
Setelah Angkasa dan Leora meninggalkan kamar Liona, dokter dan suster segera masuk ke tempat itu dan menangani Anasta yang pingsan di lantai.
Perempuan itu dibawa keluar untuk mendapat penanganan yang lebih tepat, sementara Liona, perempuan itu menggila di atas ranjang.
"Itu tidak benar!!! Mereka mengarangnya! Kalian tidak boleh percaya!
Anak di dalam kandunganku benar-benar anak suamiku!" Teriaknya pada keluarga Radit.
Tetua melihat cucunya dan menghentakkan tongkatnya dengan keras ke lantai.
"Liona, hentikan semuanya!! Karena ulah mu, banyak orang sudah tersakiti!" Kata Tetua memperingatkan cucunya.
Sementara Radit, lelaki itu mematung ditempatnya lalu merogoh saku jasnya sebelum mengeluarkan surat gugat cerai yang sudah mereka siapkan.
Pria itu lalu meletakkannya di sudut tempat tidur Liona.
"Ini surat cerai kita." Ucap Radit dengan suara datar tanpa memandang wajah Liona.
Setelah mengatakannya, Radit beserta orang tuanya segera meninggalkan kamar Liona tanpa menoleh sedikitpun pada perempuan yang kini berteriak-teriak di tempat tidur.
"Radit!! Radit!! Tidak-tidak!!! Jangan pergi ku mohon!!" Tubuh Liona yang sangat lemas berusaha turun dari tempat tidur untuk mengejar orang-orang itu, tapi karena tidak sanggup menahan beban tubuhnya Ia tersungkur di lantai di bawah kaki tetua.
__ADS_1
"Liona sudah. Biarkan mereka pergi!!" Ucap Tetua menatap iba pada cucunya.
"Kakek!! Aku tidak bisa!! Aku mencintai Radit!! Aku tidak mau berpisahnya dengannya!!!!
Leora!!!!
Semua ini karena Leora!!
Aku akan membunuh Angkasa dan Leora!
Beraninya mereka menghancurkan semua usaha yang sudah kulakukan selama ini!
Aku akan membunuh mereka!" Ucap Liona dengan tawa keras beserta senyuman penuh kekuatan.
"Baik Tuan." Jawab Mereka segera memegangi Liona.
Lion tidak melakukan perlawanan, perempuan itu hanya terkekeh sambil menatap ke arah pintu.
"Aku akan menghampiri kalian! Aku akan memesan obat untuk melumpuhkan kalian! Akan kucuri seluruh milik kalain berdua! Hahaha,, tunggu saja kalian!!" Ucapnya penuh percaya diri.
Ketua menggelengkan kepalanya dan berdiri meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Hari itu benar-benar membuatnya lelah.
Sementara Radit dan orang tuanya yang sudah meninggalkan kamar Liona, kini mereka berada di dalam lift.
Radit berdiri dengan pikiran melayang sementara ayahnya terus menatap ke arahnya.
"Kau bilang kaulah yang mengambil kegadisannya? Lalu apa yang dimaksud video tadi?"
"Tidak, malam pertama kami yang di hotel batal karena Liona tiba-tiba menghilang lalu pergi ke rumah sakit.
Aku tidak tahu kalau ternyata dia malah kabur bersama pria lain dan menggunakan alasan kelelahan untuk membohongiku di rumah sakit.
Lalu, malam pertama kami, aku minum terlalu banyak hingga aku hanya samar-samar mengingat." Jawab Radit dengan suara dipenuhi penyesalan.
"Jadi,, anak dalam kandungannya,, hah..." Pria paruh baya yang berdiri di samping Radit menghela nafas.
"Untunglah kita sudah mengetahui semuanya. Ckk,, ck,, perempuan sekarang memang sangat menakutkan. Bisa-bisanya ber-" Ibu Radit tidak jadi meneruskan kata-katanya saat pintu lift sudah terbuka lalu banyak wartawan langsung mengerumuni mereka sampai masuk di lift.
"Ada apa ini?" Tanya Ayah Radit dengan tatapan tidak suka.
"Minggir! Beri jalan untuk polisi!" Kata seseorang yang berseragam polisi muncul belakang para wartawan lalu mereka langsung menangkap ketiga orang di dalam lift.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan?!" Tanya Radit yang kini di seret bersama orang tuanya.
"Kami memiliki surat perintah penangkapan kalian atas penyeludupan obat-obat terlarang dan senjata ilegal!" Tegas sang polisi terus mendorong Radit hingga mereka memasuki mobil polisi.