Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia

Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia
Pertama Kali


__ADS_3

Malam menjelang pagi, Delisa dan Eden perlahan membuka matanya bersamaan pintu ruang perawatan di buka oleh seorang perawat dengan lebar.


Delisa dan Eden melihat seorang dokter berjalan ke arah mereka dengan diikuti oleh perawat untuk memeriksa keadaan Delisa.


"Aku ingin pulang sekarang," ucap Delisa setelah selesai di periksa.


"Baik Nyonya, nanti siang Nyonya boleh pulang. Oh ya apakah Nyonya tidak ingin melihat Tuan Muda Edward?" tanya dokter tersebut sambil merapikan peralatan dokter sedangkan perawat melepaskan jarum infus.


"Memang kenapa dengan putraku?" tanya Delisa dengan wajah terkejut.


"Tuan Muda Edward terkena luka cambuk," jawab dokter tersebut.


"Apa? Sejak kapan?" tanya Delisa dengan wajah tambah terkejut.


"Sejak semalam sekarang di rawat di kelas dua," jawab dokter tersebut.


"Kelas dua? Kenapa tidak di ruang perawatan VVIP?" tanya Delisa.


"Maaf Nyonya, itu permintaan Tuan muda Edward," jawab dokter tersebut.


"Antar kan aku ke ruangannya," ucap Delisa sambil turun dari ranjang.


"Baik Nyonya," jawab dokter tersebut.

__ADS_1


"Aku ikut Mom," jawab Eden.


Delisa hanya menganggukkan kepalanya kemudian Delisa dan Eden berjalan mengikuti dokter tersebut menuju ke ruang perawatan kelas dua.


Ceklek


Dokter tersebut membuka ruang perawatan kelas dua di mana ada enam kamar. Delisa menahan amarahnya terhadap putranya Edward karena memilih ruang perawatan untuk kelas menengah ke bawah.


Dokter tersebut menunjukkan ruangan di mana Edward masih berbaring sendirian dengan tubuhnya di balut oleh perban.


"Edward, kenapa kamu memilih ruang perawatan kelas dua?" tanya Delisa.


"Maaf Nyonya, saya permisi dulu," pamit dokter tersebut setelah selesai mengantar Delisa dan Eden.


('Pantas saja tidak ada satupun keluarga besar Alexander yang datang untuk menengok mereka terlebih besannya masih di ruang jenasah,' ucap dokter tersebut dalam hati sambil berjalan meninggalkan ruangan tersebut).


"Daddy sebentar lagi akan menceraikan Mommy jadi mulai sekarang dan seterusnya jika kita sakit maka kita di rawat di ruang perawatan kelas dua karena ruang perawatan VVIP khusus milik keluarga besar Alexander," jawab Edward menjelaskan.


"Kata siapa Daddy akan menceraikan Mommy?" tanya Delisa dengan wajah terkejut.


"Daddy yang bilang kemarin malam," jawab Edward.


"Kakak menolaknya kan?" tanya Eden yang sejak tadi diam.

__ADS_1


"Buat apa menolaknya?" tanya Edward.


"Edward selama ini Mommy sangat sayang padamu tapi kenapa kamu tidak meminta Daddy agar Mommy dan Daddy tidak bercerai?" tanya Delisa dengan wajah sangat kecewa dengan putranya.


"Kak Edward kenapa Kakak mendukung Daddy untuk berpisah dengan Mommy?" tanya Eden dengan wajah kecewa.


"Karena Edward ingin agar Mommy merasakan bagaimana kehilangan orang yang dicintainya sama seperti Edward rasakan sekarang." jawab Edward.


"Edward!!" bentak Delisa.


"Jangan membentak Edward, ini tidak sebanding dengan apa yang Edward rasakan. Edward kehilangan wanita yang Edward cintai di tambah Edward harus kehilangan tiga anak Edward yang belum sempat Edward lihat," ucap Edward sambil menatap wajah Delisa dengan wajah yang tak kalah kecewanya.


"Ini semua gara-gara Kak Alona,'' ucap Eden dengan nada kesal.


"Apa maksudmu Eden?" tanya Edward sambil berusaha duduk dan menatap tajam ke arah adik kembarnya.


"Gara-gara Kak Alona keluarga kita hancur seperti ini, aku sangat membenci kak Alona" ucap Eden.


Plak


"Kakak harap suatu saat nanti kamu menikah dengan seorang pria yang lebih jahat dari kakak begitu pula dengan ibu mertuamu yang lebih jahat dari Mommy kita!!" teriak Edward kemudian menampar Eden untuk pertama kalinya.


Tamparan pertama kali dirasakan oleh Eden yang dilakukan oleh kakak kembarnya membuat Eden menatap kakak kembarnya dengan tatapan kesal dan benci membuat Eden mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar.

__ADS_1


"Edward!! bentak Delisa sambil mengangkat tangannya ke atas bersiap menampar Edward.


__ADS_2