
Di dalam mobil menuju rumah.
"Yosi," ucap Leora menatap Yosi lewat spion dalam mobil.
"Ya Nyonya." Jawab Yosi mengalihkan perhatiannya dari jalanan.
"Apa sebelumnya kau pernah berhubungan dengan wanita?" Tanya Leora membuat Yosi menjadi gelisah di tempatnya.
Saat ini Yosi sudah berumur 28 tahun, tapi selama hidupnya, dia belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta karena tuntutan pekerjaannya yang menghalanginya untuk berkenalan dengan perempuan.
"Ahh, Maaf kalau aku menyinggung sesuatu. Abaikan saja ucapanku tadi. Tolong lewat di swalayan, aku harus membeli beberapa bahan makanan." Kata Leora mengalihkan pembicaraan membuat Yosi berusaha menenangkan diri.
Bagi pengawal seperti mereka, membahas wanita adalah sesuatu yang sangat tabu.
Setelah tiba di swalayan, Leora berbelanja bahan masakan sambil sesekali menggertakkan giginya.
"Hmm, haruskah aku membeli sekilo cabai?
Hmm, atau merica saja?" Ucap Leora yang sedang mengamati cabai dan juga merica yang diletakkan berdekatan.
Yosi yang berdiri di belakang Leora sambil membawa keranjang belanjaan hanya bisa merasa risih saat beberapa ibu-ibu memperhatikan mereka.
"Ya Ampun, lihat pasangan itu, aku jadi ingat waktu aku dan suamiku masih muda."
__ADS_1
"Kau benar, suaminya sangat perhatian. Sangat jarang seorang pria yang mau berbelanja bersama istrinya, apalagi menjadi seorang pendorong kereta belanja." Ucap mereka sambil tersenyum-senyum.
Meski Leora sedang fokus pada cabai dan juga merica, tapi dia mendengar percakapan dua ibu-ibu itu.
Hatinya yang sudah panas sejak meninggalkan dunia hiburan merasa lebih baik saat ia mendapat sebuah ide di kepalanya.
Ia kemudian mengambil cabai dan merica dan memasukkannya ke dalam keranjang belanja.
"Dalam sehari, berapa lama waktu untuk menjadi pengawal ku?" Tanya Leora sembari terus memilih beberapa bahan masakan.
"Selama yang Nyonya inginkan. Tapi saya selalu siap 24 jam." Jawab Yosi tanpa ada keraguan.
"Lalu kapan waktunya istirahat?" Tanya Leora dengan raut wajah kasihan pada pria itu.
"Kalau begitu aku membutuhkanmu sampai malam nanti.
Dan juga,, jangan berpakaian seperti itu lagi. Ayo pergi membayar lalu kita akan memilih beberapa stel pakaian untukmu." Kata Leora lalu mereka segera pergi ke kasir.
Setelah selesai berbelanja, Leora kembali ke rumah dan disambut oleh Bibi Kira.
"Nyonya,,,!" Teriak Bibi Kira merasa sangat rindu pada perempuan itu.
"Bibi, aku pulang." Ucap Leora sambil tersenyum merekah lalu ia langsung menarik Bibi Kira ke arah dapur.
__ADS_1
"Nya, siapa pria yang bersama Nyonya?" Tanya Bibi Kira sambil memperhatikan Yosi yang sedang mengangkat belanjaan Leora.
"Dia pengawal yang disiapkan Angkasa. Oya, aku akan memasak makanan untuk Angkasa.
Tolong bibi membantuku."
"Siap Nyonya!" Jawab Bibi Kira lalu mereka mulai membongkar belanjaan Leora.
Saat mereka sedang memasak, Bibi kira begitu terkejut saat Leora bertanya "Bibi, kalau membandingkan antara pedas nya merica dan cabai, mana yang paling ganas?"
"Eh?? Bukankah Tuan tidak suka pedas?" Tanya Bibi Kira.
"Bi, ini untuk sebuah percobaan." Jawab Leora sambil tersenyum.
"Percobaan apa Nya?"
"Bibi,, Tolong jangan bertanya lagi dan jawab saja mana yang paling cocok untuk sebuah balas dendam?" Lagi kata Leora.
"Ahhh, kalau begitu biar Bibi memberikan perbandingannya. Nyonya duduk saja di sana, Bibi tidak mau tangan Nyonya jadi panas karena menyentuh cabai." Ucap Bibi kira mengambil alih pekerjaan Leora.
Leora langsung menuruti Bibi Kira dan duduk di kursi sambil memainkan ponselnya.
'Calista, lihat saja nanti, aku akan mencabik mu hingga berkeping-keping! Beraninya menganggu Angkasaku!' gumam Leora memandangi berita di layar ponselnya.
__ADS_1