Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
BAB 50. Siksaan dari Leora


__ADS_3

Ruang makan.


Leora duduk dengan canggung. Tentu saja karena ia merasa malu pada dua orang pria nyempil di ruangan itu.


Kejadian di kamar begitu memalukan hingga ia tidak tahu harus bagaimana menyikapi dua orang itu.


"Wahh, ini pas sekali. Aku belum makan malam." Ucap Sain langsung duduk di hadapan Leora.


Angkasa yang tak suka dengan kelakuan Sain langsung memberi tatapan peringatan pada pria itu.


'Tidak bisakah kalian berdua pergi dari sini dan biarkan kami berdua menikmati makan malam kami?!'


Mengerti dengan tatapan Angkasa, Sain merasa direndahkan sebagai seorang dokter.


Apa lagi pelakunya adalah pasiennya sendiri, ya meski Angkasa memang bos besar tapi tetap saja ada hubungan pasien dan dokter.


Lagipula, ia masih harus bertahan di apartemen itu untuk melihat bagaimana Angkasa menangani seorang Anggara yang sudah merusak momen berharga mereka.


"Ah,, bukankah seorang pasien harusnya memperlakukan dokternya dengan sopan. Ini,,-" Sain menghentikan ucapannya saat melihat Leora yang awalnya duduk mengacuhkan semua pria di sana akhirnya mulai menunjukkan wajah kesal karena Sain kembali memancing amarah Angkasa.

__ADS_1


"Bisakah kita makan dengan tenang?!, . Anggara, silahkan duduk juga." Ucap Leora membuat Anggara menelan air liurnya bagai menelan setumpuk tulang ikan.


"Tapi Nyonya, sa-"


"Kau ingin membahas masalah tadi?" Ancam Leora membuat Anggara tak punya pilihan selain duduk di smapaing Sain.


Kursi di ruang makan dialas dengan gabus tebal yang sangat nyaman duduki. Tapi bagi Anggara, kursi itu seperti tungku api yang diberi alas paku lalu diduduki. Panas dan menusuk!!


"Sayang, ini makanlah." Ucap Leora menaruh beberapa makanan di piring Angkasa.


"Kau juga makanlah." Angkasa membalas Leora dengan menaruh beberapa makanan di piring perempuan itu.


"Kau mau jus atau air putih?" Lagi tanya Angkasa.


"Biar kupotongkan dagingmu." Lagi kata Angkasa mengambil piring Leora dan memotong daging milik Leora.


Setelah daging itu dipotong kecil-kecil Angkasa lalu menyuapi Leora.


"Kau juga, makanlah," kata Leora mengambil sepotong daging dari piringnya dan menyuapi Angkasa.

__ADS_1


Sain yang tepat berada di depan kedua orang itu hanya bisa menahan mualnya yang hendak keluar.


Mereka disuruh duduk bukan untuk menikmati makan malam, tapi sebuah pertunjukan kemesraan!


"Ehemm... Tiba-tiba, aku ada urusan mendesak. Kalian nikmatilah makan malam ini, aku akan pergi sekarang." Ucap Sain langsung berdiri dan meninggalkan apartemen itu.


"Ck,, ck,, aku pikir Anggara adalah orang terkejam di dunia ini, ternyata Leora jauh lebih kejam.


Dia sengaja menyuruhku duduk untuk makan bersama mereka supaya dia bisa mempertontonkan kemesraan mereka padaku.


Hah,, kalau tahu seperti ini, sudah dari tadi aku menuruti Angkasa yang mengusirku dari apartemennya!


Sekarang aku jadi tidak punya kesempatan untuk menikmati penderitaan Anggara." Gerutu Sain saat ia sudah keluar dari apartemen Angkasa.


Sementara pria itu meninggalkan apartemen, Anggara yang masih duduk bersama dua orang yang sedang bermesraan hanya bisa duduk mematung menikmati siksaan batin yang diberikan padanya.


"Kenapa kau tidak makan? Makanlah." Ucap Leora saat ia menyadari kalau mereka sudah mengabaikan seekor nyamuk yang mereka undang untuk melihat pertunjukan mereka.


Lidah Anggara begitu keluh, dia tak mampu menjawab Leora dengan kata-kata.

__ADS_1


Jadi Anggara hanya mengambil garpunya lalu mulai memasukkan sepotong demi sepotong sayur pahit ke dalam mulutnya.


Ia tahu, itu hanya permulaan, hukuman yang sebenarnya adalah saat Leora pergi.


__ADS_2