
Tetua yang sudah mengetahui sifat asli Liona jelas tahu kalau perempuan itu sedang berusaha untuk menjebak Leora.
Bagaimana tidak, awalnya Liona datang dengan sebuah lukisan dengan harga fantastis.
Lalu kemudian dia mendesak kakaknya untuk memperlihatkan hadiah yang sudah disiapkan.
Sementara Leora, dia menikah dengan seorang pria yang memiliki pekerjaan yang tidak pernah sebanding dengan pekerjaan Liona maupun Radit.
Hal tersebut membuat Tetua semakin merasa sedih dalam hatinya hingga tidak bisa menyembunyikan lagi kesedihan yang terpancar lewat matanya.
"Ada apa?! Mengapa kau terlihat sedih?!" Tanya Sutrisno saat ia menangkap raut kesedihan di mata pria tua itu.
"Ayah,," Anasta pun mengeluarkan tangannya dan memegangi tangan tetua.
Melihat pergerakan Anasta, semua orang jadi sadar bahwa Tetua sedang memikirkan Putra sulungnya.
"Kakek, jangan sedih, di sini ada cucu Kakek yang selalu ada di samping Kakek." Ucap Leora kini menggenggam erat tangan tetua.
"Benar Ayah, meski ada yang pergi, Tapi tetap ada yang bertahan menemani Ayah.
Tolong jangan memikirkannya terus, kesehatan Ayah jauh lebih penting dari semua yang ada."
__ADS_1
"Hmm, dengar itu, semua orang memiliki noda hitam di dalam keluarga, tapi noda hitam itu hanya setitik noda yang seharusnya bisa ditutupi dengan penguatan satu sama lain." Kata Sutrisno meski apa yang dia katakan tidak bisa membuat Tetua menjadi lega.
Karena jauh didalam pikirannya, Tetua jelas tahu bahwa noda di keluarganya bukan hanya setitik, tapi mungkin lebih banyak dari yang dia perkirakan.
Tiba-tiba saja meja bundar itu dipenuhi kesedihan. Kecuali Liona yang kini menggerutu dalam hatinya.
'Sial! Mengapa pembahasan jadi beralih pada kasus ayah?! Kalau begini terus, bisa batal memperlihatkan hadiah dari Leora!' Gerutu Liona berusaha memutar otaknya.
"Kakek, semua orang disini datang untuk menyambut kakek.
Jadi khusus hari ini, tolong jangan memikirkan masalah di keluarga kita, apa yang berlalu biarlah tinggal di belakang.
Lihat, banyak orang datang membawa hadiah untuk Kakek, bahkan kita belum melihat hadiah dari adik Liona dan juga adik ipar.
"Benar yang dikatakan cucumu! Nah Liona! Cepat perlihatkan hadiahmu, Tetua pasti akan merasa lebih baik saat melihat hadiah yang diberikan oleh cucunya." Kata Sutrisno membuat Liona tersenyum kegirangan.
Sementara Tetua, dia hanya bisa memandang pada Leora dan Angkasa, dia gagal melindungi dua orang itu.
Karena apapun yang dilakukan lakukan tidak akan bisa mencegah Liona yang memang memiliki niat untuk mempermalukan Angkasa dan Leora.
"Leora tersenyum lalu memandang pada Angkasa.
__ADS_1
"Sayangku, di mana hadiahnya?" Tanya Leora.
"Masih ada di mobil." Jawab Angkasa.
Liona mengerutkan keningnya saat melihat pria itu malah mencari hadiahnya disakunya.
"Adik ipar bisa pergi mengambilnya, kami semua akan menunggu." Ucap Liona.
"Kalau begitu, aku permisi sebentar." Ucap Angkasa lalu pria itu meninggalkan tempat pesta.
"Jadi dia suamimu?" Tanya Sutrisno pada Leora.
Dalam hatinya Ia tidak menyangka kalau pria culun yang duduk di samping Liora ternyata adalah suami Leora.
Pria itu tidak tahu karena saat pernikahan Leora pria itu sudah tinggal di desa.
"Ya,, kami menikah sekitar setengah tahun yang lalu." Jawab Leora dengan wajah bahagia di penuhi kebanggan.
"Aah, begitu. Apa pekerjaannya?" Lagi tanya Sutrisno yang merasa penasaran, seperti apa Angkasa hingga bisa masuk dalam keluarga Casiora.
"Suamiku bekerja sebagai editor content sebuah perusahaan kelas menengah." Jawab Leora mengagetkan Sutrisno dan beberapa orang di tempat itu yang tidak terlalu mengenal Angkasa karena pernikahan yang dulunya bersifat tertutup.
__ADS_1
Dalam sekejap, semua orang langsung membandingkan suami Leora dan calon suami Liona!