Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
BAB 63. Ngilernya Anggara


__ADS_3

Pagi hari pada pukul 06:30 Anggara sudah tiba di kediaman Angkasa untuk menjemput pria itu.


"Selamat pagi Tuan, silakan duduk dulu untuk menunggu. Tuan dan Nyonya belum bangun." Ucap Bibi Kira yang yang langsung menyambut Anggara.


"Terima kasih Bi." Jawab Anggara.


30 menit Anggara duduk sambil menikmati teh yang dibuatkan Bibi kira, Yosi akhirnya muncul dengan wajah sedikit pucat.


Anggara menatap pria itu selama beberapa detik sebelum berkata "Ada apa denganmu?" Tanyanya.


Yosi dengan sifat dinginnya hanya bisa membungkuk pada Anggara. "Bukan masalah besar."


'Hanya sebuah kesialan setelah keberuntungan.' Gumam Yosi mengingat perjuangannya kemarin malam sebagai tukang jaga toilet.


Setelah jawaban itu, Anggara tidak mengatakan apapun. Kedua pria itu duduk bersama menunggu dua orang yang masih lelap dalam tidurnya.


Leora baru bangun saat ponselnya berdering.


'Hmm, siapa yang menelpon di pagi buta?!' gerutunya dalam hati karena dia masih sangat mengantuk.


Kemarin malam dia tidak tidur dengan baik karena tidak tega tidur sendirian saat suaminya berjuang di kamar mandi.


Tapi ia terkejut saat membuka mata dan mendapati matahari sudah tinggi.


"Astaga, aku kesiangan!" Ucap Leora mengecek keadaan Angkasa sebelum meraih ponselnya.


"Halo Kak Meta." Jawab Leora pada orang di seberang telpon.


"Selamat pagi Liona. Bagaimana keputusanmu tentang 3 tawaran yang ku berikan?" Tanya Meta.

__ADS_1


"Aah, iya, aku memutuskan untuk mengikuti audisi WO." Jawab Leora.


"WO? Baiklah. Aku akan mengaturnya, tapi kau harus tahu, pihak WO jarang sekali memilih model pemula.


Apa lagi projec kali ini sudah menentukan Calista sebagai sala satu model mereka dalam syuting iklan.


Kau tahu kan, WO menggabungkan film dan foto untuk setiap iklan produk mereka." Ucap Meta yang cemas kalau Leora tak bisa berakting, sebab Leora masih begitu pemula.


"Aku mengerti. Aku akan berusaha keras." Ucap Leora yang sudah tahu tentang WO, karena sebelumnya, ia juga sudah pernah bekerja sama dengan mereka.


"Baiklah, pelajari baik-baik dan jangan lupa menyiapkan sendiri keperluanmu." Lagi kata Meta sebelum menutup telpon itu.


Setelah telpon itu, Leora langsung melompat dari tempat tidur dan berlari ke lantai bawah.


"Bibi!" Ucapnya.


Leora langsung berlari ke dapur.


Sementara 2 orang yang memperhatikannya hanya bisa terbengong dengan kelakuan Leora.


Perempuan itu berlari dari tangga dengan telanjang kaki.


Leora menggunakan piyama putih dengan panjang sampai mata kaki dengan rambutnya acak-acakan.


'Astaga, apakah Nyonya akan memasak lagi? Aku harap dia sudah baikan dengan Tuan.' Gumam Yosi dengan cemas.


Episode memasak di dapur berlalu dengan cepat lalu Angkasa dan Leora sudah berada di meja makan untuk sarapan bersama.


"Ini masakanmu?" Tanya Angkasa menikmati aroma makanan yang begitu menggugah seleranya.

__ADS_1


"Hmm, ini bagus untuk diaremu." Ucap Leora menaruh bubur di mangkuk Angkasa.


"Selamat pagi Tuan, Nyonya." Anggara tiba-tiba saja datang.


Pria itu terkejut melihat wajah Angkasa yang lebih pucat dari wajah Yosi.


'Apakah semalam terjadi sesuatu? Mengapa mereka berdua bisa pas-pasan berwajah pucat?' gumamnya.


"Oh, Anggara, duduklah dan sarapan bersama kami." Ucap Leora membuat Anggara merasa bersemangat.


Ia sudah sengaja pergi ke ruang makan untuk menyapa kedua orang itu karena ia mencium aroma masakan yang sangat enak.


Kebetulan dia lupa sarapan karena terburu-buru.


Tapi baru saja pria itu akan melangkahkan kakinya untuk bergabung bersama ketiga orang itu, ia langsung menarik kembali kakinya saat melihat tatapan peringatan dari Angkasa.


"Nyonya, saya sudah sarapan, saya kemari hanya untuk menyampaikan beberapa laporan penting." Ucap Anggara menahan air liurnya yang hendak menetes.


"Sayang sekali, padahal aku memasak cukup banyak.


Ini cukup untuk 3 orang. Oya, apa di sana ada Yosi? Tolong panggil dia supaya makan bersama kami." Kata Leora.


"Dia sudah makan." Langsung jawab Anggara yang tidak mau memancing amarah pria berdarah dingin di samping Leora.


"Aah, begitu ya."


"Bacakan laporanmu." Kata Angkasa sembari menikmati makanannya.


'Astaga,, dia benar-benar kejam. Mengatasnamakan pekerjaan untuk melupakan persahabatan!' Isak Anggara yang hanya bisa menelan air liurnya saat melihat Angkasa menikmati bubur buatan Leora.

__ADS_1


__ADS_2