
Setelah selesai bertemu dengan angkasa, Leora langsung pergi ke kamar 507.
Setelah membuka pintu, ia terkejut mendapati pria yang sedang berbaring di atas ranjang adalah mantan kekasihnya.
'Radit?' Gumamnya sebelum menutup pintu dan meninggalkan kamar itu.
Leora dengan kebingungannya berdiri di depan lift menunggu pintu lift terbuka. Tapi begitu terbuka, Leora terkejut mendapati banyak wartawan yang langsung berlari menerobosnya dan mengerumuni pintu 507.
Leora melihat kejadian itu dan hanya bisa ternganga di tempatnya. "Astaga,, perusahaan kecil benar-benar pandai membuat para artisnya merangkak lebih cepat. Ck,, ck,," ucap Leora sebelum meninggalkan lantai itu.
Leora tidak mau memikirkan apapun lagi dan berniat meninggalkan bar itu. Tapi begitu iya akan keluar Riani tiba-tiba saja mendatanginya.
"Kak Liona?!" Ucap perempuan itu dengan wajah frustasi.
"Aku akan kembali ke hotel." Jawab Leora dengan acuh.
"Kak,, astaga,, aku akan terkena hukuman karena ulah kakak. Apakah kakak tahu kalau mereka sudah menyiapkan seorang aktris besar supaya bisa menunjang karir kakak.
Sekarang? Kesempatan besar itu telah lenyap! Bagaimana aku akan menghadapi menejer Meta?" Ucap Riani dengan frustasi.
Leora menghela nafas 'Astaga,, perempuan ini, kalau saja kau tahu siapa artis besar yang disiapkan untukku. Itu adalah calon adik iparku sendiri, mantan kekasihku dan dan orang yang,,'
__ADS_1
"Kau tenang saja, aku yang akan memberitahunya." Ucap Leora sebelum meninggalkan Riani yang masih enggan beranjak.
Setelah menghentikan sebuah taksi, Leora langsung mengambil ponselnya dan menelepon Meta.
"Halo Kak Meta." Ucapnya.
"Bagaimana? Semuanya lancar?" Tanya Meta antusias.
"Kak Meta, Kau terlalu baik untuk membuatku cepat terkenal. Tapi aku tidak menyukai cara curang seperti yang kau rencanakan.
Jadi aku sudah berada di dalam taksi untuk kembali ke hotel.
Juga, semua yang terjadi adalah keputusan ku sendiri, tolong Jangan menyalahkan asistenku." Ucap Leora membuat orang di seberang telepon terdiam dengan keberanian Leora.
Beberapa saat duduk dengan tenang di dalam mobil ponselnya kembali berdering. Itu adalah panggilan dari Aras.
Leora menghela nafas lalu mengangkat panggilan itu "Halo Kak Aras." Ucapnya.
"Aku menelponmu karena cemas. Kau di mana?" Tanya pria itu.
"Aku di taksi, hendak pulang ke hotel." Jawab Leora.
__ADS_1
"Bagus, kalau begitu kembalilah dan beristirahat, pemotretanmu akan dilakukan besok pagi jam 10.
Jangan pikirkan hal lain, aku yang akan mengatasinya untukmu." Kata pria itu membuat Leora bernafas lega karena tidak perlu menghadapi lebih banyak orang.
"Terima kasih Kak Arr-"
Cittttt!!!!!!!!!!!
Ponsel Leora terjatuh kesembarang arah saat supir di depan tiba-tiba mengerem mendadak lalu menabrak sebuah pohon di pinggir jalan.
Leora langsung linglung, seketika kembali teringat bagaimana kecelakaan beruntun yang menimpanya beberapa bulan yang lalu.
Ia tidak sadar ketika beberapa orang pria memindahkannya ke mobil lain lalu ia dibawa sekelompok pria itu dalam keadaan linglung.
Leora baru sadar saat pakaiannya dilepaskan oleh beberapa pelayan. Tapi apa yang bisa ia lakukan, dia sudah berada dalam pengaruh obat.
'Ya Tuhan, kau menghindarkan ku dari satu ujian, tapi ujianmu yang datang berikutnya terlalu kejam untukku.' Gumam Leora meneteskan air matanya sembari berusaha menolak perlakuan para pelayan.
"Tenanglah Nona, kami hanya perlu membersihkan badan Nona dan mendandani Nona sampai cantik." Ucap salah seorang pelayan sembari menghapus airmata Leora.
'Angkasa,, dia bilang akan menjemputku,, tapi dimana dia?' Gumam Leora yang sudah berhenti memberontak.
__ADS_1
Ia tahu, apapun yang ia lakukan tidak akan bisa menyelamatkannya, karena saat ini ia berada di bawah kendali obat yang mungkin bisa bertahan sampai beberapa jam kedepan.