
Yosi duduk dengan canggung, tangannya begitu kaku untuk menyentuh makanan di atas meja.
Tentu saja karena semua makanan diatas meja adalah buatan tangan Nyonya sendiri, yang sebenarnya diberikan pada Angkasa.
Sangat lancang bagi seorang pengawal untuk menyentuh hal-hal seperti itu.
'Kalau pengawal lain tahu aku makan semeja dengan tuan dan nyonya, mereka akan sangat iri.
Tapi di saat seperti ini, aku merasa sedang disiksa habis-habisan oleh Tuan.
Nyonya juga sangat kejam, menyuruhku satu ruangan dengan mereka.' Gumam Yosi yang merasa tertekan dengan aura yang dipancarkan Angkasa padanya.
Di atas meja ada 2 makanan yang disediakan. Meski 2 makanan itu memiliki jenis yang sama, tapi mangkuk yang lebih kecil berisi makanan yang yang tidak diberi cabai dan merica.
Leora mengambil mangkuk kecil itu dan langsung meletakkannya di hadapan Yosi.
"Makanlah." Katanya pada Yosi.
Yosi menatap makanan itu dengan canggung, tentu saja karena dia tidak pernah berpikir kalau Leora akan memberinya satu mangkuk langsung.
"Terima kasih Nyonya." Ucap Yosi meraih sendok dan mulai menyuap makanan yang diberikan oleh Leora.
Pria itu begitu terkejut Karena rasa masakan Leora yang menurutnya lebih enak dari koki profesional.
__ADS_1
'Astaga, beruntungnya Tuan. Tapi aku juga beruntung karena bisa merasakan makanan Nyonya, meski dibawah tekanan Tuan.' Gumam Yosi berusaha mengabaikan Angkasa
"Sayang, kau juga makanlah." Ucap Leora saat melihat Angkasa hanya terdiam menatap Yosi yang begitu menikmati makanannya.
"Hmm," Angkasa kembali menikmati makanannya dengan sesekali meneguk air putihnya.
"Sayang kenapa minum terlalu banyak? Aku sampai berpikir kalau kau lebih banyak mengisi perutmu dengan air putih daripada masakanku.
Atau, apa makanannya tidak enak?" Ucap Leora mengulurkan tangannya untuk mengambil sendok Angkasa.
"Tidak sayang, aku akan menghabiskannya!" Kata angkasa dengan panik sembari menjauhkan makanannya dari Leora.
'Ck,, ck,, Tuan benar-benar kejam. Nyonya hanya ingin mengambilnya sedikit dan dia begitu marah.
Tak butuh waktu lama hingga akhirnya Yosi menghabiskan semua makanan di piringnya.
Pria itu kemudian membawa piringnya ke belakang.
Hal itu membuat Angkasa merasa heran dengan pria itu. Bagaimana tidak, Yosi sama sekali tidak meneguk air putih selama pria itu makan.
Leora menyadari tatapan Angkasa dan hanya tersenyum dalam hati. "Mulai sekarang, jika aku ada waktu luang aku akan selalu menyempatkan diri untuk belajar memasak.
Aku mau suamiku selalu makan makanan yang sehat di rumah." Kata Leora mengalihkan perhatian Angkasa.
__ADS_1
"Terima kasih sayangku." Ucap Angkasa sembari menangis dalam hatinya.
Angkasa masih menikmati masakan penyiksaan dari Leora dan tiba-tiba ponsel berdering membuat perempuan itu harus meninggalkan Angkasa sejenak.
Angkasa bernafas dengan lega lalu melihat Yosi sudah kembali dari dapur dan berdiri di sudut ruangan.
"Kemari." Ucap Angkasa dengan dingin membuat Yosi menelan air liurnya sambil menghampiri Angkasa.
"Apa yang bisa saya bantu tuan?" Tanya Yosi sembari berdiri dengan tegang karena ia bisa melihat raut wajah Angkasa sangat tidak ramah padanya.
"Habiskan semuanya." Kata Angkasa menyerahkan mangkuk di depannya.
Yosi begitu terkejut karena sebagai seorang pengawal, ia tidak mungkin makan satu piring dengan tuannya, apalagi makanan yang sangat enak itu, 'Aku berdosa pada langit dan bumi!' gumamnya.
"Habiskan sebelum istriku kembali ke mari!" Kata angkasa membuat Yosi tidak tahu harus menangis atau merasa bahagia karena disuruh memakan masakan paling enak yang pernah ia coba, namun merupakan masakan yang seharusnya dimakan oleh tuannya.
Pada akhirnya Yosi mengambil posisi duduk dan mulai makan.
Namun pada suapan pertama, Yosi hampir muntah karena rasa masakan yang sangat tidak enak.
"Habiskan!" Suara Angkasa dipenuhi penekanan membuat Yosi benar-benar merasakan yang namanya penderitaan kekal.
'Nyonya begitu kejam, sama suami sendiri saja melakukan hal seperti ini.' Gumam Yosi sambil memaksakan diri menikmati makanannya.
__ADS_1