Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia

Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia
Karma


__ADS_3

Di tempat yang sama hanya berbeda ruangan Delon bersiap berangkat kerja namun sebelum berangkat dirinya ingin berpamitan dengan Ibu mertuanya.


"Mommy kemana?" tanya Delon sambil menuruni anak tangga.


"Ada di taman belakang katanya menunggu Alona kemungkinan Alona sudah sampai dan menemani Mommy," jawab Delisa.


Delon menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Mereka berjalan ke arah taman belakang hingga Delon dan Delisa matanya membuka sempurna ketika Ibunya Delisa sedang berusaha berdiri dan berjalan ke arah Alona yang tidak sadarkan diri.


Delon langsung menjentikkan jarinya sambil berjalan dengan cepat ke arah Ibu mertuanya dan menantunya yang bernama Alona begitu pula dengan Delisa.


"Mommy," panggil Delisa.


"Daddy, tolong angkat Alona, biar aku yang menolong Mommy ku," pinta Delisa.


Delon hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju, Delisa menahan Ibunya dan mendudukkan secara perlahan ke kursi roda sedangkan Delon menggendong Dennisa ke ala bridal style.


"To ... long ... A ... lona..." pinta neneknya Edward.


"Baik Mom, Dad letakkan Alona di kamar tamu," pinta Delisa.


"Iya Mom," jawab Delon.


Delon berjalan dengan cepat ke arah kamar tamu sedangkan Delisa mendorong kursi roda di mana Mommy nya duduk di kursi roda dengan wajah cemas.


Delon dengan perlahan meletakkan Alona di ranjang sedangkan Delisa mengambil minyak angin untuk diberikan ke tubuh Alona.


Tidak berapa lama Alona membuka matanya dan melihat sekeliling ruangan yang masih kabur hingga dirinya mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.


"Mommy, Daddy akan telepon Edward untuk datang ke mansion," ucap Delon sambil mengambil ponselnya dari saku jasnya.


"Tidak usah Dad, kak Edward lagi banyak pekerjaan," ucap Alona yang sudah bisa dengan jelas.


"Tapi tadi kamu pingsan biar Edward mengantarmu ke rumah sakit," ucap Delon.


"Alona sudah sadar Dad, jadi tidak perlu mengganggu pekerjaan Edward," ucap Delisa dengan nada tidak suka.


"Benar kata Mommy, Alona sudah sadar dan apalagi Alona juga sudah tidak apa-apa," sambung Alona sambil berusaha bangun namun tubuhnya di tahan oleh neneknya Edward.


"Is... ti.. ra ... hat," ucap Neneknya Edward dengan nada masih terputus-putus.


"Mommy, kenapa sih perhatian dengan Alona?" tanya Delisa.


Delon yang ingin memarahi istrinya membuat Alona menggelengkan kepalanya tanda dirinya tidak ingin ada pertengkaran.

__ADS_1


"Maafkan Alona, gara - gara Alona membuat Mommy jadi kesal dengan Alona," ucap Alona.


"Akhirnya sadar diri," sindir Delisa.


"Mommy," panggil Delon dengan nada kesal.


"Mommy kenapa Dad?" tanya Delisa.


Alona berusaha turun dengan mata berkaca-kaca namun lagi-lagi Neneknya Edward menahannya.


"Mommy dan Daddy, bolehkah Alona meminta permintaan terakhir?" tanya Alona sambil menahan agar air matanya tidak keluar.


"Alona kenapa kamu seakan bicara seperti itu hendak pergi jauh?" tanya Delon.


"Mungkin Alona sudah terasa umurnya sebentar lagi," ucap Delisa tanpa ada perasaan.


"Delisa!!!" bentak Delon untuk pertama kalinya sambil mengangkat tangannya untuk menampar istrinya.


"Apa??? Daddy ingin menampar Mommy?" tanya Delisa dengan nada kesal.


"Daddy dan Mommy, Alona mohon untuk memenuhi permintaan terakhir Alona jangan bertengkar. Benar kata Mommy kita tidak tahu siapa tahu hari ini atau besok Alona akan pergi selama - lamanya meninggalkan Nenek, Mommy, Daddy dan kak Edward." ucap Alona.


