
Angkasa dan Leora baru saja tiba di rumah.
Mereka mandi bersama lalu makan malam dan naik ke tempat tidur untuk istirahat.
Keduanya masih saling berpelukan saat ponsel Leora berdering.
Dengan malas, Leora melepaskan pelukan yang nyaman itu lalu meraih ponselnya.
"Halo," Jawab Leora sembari bergeser untuk kembali ke pelukan Angkasa.
"Cucuku," 1 kata dari seberang telepon dengan nada kesedihan membuat Leora tertegun.
"Kakek,," ucap Leora langsung mengenali pemilik suara itu.
"Bagaimana kabar Kakek?" Tanya Leora dengan mata berkaca-kaca sambil menatap pada suaminya.
Angkasa tahu bahwa Leora sangat merindukan Kakeknya karena orang tua itu memperlakukannya dengan sangat istimewa.
Ia bisa merasakan kesedihan istrinya, jadi dia memberi pelukan erat pada istrinya untuk menguatkan perempuan itu.
"Kakek baik-baik saja. Leora, maafkan Kakek. Kakek sudah bersalah padamu." Ucap pria tua itu membuat Leora tertegun.
"Le,, Leora? Kakek baru saja bilang Leora?" Tanya Leora tak percaya. Mungkin telinganya sudah salah dengar.
__ADS_1
"Ya,, Kakek tau ini kamu. Maafkan Kakek,," lagi kata Tetua membuat Leora menumpahkan seluruh air matanya.
Tak disangka, ternyata selama ini bukan hanya ibunya yang berpura-pura tidak tahu, tapi juga kakeknya berpura-pura tidak tahu tentang pertukaran Leora dan Liona.
Begitu mendengar tangis Leora, suara dari seberang telepon juga menjadi hening.
Seluruh tenaga yang dimiliki Leora hilang hingga ponselnya jatuh dan diambil oleh Angkasa.
Angkasa mengaktifkan pengeras suara.
"Sayang,, hikss,, hikss,,," Leora menangis dengan keras hingga 2 pria yang mendengar tangisan perempuan itu hanya bisa merasakan hati mereka di sayat-sayat oleh setiap isakan Leora.
Mengetahui bahwa istrinya tidak akan berhenti menangis dengan cepat, Angkasa segera berkata pada Tetua "Kakek, aku akan menelpon lagi nanti."
Panggilan itu di putuskan.
Selama 15 menit Leora terus terisak sampai perempuan itu kelelahan dan hanya diam dipelukan Angkasa.
Leora merasa lelah, bukan lelah secara fisik melainkan secara mental dan pikiran.
Hari ini, apa yang membuatnya paling menderita sudah terungkap satu per satu.
Jadi dia merasa kelelahan untuk menyiapkan diri menghadapi semuanya.
__ADS_1
"Sayang, tidurlah. Aku di sini bersamamu." Ucap Angkasa menepuk pelan punggung Leora.
"Mmmh,," Leora memejamkan matanya. Ia merasa sangat tenang dengan badan besar dan lengan kekar yang menjadi pelindungnya.
Menunggu sampai perempuan itu lelap dalam tidurnya, Angkasa mengambil ponselnya lalu pergi ke balkon kamar mereka dan kembali menghubungi Tetua.
"Kakek," ucapnya setelah panggilan itu terhubung.
"Hah... Kakek pikir bisa melarikan diri lebih lama dari masalah ini, tapi sepertinya tidak." Tetua mengehela nafas beberapa kali.
"Kakek jangan menyalahkan diri, aku tahu Kakek terlalu terbebani dengan masalah ini. Kakek sudah berusaha menahannya." Ucap Angkasa yang sepenuhnya mengerti dengan dilema Tetua.
"Angkasa, saat ini tidak ada lagi yang bisa percayai selain kamu.
Jadi Kakek memutuskan, kau akan mengambil alih jabatan CEO di Casiora.
Kakek harap kau bisa meninggalkan pekerjaanmu untuk keluarga Casiora." Ucap Tetua yang belum tahu identitas asli Angkasa.
"Kakek, ini sangat sulit bagiku. Kalau aku mengambil jabatan itu, mungkin saja istriku kembali terluka.
Aku pikir, Wakil CEO jauh lebih pantas untuk jabatan ini.
Dia adalah orang yang jujur dan merupakan orang terlama yang berada di sisi kakek." Ucap Angkasa.
__ADS_1
"Baiklah. Kakek tidak akan memaksamu. Kalau begitu, kakek akan menutup telponnya, kakek masih harus berbicara dengan pengacara." Jawab tetua sebelum panggilan itu selesai.