
Ctas
"Mpphhhtttt.... "
"Oh ya aku lupa kalau mulutmu ditutup lakban," ucap Edward.
"Lepaskan lakban nya dengan kasar," perintah Edward.
"Baik Tuan," jawab salah satu anak buahnya dengan patuh.
Sretttt
"Akhhhhhhhh..." teriak Alena ketika lakban tersebut dilepas secara paksa di tambah luka cambukan membuat Alena berteriak kesakitan.
"Kamu tahu, gara-gara ulah mu aku mencambuk istriku yang tidak pernah melakukan kesalahan sedikitpun. Istriku di cambuk sebanyak dua puluh lima kali jadi rasa sakit yang istriku terima aku kembalikan wanita ular seperti dirimu,'' ucap Edward dengan nada dingin.
Ctas
"Akhhhhhhhh..." teriak Alena.
Ke dua orang tuanya hanya bisa menahan amarahnya dan mengumpat dalam hati karena ke dua mulut mereka di lakban. Ke dua kaki dan ke dua tangannya memerah karena berusaha untuk membebaskan diri untuk menyelamatkan Alena namun ikatan besi tersebut sangat kuat.
Ctas
"Akhhhhhhhh...." teriak Alena kembali.
Dress warna putih kini berubah menjadi merah karena darah segar keluar dari tubuhnya akibat di cambuk. Hingga di cambukan dua puluh lima menit Edward menghentikan nya.
"Bagaimana rasanya? Enak bukan?" tanya Edward dengan wajah sinis.
__ADS_1
Alena hanya bisa meringis menahan rasa sakit pada tubuhnya terlebih banyak kulit mulusnya mengelupas bersamaan Alena mulai kekurangan kesadaran. Edward berjalan ke arah Ibunya Alena sambil masih memegang cambuk membuat wanita itu menggelengkan kepalanya sambil mengeluarkan air mata.
"Waktu itu Alena aku hukum cambuk sebanyak dua puluh lima kali tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Jika bersuara sedikit saja maka hukuman cambukan akan aku tambah. Sebenarnya hukuman ini untuk Alena tapi setelah aku pikir lagi hukuman ini cocok untuk wanita ular seperti dirimu," ucap Edward sambil mengangkat tangannya ke atas untuk bersiap mencambuk Ibunya Alena.
Ctas
"Mpphhhtttt..." ucap Ibunya Alena karena mulutnya masih di lakban.
Sretttt
"Akhhhhhhhh...." teriak Ibunya Alena.
Edward menarik lakban di mulut Ibunya Alena dengan sangat kasar membuatnya berteriak kesakitan.
Ctas
"Sekali lagi berteriak aku akan mencambuk tanpa berhenti," ancam Edward.
Ctas
"Akhhhhhhhh,!!" teriak Ibunya Alena.
ctas
ctas
ctas
Edward mencambuk Ibunya Alena tanpa berhenti sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Edward membuat Ibunya Alena selalu berteriak hingga di cambukan yang ke sekian kalinya Ibunya Alena terdiam dan perlahan mulai kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
Edward yang melihat Ibunya Alena tidak sadar langsung menghentikan cambukan kemudian beralih ke Ayahnya Alena. Tanpa banyak bicara Edward mengangkat tangan kanannya ke atas bersiap mencambuk Ayahnya Alena yang sedang menggelengkan kepalanya.
Cambukan demi cambukan membuat Ayahnya Alena hanya bisa berteriak namun tidak jelas karena mulutnya sengaja di lakban. Edward menghentikan cambukan ketika tangannya terasa kebas kemudian melemparkan cambuk tersebut.
"Ambilkan tiga air k***s," perintah Edward.
"Baik tuan," jawab anak buahnya dengan patuh.
Ke tiga anak buahnya langsung berjalan ke arah peti berukuran sedang di mana air k***s tersebut di simpan kemudian berjalan ke arah Edward.
"Siram air k***s ke wajah mereka," ucap Edward dengan nada dingin.
"Baik tuan," jawab ke tiga anak buahnya.
byur
byur
byur
Tanpa punya perasaan ke tiga anak buah Edward melemparkan cairan k***s tersebut ke arah wajah Alena dan ke dua orang tua Alena.
"Akhhhhhhhh... Sakit .... Panas ...." teriak Alena dan ke dua orang tua Alena sambil berusaha melepaskan diri namun sia-sia saja.
Awal nya Alena dan ibunya tidak sadarkan diri namun ketika wajah mereka di siram air k***s membuat mereka memaksakan membuka matanya sambil berteriak kesakitan sedangkan Ayahnya Alena yang masih sadar ikut berteriak kesakitan namun suaranya tidak terdengar.
"Ini hukuman untuk kalian saat ini dan besok terimalah hukumanku berikutnya," ucap Edward sambil membalikkan badannya meninggalkan mereka bertiga menuju ke arah mobil.
("Maafkan aku Alona, kalau aku melanggar janjiku untuk tidak mencambuk. Aku melakukan ini untuk membalas perbuatan mereka padaku," ucap Edward dalam hati).
__ADS_1