Ranjang Balas Dendam

Ranjang Balas Dendam
BAB 47. Trauma lagi?


__ADS_3

Setelah lama terisak, Leora akhirnya tenang dan hanya diam memeluk Angkasa.


"Apa kau mau mandi?" Tanya Angkasa setelah lama diam.


"Tidak! Aku hanya ingin dipeluk dengan erat." Kata Leora.


"Baiklah," Angkasa memeluk Leora.


Leora menikmati pelukan itu, tapi entah kenapa setelah lama berpelukan ia merasa ada yang aneh pada tubuhnya.


Ia merasa gerah dan mulai bergerak gelisah di pelukan Angkasa.


"Ada apa?" Tanya Angkasa.


"Ini,, apa AC-nya rusak? Aku merasa gerah!" Ucap Leora berusaha menggunakan seluruh kekuatannya untuk menyingkirkan selimut.


Tubuhnya masih terlalu kaku untuk digerakkan, tapi ia merasa sangat nyaman saat Angkasa menyibakkan selimut lalu pria itu memainkan rambut Leora.


"Sayang,," tiba-tiba ucap Leora dengan manja sambil menggosokkan hidungnya di hidung Angkasa.


Angkasa mengerutkan keningnya, lelaki mana yang tahan denagn tingkah perempuan seperti itu?


Saat ini Leora masih memakai ligeri transparan, selimut mereka disingkirkan hingga tubuh Leora terpampang jelas di mata Angkasa.


Lalu Leora, perempuan itu malah mengeluarkan suara manja dan bersikap menggoda Angkasa.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Angkasa menatap mata Leora yang tertutup.


"Peluk aku." Ucap Leora.


"Bukankah kau kepanasan?" Tanya Na5gkasa.


Leora membuka matanya dan menatap tajam pada Angkasa "Tapi aku mau di peluk!" Rengeknya.

__ADS_1


"Baiklah." Jawab Angkasa berusaha menenangkan diri lalu memeluk istrinya dengan erat.


Beberapa saat mereka berpelukan Leora kembali tidak merasa puas "Aku kurang puas." Katanya.


"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Angkasa.


"Aku tidak tahu! Aku hanya mau sesuatu yang lebih!" Bentak Leora yang merasa aneh juga dengan dirinya sendiri.


"Kalau begitu, coba katakan apa yang kau rasakan?" Tanya Angkasa yang sebenarnya sudah tegang karena pikiran liarnya.


Sayangnya ia tahu kalau besok pagi, istrinya harus melakukan pemotretan, jadi dia tidak mungkin macam-macam.


"Aku rasa aku ingin memakanmu. Aku mau menelanmu sekaligus supaya kau menyatuh denganku!" Ucap Leora.


"Benarkah?" Tanya Angkasa tersenyum nakal.


"Ya,, apa itu aneh?" Tanya Leora.


"Mmm?" Leora terkejut, tapi tubuhnya tidak menunjukkan penolakan.


"Ini akan pelan. Aku janji." Ucap Angkasa mulai berperilaku lembut, sentuhan halus, lambat dan memabukkan.


Leora bagai perahu di lembah kenikmatan, ia lupa kalau dia harus tetap mengambang, malah kini ia ingin menenggelamkan diri lebih dalam di lautan yang diciptakan Angkasa.


Angkasa memperlakukan Leora dengan hati-hati, bahkan luka lecet setitik sangat dihindarinya.


"Sayang?" Tiba-tiba ucap Leora.


"Ada apa?" Tanya Angkasa yang sedang mencumbui Leora di setiap sisi kulit perempuan itu.


Sementara bibirnya menjelajah, lelaki itu menahan diri untuk memelankan dorongannya di bawah sana.


"Dorong lebih keras! Kumohon!" Bentak Leora.

__ADS_1


"Lebih keras?" Tanya Angkasa memastikan pendengarannya tidak salah.


"Ya!" Jawab Leora.


"Tapi,, kau, apa aku tidak merasa sakit?" Tanya Angkasa yang memang terlalu takut melukai Leora.


Ia takut kalau perempuan itu menjadi trauma kepadanya. Apa lagi di awal pernikahan mereka dia sudah memperlakukan Leora bagai seekor peliharaan, tidak ada kelembutan.


Angkasa ingin menebus kesalahannya saat itu dengan menahan dirinya.


Tapi Leora, perempuan itu malah memintanya berbuat lebih kasar?


"Ayolah! Aku ingin cepat!!" Teriak Leora sambil menggertakkan giginya.


"Baiklah," jawab Angkasa meski dia masih tetap menahan diri supaya tidak memberi terlalu banyak tekanan pada perempuan itu.


"Ahh!! Apa kau laki-laki? Sangat lamban!" Kesal Leora membuat Angkasa mengigit bibirnya.


Ia tidak menyangka kalau suatu saat Leora akan meragukannya sebagai lelaki. "Kau yang meminta, katakan STOP kalau kau kesakitan." Ucap Angkasa berhenti menahan diri.


Sementara di balkon apartemen.


"Tuan, makan malam sudah siap." Seorang pelayan yang ditugaskan menyiapkan makan malam melapor pada Anggara.


"Baiklah. Kau boleh pulang." Perintah Anggara sebelum berjalan ke arah kamar Angkasa.


Belum tiba di pintu kamar, Anggara sudah menghentikan langkahnya saat mendengar jeritan Leora yang keras.


Anggara mematung di tempatnya. 'Astaga Angkasa brengsek!! Dia menyiksa istrinya lagi?!' Gumamnya sambil gemetaran mengambil ponselnya untuk menghubungi dokter Sain.


'Sial!! Kalau Leora terluka, bagaimana dengan Angkasa? Dia pasti trauma lagi hingga tidak bisa mengontrol dirinya sendiri!' Anggara menggertakan giginya saat dokter Sain begitu lamban mengangkat panggilannya.


Bab berikutnya otor up nanti sore ya.... Semoga ada tetring😁😁

__ADS_1


__ADS_2