
Liona mengunci pintu kamarnya dan bolak-balik memegang ponselnya, dia tidak mungkin menghubungi Tetua di larut malam seperti itu.
"Apa yang harus kulakukan?" Ucapnya dengan gelisah sambil mengeratkan genggaman pada ponselnya.
"Leora?!" Tiba-tiba saja suara Bambang terdengar diikuti suara ketukan pintu.
Liona mengabaikannya, ia dengan cepat memeriksa kontaknya.
"Leora!!" Terdengar suara dari luar semakin keras dibarengi pintu yang di gebuk berkali-kali.
Liona menghela nafasnya lalu berjalan ke arah pintu dan membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, Bambang langsung masuk ke kamar Liona dan mengunci rapat pintunya.
"Berikan ponselmu!" Ucap Bambang langsung merebut ponsel dari Liona.
Pria paruh baya itu bernafas lega saat melihat riwayat panggilan Liona.
"Ayah keterlaluan! Ayah membawa selingkuhan Ayah ke rumah dan berbuat mesum di bawah atap yang sama di mana ibu tinggal!
Tidak tahuka Ayah kalau Ibu sangat menderita dengan penyakit jantungnya?!
Kalau ibu sampai tahu Ayah bermain api dengan anak angkat ayah sendiri, Ibu tidak akan bertahan lebih lama!" Ucapan Liona penuh kemarahan memandangi ayahnya.
"Leora sayang," Bambang melembutkan suaranya dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh anak perempuannya itu, tapi Liona langsung mundur beberapa langkah.
"Jangan sentuh aku dengan tangan yang baru saja Ayah gunakan pada perempuan ****** yang ayah pelihara!" Ucap Liona dipenuhi amarah.
__ADS_1
"Baiklah. Ayah tidak akan berusaha membujukmu, tapi kau harus tahu kalau sampai masalah ini didengar oleh ibu dan kakekmu, mereka akan jatuh sakit.
Kalau kau tidak bisa menahan dirimu, keluarga kita akan kehilangan 2 orang yang menyayangimu!
Dan saat itu tiba, jangan berharap kau akan mendapat apapun dari keluarga kita!" Ucap Bambang dengan geram sebelum meraih gagang pintu untuk keluar dari kamar Liona.
"Tunggu! Maksud Ayah, Ayah sedang menunggu kakek dan Ibu tiada supaya Ayah bisa bersenang-senang dengan selingkuhan Ayah dan melupakan anak Ayah?!" Tanya Liona sambil mengepal erat tangannya.
Bambang berhenti "Kalau kau sudah tahu, Jangan beetanya lagi!
Tapi jika kau mau terus berada di keluarga ini dan mendapatkan warisan, sebaiknya tutup mulutmu!" Lagi kata Bambang sebelum meninggalkan kamar Liona.
"Brengsek!" Umpat Liona penuh kemarahan.
...
Leora bangun kesiangan, begitu turun dari kamar, ia mendapati semua orang sedang berkumpul di meja makan.
Gina duduk menikmati sarapannya, sementara Anggara dan Angkasa membahas pekerjaan mereka.
"Maaf, aku kesiangan." Ucap Leora.
"Tidak masalah. Duduklah." Kata Gina dengan wajah ramahnya.
Sementara Anggara yang sedang menjelaskan sebuah proyek, langsung berhenti saat ia menyadari Angkasa sudah tidak fokus pada pembicaraan mereka.
Pria itu sedang menatap lekat istrinya.
__ADS_1
'Astaga, pria ini benar-benar membuatku mati bernafas!' pikirnya dalam hati sambil melirik istrinya dan Leora yang sedang fokus makan.
"Sayang," tiba-tiba ucap Angkasa dengan wajah meredup.
"Hm,, ada apa?" Tanya Leora.
"Kau belum memberiku ucapan selamat pagi." Kata Angkasa membungkam semua orang di meja makan.
Pria itu mengabaikan pekerjaan demi sebuah ucapan selamat pagi?
'Kemana pria gila kerja yang selama ini menyiksaku?
Apakah dia sudah berubah menjadi pria bucin dan mengesampingkan urusan pekerjaan?' Gumam Anggara.
"Uhh, sayang, bukankah kalian sedang membahas pekerjaan? Aku tidak mau mengganggu kalian." Kata Leora melirik Angkasa dan Anggara secara bergantian.
'Iya! Itu sangat benar! Angkasa lah yang tak bisa mengerti keadaan.' pikir Anggara.
"Aku mau ucapan selamat paginya di kamar." Lagi kata Angkasa membaut pipi Leora memerah dengan cepat.
"Baiklah. Kalian bisa melakukan apa pun setelah sarapan. Sekarang, biarkan aku melanjutkan laporanku." Ucap Anggara tidak mau menderita karena sikap manja Angkasa.
Angkasa terlihat keberatan, tapi Leora langsung memberinya kedipan mata hingga membuatnya merasa tenang.
Anggara dan Gina yang melihat kejadian itu hanya bisa menghela nafas.
'Pagi yang dipenuhi aroma busuk kemesraan Angkasa dan Leora!'
__ADS_1