"Alona kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Delon yang tidak suka mendengar ucapan Alona sambil menurunkan tangannya.


"Mommy," panggil Alona karena melihat Delon ingin bicara.


"Ada apa?" tanya Delisa dengan nada ketus.


"Alona ingin merasakan masakan Mommy, untuk pertama dan terakhir karena setelah itu Alona tidak akan memintanya. Maukah Mommy memenuhi permintaan terakhirku?" tanya Alona penuh harap.


"Karena ini permintaan terakhirmu terpaksa Mommy akan membuatnya," ucap Delisa sambil membalikkan badannya meninggalkan mereka bertiga.


"Terimakasih Mommy," jawab Alona sambil tersenyum namun terlihat jelas kesedihan di mata Alona.


"Alona, maafkan Mommy," ucap Delon merasa tidak tega melihat kesedihan Alona.


"Tidak apa-apa Dad, sekarang Daddy berangkatlah kerja nanti terlambat," ucap Alona.


"Baik, tapi Alona jangan bicara seperti tadi karena Daddy tidak suka," ucap Delon


"Iya Dad," jawab Alona sambil tersenyum.


"Mommy, Delon berangkat," pamit Delon pada Ibu mertuanya.

__ADS_1


"Ha ... ti... ha.. ti..." ucap Ibu mertuanya.


"Alona, Daddy berangkat dulu," pamit Delon.


"Hati-hati Dad," jawab Alona.


Delon menganggukkan kepalanya kemudian membalikkan badannya dan berjalan ke arah pintu.


"Daddy, Alona mohon jangan bertengkar dengan Mommy dan sebelum berangkat ke kantor pamit sama Mommy," mohon Alona.


"Seandainya istriku tahu kalau kamu sebenarnya menantu yang mempunyai hati yang sangat baik," ucap Delon sambil melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk berpamitan dengan istrinya.


Sebenarnya Delon masih marah dengan istrinya namun karena permintaan Alona membuat Delon pamit dengan istrinya.


"Maafkan Alona Nek, karena tubuh Alona masih lemas jadi belum bisa masak kesukaan Nenek," ucap Alona.


Neneknya Edward menulis sesuatu di buku yang selalu dibawanya setelah beberapa saat Neneknya Edward memberikan tulisan ke Alona.


"Tidak apa-apa yang penting kamu sehat Nenek sangat senang dan maafkan putriku,"


"Tidak ada yang perlu dimaafkan Nek," jawab Alona sambil memberikan buku tersebut.


Neneknya Edward menerimanya dan kembali menulis sesuatu dan setelah selesai memberikan kembali ke Alona.


"Kamu memang wanita yang sangat baik, sungguh beruntung cucuku mendapatkan istri seperti dirimu,"


"Terima kasih atas pujiannya Nek," jawab Alona sambil berusaha bangun dari ranjang namun lagi-lagi di tahan oleh neneknya Edward.


"Alona ingin duduk dan bersandar di kepala ranjang Nek," ucap Alona.


Alona kembali berusaha bangun dan bersandar di kepala ranjang sedangkan Neneknya Edward membiarkannya. Tidak berapa lama datang Delisa sambil membawa sepiring kwetiau goreng dan diberikan ke Alona.


"Makanlah," ucap Delisa.


("Rasanya sangat asin dan rasakan kamu Alona karena gara-gara ulah mu membuatku bertengkar dengan suamiku terlebih untuk pertama kalinya suamiku membentak diriku di tambah suamiku ingin menampar wajahku," ucap Delisa dalam hati).


"Sekali lagi terima kasih banyak Mommy," jawab Alona sambil menerima piring yang berisi kwetiau goreng.


"Ayo Mom, Delisa antar ke kamar," ucap Delisa tanpa memperdulikan perkataan Alona.


Neneknya Edward ingin mengatakan kalau dirinya ingin menemani Alona tapi Delisa langsung mendorong kursi roda tersebut membuat neneknya Edward hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


Delisa tidak pernah tahu kalau karma itu selalu ada dan dirinya saat ini belum menyadari kalau dirinya mempunyai seorang putri yang sangat disayanginya dan bisa saja karma itu mengenai putri satu-satunya.

__ADS_1


__ADS_2