diperankan Liona, Gita diperankan Leora.
"Adegan pembuka antara dua bersaudara. Sang kakak model internasional dan adiknya model pemula."
"Ini akan menarik! Tapi aku rasa si adik akan kalah tepak."
"Tidak, aku rasa adegan ini akan berjalan lancar, Leora yang baik hati pasti akan membantu adiknya."
Orang-orang di lokasi syuting merasa bersemangat dengan adegan pembuka yang dipilih oleh sutradara.
"Action!" Teriak sutradara Salios membuat dua perempuan yang sudah siap pada posisinya langsung memasuki peran mereka masing-masing.
"Silvia, sahabatku terkasih, cinta itu seperti api, ia akan menghangatkanmu kalau nyalanya tepat.
Tapi jika berlebihan dia akan menghanguskanmu!" Ucap Gita memandang pada sahabatnya.
"Tapi Gita, nyala apinya sudah menyatu dengan tubuhku, jika harus memadamkannya, aku harus menenggelamkan diriku." Ucap Silvia dengan nanar.
"Aku yakin kamu bisa, lelaki yang berani menyakiti perempuan tidak bisa terus berada di sisimu!" Lagi kata Gita dengan tatapan menembus pikiran Silvia hingga tiba-tiba bleng.
"Aku,, apa,"
"Cut!!" Teriak sutradara Wlios saat Liona menlakukan kesalahan.
"Kakak, ada apa?" Tanya Leora berpura-pura tidak melakukan apa pun.
__ADS_1
"Kau!" Suara Liona tercekat memandangi Leora.
Ia tidak tahu, tapi entah kenapa barusan ia melupakan baris percakapan mereka.
"Leora, apa kau baik-baik saja?" Tanya Salios saat ia juga terkejut. Itu percakapan sederhana, tidak mungkin Leora membaut kesalahan.
"Ya, maafkan saya. Bisakah kita mengulanginya?" Ucap Liona berusaha menenangkan diri.
"Baiklah." Jawab Salios lalu mereka mulai mengambil gambar kedua.
Gita: "Aku yakin kamu bisa, lelaki yang berani menyakiti perempuan tidak bisa terus berada di sisimu!"
"Aku,, ak,"
"Cut!" Teriakan kedua Salios membuat Liona begitu grogi di tempatnya.
"Kak, hapus keringatmu." Ucap Leora dengan wajah cemas.
"Terima kasih." Kata Liona menatap Leora penuh kemarahan.
Leora bwepura-pura tunduk memperbaiki sepentunya lalu berkata dengan pelan "Jangan memarahiku, ada banyak orang di sini."
Liona masih akan berbicara saat Radit datang menghampiri mereka.
"Sayang, ayo istirahat sebentar." Katanya membantu Liona berdiri.
"Tapi, sutradara,"
"Aku sudah beebicara dengannya." Kata Radit memandang pada Leora.
__ADS_1
Ia tahu, ketidak mampuan Liona melanjutkan naskah semua karena tekanan dari Leora.
Ia pernah melihat perempuan itu menggunakannya, saat seorang perempuan ketahuan merayunya saat mereka masih berpacaran!
Kalau ia tidak segera berbicara dengan sutradara, Liona akan membuat kesalahan sampai beepuluh-puluh kali.
"Tolong jaga kakakku." Ucap Leora sebelum berpisah dengan mereka.
'Dia masih terlalu pucuk di industri hiburan, jadi sedikit saja kemmapuanku untuk menekannya, ia sudah tidak bisa melanjutkan syutingnya.
Tapi Radit, dia pasti tahu aku melakukannya, hmmm dia dengan cepat mengambil tindakan!' Gumam Leora kembali duduk di kursinya sambil mendengar bisikan gadis-gadis.
"Aku tidak percaya Leora melupakan baris percakapannya."
"Kau benar, dia bahkan melakukannya di depan adiknya. Sangat memalukan untuk seorang senior tingkat internasional."
Sementara Radit, dia memberi air putih pada Liona.
"Sayang, kau baik-baik saja?" Tanya Radit cemas.
"Ya, aku hanya kaget." Jawab Liona.
"Tidak apa, awal syuting memang biasa seperti ini." Radit menenangkan Liona.
'Ya, itu benar, ini karena aku pertama kalinya syuting.
Tapi mengapa aku merasa tatapan Leora seolah menekanku?
Dia memberi tatapan aneh padaku!' Gumam Liona merasa tidak yakin.
__ADS_1