
"Iya benar, memang kenapa?" Tanya Delisa dengan nada kesal sambil berjalan ke arah pintu utama.
"Bukankah di sini ada pelayan dan bodyguard? Kenapa aku yang di suruh?" tanya Alena dengan nada masih kesal karena dirinya tidak terima diperlakukan seperti seorang pelayan sambil berjalan menyusul Delisa.
"Jika kamu tidak suka pergi!" usir Delisa sambil menghentikan langkahnya kemudian mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah pintu utama tanpa membalikkan badannya.
Selesai mengatakan itu Delisa melanjutkan langkahnya kembali menuju ke arah ruang keluarga dan masih diikuti oleh Alena.
Alena yang sejak tadi menahan amarahnya tidak bisa menahannya lagi terlebih pada dasarnya Alena mempunyai sifat tempramental.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Orang yang mempunyai sikap tempramental sikapnya cenderung keras dan mempunyai ego yang cukup besar. Mereka mempunyai banyak tuntutan entah itu kepada diri sendiri ataupun orang lain. Sisi negatifnya, mereka juga sering merasa paling benar dan tidak terima jika harus disalahkan.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Alena mengambil vas bunga kesayangan Delisa kemudian mengangkatnya dan diarahkan ke tubuh Delisa bersamaan kedatangan Eden putri bungsu Delisa dan Delon.
"Mommy, awas!!" teriak Eden sambil berlari.
bruk
__ADS_1
prang
Eden mendorong tubuh Alena hingga terjatuh bersamaan vas bunga kesayangan milik Delisa. Delisa yang mendengar suara teriakan putri bungsunya langsung membalikkan badannya dan matanya langsung membulat sempurna.
"Vas bunga kesayanganku!!" teriak Delisa sambil menatap tajam ke arah Eden dan Alena yang sedang berusaha bangun secara bergantian.
Plak
" Mommy, kak Alona ingin melemparkan Mommy dengan menggunakan vas bunga kesayangan Mommy," ucap Eden kemudian menampar Alena.
"Apa? Dasar wanita tidak tahu diri!!" teriak Delisa.
"Berhenti!! teriak Delon
"Ada apa ini?" tanya Edward secara bersamaan.
Delon dan Edward yang ingin makan siang bersama di mansion sangat terkejut melihat Delisa dan Eden memukul Alena yang dikiranya adalah Alona. Mendengar teriakan Delon dan Edward membuat Delisa dan Eden berhenti memukul.
"Daddy, kak Edward," panggil Eden sambil berjalan ke arah kakak kembarnya.
"Kak Edward, kak Alona sangat jahat," adu Eden.
__ADS_1
"Jahat kenapa?" tanya Edward.
"Kak Alona melempar vas bunga ke arah Mommy, untungnya Eden datang tepat waktu," ucap Eden.
"Apa? Benar begitu Mom?" tanya Delon dan Edward serempak dengan wajah terkejut karena dirinya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Eden.
"Benar Dad, untungnya ada Eden," jawab Dennisa.
"Eden tadi langsung mendorong tubuh kak Alona hingga terjatuh kalau tidak Mommy terluka terkena pecahan beling," sambung Eden.
Delon dan Edward menatap tajam ke arah Alena yang sudah babak belur akibat ulah Delisa dan Eden. Edward berjalan ke arah Alena kemudian menariknya tanpa punya rasa empati sedikitpun.
Delon sebenarnya tidak tega melihat menantunya diperlakukan seperti itu oleh putranya tapi jika mengingat perkataan Delisa dan Eden membuat Delon mematikan perasaannya.
"Sepertinya hukuman yang kemarin aku berikan masih kurang," ucap Edward.
"Sakit, aku melakukan itu karena Mommy mu menyuruhku membawa barang belanjaan padahal di mansion banyak pelayan dan bodyguard," ucap Alena merasa tidak bersalah sedikitpun.
Alena merasa dirinya paling benar dan tidak terima jika harus disalahkan sedangkan Delon dan Edward yang mendengarnya menatap tajam ke arah Alena terlihat jelas kemarahan Delon dan Edward.
"Lebih baik kita pulang ke mansion," ucap Edward dengan nada dingin dan wajah datar.
__ADS_1