
"Sayang," Leora sangat cemas saat Angkasa kembali keluar dari kamar mandi dan wajah pria itu semakin pucat.
"Aku baik-baik saja." Ucap Angkasa berusaha tersenyum sembari berjalan ke arah tempat tidur dan membaringkan tubuhnya.
Dengan wajah cemasnya, Leora mengelap keringat yang sudah membasahi rambut pria itu.
Setelah memastikan semua keringat Angkasa telah dibersihkan, Leora kemudian meraih bubur yang sudah disiapkan.
"Makanlah sedikit bubur. Ini akan membantumu merasa lebih baik." Katanya dijawab senyuman kikuk oleh Angkasa.
"Maaf, sebenarnya makanan yang kau makan tadi memang sengaja kuberi cabai terlalu banyak.
Aku salah, aku minta maaf, tapi bubur ini benar-benar kumasak dengan baik." Kata Leora saat ia melihat pria di depannya begitu ragu-ragu untuk menerima suapan darinya.
"Berikan buburnya." Ucap Angkasa membuat Leora yang tertunduk langsung melihat Angkasa lalu dengan perasaan bersalah ia menyuapi Angkasa.
Angkasa menghabiskan semangkuk bubur dari Leora.
"Terima kasih sayang." Katanya kemudian.
Leora tidak menjawab apapun dan hanya naik tempat tidur lalu berbaring di samping Angkasa.
"Ini semua salahku. Harusnya aku tidak bersikap kekanakan." Ucap Leora.
"Naik ke sini." Kata Angkasa membuat Leora kebingungan.
"Kemana?" Tanyanya.
__ADS_1
"Sini," Angkasa menarik Leora ke atas tubuhnya.
"Lho, sayang,, kau baru saj-"
"Ini hangat." Angkasa memotong ucapan Leora membuat Leora baru sadar kalau sekujur tubuh pria itu terasa sangat dingin.
"Aku mau tidur seperti ini." Lagi kata Angkasa menarik kepala Leora supaya bersandar di lekukan lehernya.
Leora tak menolak, ia menikmati pelukan hangat itu dan mulai memainkan telinga Angkasa dengan jari-jari lentiknya.
Sementara Angkasa menikmati aroma rambut Leora.
"Sayang, aku minta maaf. Rumor tentang perempuan itu tersebar karena saingan bisnis.
Mereka memanfaatkan perusahaan penerbit kecil untuk menyebarkan rumor.
Kau tahu keluarga Ruana? Calista Ruana." Ucap Angkasa membaut Leora sangat terkejut.
"Tunggu, bukankah nama lengkap Calista adalah Calista Sinaga?" Ucap Leora yang memang mengenal Calista dengan baik.
Itu karena dulunya mereka berada pada satu Agensi, yaitu Angkasa Raya.
Tapi karena Leora memilih menjadi model, maka mereka berdua jarang sekali bertemu.
Namun keduanya memiliki posisi yang sangat kuat di perusahaan.
Dan semua orang di perusahaan memang mengetahui bahwa Calista mendapat perlakuan sangat khusus dari agensi.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu alasannya, tapi ternyata, keluarga dibelakang Calista menjadi alasan kuat.
"Tidak banyak yang tahu karena perempuan itu memang menyamar menjadi orang biasa, dia tidak mau terlibat dengan perebutan kekuasaan di keluarganya.
Keluarga mereka menjadi sala satu partner bisnis perusahaan, jadi secara diam-diam mereka menginginkan pihak perusahaan sepenuhnya memberi dukungan pada Calista." Lagi cerita Angkasa.
"Aku mengerti. Itu sebabnya dia tidak pernah takut saat semua orang memujinya sebagai kekasih tersembunyi mu." Ucap Leora yang memang tahu peristiwa itu.
Tapi selama ini, tidak ada yang membocorkan rahasia itu pada wartawan. Karena Angkasa Raya sangat menentang adanya gosip di dalam perusahaan tersebar keluar.
"Kau tahu, tapi kenapa tidak pernah membahasnya?" Tanya Angkasa.
"Karena aku tahu, itu hanya obsesi Calista. Tapi aku menjadi sangat marah saat beritanya diberitakan ke publik tapi kau tidak berusaha mencegahnya.
Setengah hari adalah waktu yang panjang!" Ucap Leora yang menyalahkan Angkasa karena tidak bertindak cepat.
"Maaf sayang, aku perlu waktu lebih lama untuk melacak pelaku yang sebenarnya. Lain kali, aku tidak akan membiarkannya."
"Aku tahu. Yang penting semuanya sudah terselesaikan." Ucap Leora merasa lega.
"Makasih Sayang." Lagi kata Angkasa sambil memberi sebuah ciuman besar di puncak kepala Leora.
"Apa perutmu sudah mendingan?" Tanya Leora saat kembali ingat sakit perut Angkasa.
"Mmh, sepertinya aku perlu ke kamar mandi." Ucap Angkasa membuat Leora langsung turun dari tubuh pria itu.
Angkasa langsung berlari ke kamar mandi. Sementara Leora memandangi pria itu dengan cemas.
__ADS_1
"Aku sudah berdosa pada suamiku." Ucapnya merasa bersalah.