
Leora sudah menunggu selama 15 menit tapi kedua orang yang sedang berbicara belum berpisah juga.
'Rencanaku akan berhasil kalau aku menghubungi Sutradara Salios sekarang.
Tapi aku tidak punya nomornya, juga, Meta pasti tidak akan memberikan ku nomor Sutradara Salios.' Gumam Leora berusaha berpikir keras sebelum mengambil ponselnya dan menghubungi Anggara.
"Nyo, nyonya." Ucap pria dari seberang telpon dengan suara terbata-bata.
Dia sedang tegang karena baru saja menyampaikan informasi kartu kredit Leora pada Angkasa.
Pria itu mengamuk dengan hebat sampai lupa caranya berbicara!
"Ada apa denganmu? Mengapa kau terdengar gugup?" Tanya Leora.
"Tidak Nyonya. Apa yang bisa saya bantu?" Lagi suara Anggara menjawabnya, namun kini suara pria itu sudah terdengar normal.
"Ahh, Aku ingin meminta nomor sutradara Salios. Tolong bantu aku mencarinya." Ucap Leora.
"No,, nomor sutradara Salios? Untuk apa Nyonya?" Suara Anggara terdengar gugup lagi.
"Ada apa denganmu? Sejak kapan kau menjadi sangat ingin tahu pada urusan perempuan?" Leora mengeryit, merasa ada sesuatu yang ganjil dengan pria itu tapi dia tidak mau memikirkannya lebih jauh.
"Baik, akan saya kirimkan sekarang." Lagi jawab Anggara sebelum panggilan itu diputuskan.
"Ada apa dengannya?" Ucap kleora memandangi layar ponselnya yang sudah meredup.
Tapi 2 detik berikutnya, sebuah pesan singkat masuk di ponselnya memperlihatkan nama Tuan Salios diikuti oleh deretan angka.
Leora langsung menyalin kontak itu dan menghubunginya.
__ADS_1
Sambil menghubungi kontaknya, Leora mengamati 2 orang yang masih duduk di meja yang sama.
Tak berapa lama Salios mengambil ponselnya dan melihat layar itu beberapa saat sebelum mematikannya.
'Dia mematikan ponselku. Ini pasti karena nomor baru.' Gumam Leora langsung membuka kotak pesan dan membuat pesan baru yang di kirim ke nomor Salios.
Selamat pagi Tuan Salios, maaf menganggu waktu Tuan, saya Liona Atara, ingin berdiskusi dengan Tuan mengenai iklan WO.
Sebelumnya, terima kasih atas tanggapan Tuan.
Setelah mengirim pesan itu, Leora kembali menagamati Salios dan terlihat pria itu membaca pesannya sebelum lanjut berbicara dengan Liona.
"Leora, aku akan menelpon seseorang dulu." Pamit Salios pada Liona.
"Tidak masalah Tuan Salios." Ucap Liona membiarkan pria itu meninggalkannya.
Sementara Salios yang sudah menjauhi Liona langsung menghubungi nomor yang baru saja mengiriminya pesan singkat.
"Halo, Selamat pagi Tuan Salios." Leora dari seberang telepon langsung berbicara sembari mengamati Salios dari tempat dia duduk.
"Halo Liona. Kebetulan sekali, kau menelpon di saat yang tepat. Bagaimana? Apa kau sudah berbicara dengan manajer mu tentang tawaranku padamu?" Tanya Salios langsung to the point.
"Sebelumnya saya sangat berterima kasih pada Tuan karena sudah mau memberi kesempatan menjadi model utama.
Tapi, saya sungguh meminta maaf karena harus menolak tawaran Tuan.
Sewaktu audisi saya sudah mengatakan pada semua juri kalau saya datang untuk audisi peran pendamping, saya berharap Tuan mau mengerti."
"Hah, Baru kali ini aku mendapat seorang model yang menolak tawaran terbaik seperti ini.
__ADS_1
Tapi kamu juga harus mengerti kalau kamu satu-satunya orang yang memenuhi kualifikasi sebagai model utama.
Aku harus menekankan bahwa kami mencari model terbaik dengan talenta terbaik, bukan tentang seberapa jauh pengalaman model itu di dunia permodelan.
Ini sangat bagus untuk meningkatkan karirmu dengan cepat.
Kesempatan tidak datang dua kali." Salios menjelaskan.
"Saya mengerti Tuan Salios, tapi, keputusan saya mengambil posisi sebagai model pendamping karena sebuah alasan pribadi yang tidak bisa saya beritahukan pada Tuan.
Sekali lagi saya harap Tuan mau mengerti." Lagi kata Leora membuat Salios terdiam beberapa waktu sebelum menghela nafas.
"Baiklah, jika itu menyangkut urusan pribadi maka aku tidak akan memaksamu.
Tapi yang jelas kau akan masuk ke dalam model pendamping, tapi tidak semudah itu.
Aku punya satu syarat untukmu." Lagi kata Salios setelah memikirkannya.
"Syarat apa itu Tuan?" Tanya Leora ragu-ragu.
"Aku akan memberitahumu setelah syuting iklan ini selesai.
Apa kau setuju?" Tanya Slaios.
Leora mengamati Salios dari jauh dan diam selama beberapa detik sebelum mengiyakan permintaan pria itu.
Setelah menutup telpon itu, Leora memindahkan tatapannya pada Liona yang masih duduk menunggu Salios.
'Semoga kamu lebih beruntung hingga tidak terpilih sebagai model utama.' Gumam Leora merasa kasihan pada adiknya.
__ADS_1