
"Kita mau pergi kemana Nyonya?" Tanya Yosi saat keduanya sudah naik ke mobil setelah pulang dari rumah sakit menjenguk Anggara.
Leora tersenyum memandangi kotak bekal yang masih tersisa, "Kita pergi menemui suamiku." Katanya.
"Baik Nyonya." Jawab Yosi lalu mulai menyalakan mesin mobil dan mengambil sebuah hasil penyelidikannya lalu menyerahkannya pada Leora.
"Kau mengerjakannya dengan sangat cepat." Leora merasa sangat puas memiliki Yosi di sampingnya yang bisa membantunya.
"Terima kasih Nyonya. Tapi,, tentang pendekatan saya dengan Luna, Saya sudah menghabiskan banyak uang untuk perempuan itu.
Baru saja saya membeli sebuah apartemen untuknya, dia berjanji akan segera keluar dari rumah Casiora." Lapor Yosi.
"Bagus sekali, aku percaya kau bisa melakukannya dengan baik.
Juga dapatkan bukti-bukti tentang hubunganmu dengannya supaya bisa memperkuat semuanya." Ucap Leora disanggupi oleh Yosi.
Mobil terus berjalan dan Leora sudah membuka amplop coklat di tangannya.
Itu adalah laporan kesehatan Ibunya dan kakeknya.
"Ibuku baik-baik saja?" Ucap Leora mengerutkan keningnya saat ia membaca laporan kesehatan itu.
"Ya Nyonya, saya sudah mengonfirmasinya dengan baik bahwa ibu Nyonya hanya pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan kesehatan rutin.
Tidak ada gejala penyakit jantung ataupun penyakit lain yang diderita." Ucap Yosi menegaskan hasil penyelidikannya.
__ADS_1
"Aku mengerti," ucap Leora memandangi laporan kesehatan ibunya.
Pikirannya begitu buruk karena beberapa hari sebelum pertukaran identitasnya dengan adiknya, Ibunya sudah mengumumkan kalau dia menderita penyakit jantung beserta dengan laporan medis yang palsu.
Hal itulah yang membuat Leora tidak mau mengatakan apapun tentang perbuatan buruk yang sudah dilakukan Liona padanya .
Ia terlalu takut akan kehilangan orang-orang yang paling dicintainya.
Tapi siapa sangka,,,,
Leora membaca pemeriksaan kesehatan kakeknya dan memang benar kakeknya sakit dan sedang berobat di luar negeri.
"Nyonya baik-baik saja?" Tanya Yosi saat melihat perempuan yang berada di belakangnya begitu murung melihat keluar jendela mobil.
"Baik Nyonya." Jawab Yosi menambah kecepatan laju mobilnya hingga mereka tiba lebih cepat di kantor Angkasa.
Dengan pengawalan khusus dan menggunakan lift khusus, Leora tanpa hambatan dan tanpa harus bertemu dengan orang-orang kantor segera tiba di ruangan milik Angkasa.
Saat itu, Angkasa menyelesaikan banyak tugas yang ditinggalkan oleh Anggara karena pria itu masuk rumah sakit.
Wajahnya yang kelelahan langsung berseri ketika ia dikejutkan dengan kedatangan istrinya.
"Sayangku?!" Ucapnya langsung berdiri mengabaikan pekerjaan yang masih menumpuk, ia langsung mendekati perempuan itu lalu memeluknya dengan erat.
Leora menikmati pelukan hangat suaminya dan menahan diri supaya tidak menangis.
__ADS_1
"Aku tahu kau tidak sempat untuk makan siang, jadi aku kemari membawakanmu bekal." Ucap Leora menghela nafas lalu berusaha tersenyum pada Angkasa.
"Makasih sayang ku." Angkasa menuntun istrinya agar mereka duduk di salah satu sofa pada ruang kerja angkasa.
Leora membuka kotak bekalnya lalu menatanya di meja.
Suasana hatinya yang sedari tadi sangat buruk akhirnya menjadi tenang karena apa yang dia impikan selama ini akhirnya terwujud.
Bermimpi menyusul suami ke kantor untuk membawakan bekal makan siang!
"Ini masakan ku sendiri." Leora membanggakan buatan tangannya.
"Aku pasti menikmatinya." Kata Angkasa lalu ia mulai menikmati makanan Leora sambil menyuapi istrinya.
Leora kekenyangan karena ia merasa pria itu lebih banyak menyuapinya daripada menyuapi dirinya sendiri.
"Emmh, sayang, aku kekenyangan. Perutku terasa begah." Ucap Leora bersandar pada bahu Angkasa.
"Sini ku pijat." Ucap Angkasa memperbaiki posisi duduk mereka.
Pria itu lalu mengulurkan tangannya dan menyelipkannya di balik pakaian Leora.
"Emmh,, sayang?! Apa yang kau lakukan?! Bagaimana kalau seseorang datang?!" Ucap Leora menatap cemas pada pintu.
"Pintunya di kunci." Jawab Angkasa terus memijat perut Leora.
__ADS_1