Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia

Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia
3. Maafkan Eden


__ADS_3

Kepala pelayan mendorong kursi roda Dela sedangkan Edward mendorong kursi roda milik Eden kemudian mereka keluar dari kamar Eden.


Kepala pelayan dan Edward mendorong kursi roda hingga sampai di depan pintu utama mereka berhenti karena Delisa memanggil Edward dan Eden.


"Edward, Eden mau kemana?" tanya Delisa sambil menuruni anak tangga.


"Mulai sekarang dan seterusnya Aku dan putriku tidak akan menginjakkan kaki di mansion ini karena Aku sangat membenci Mommy." jawab Eden.


"Eden!!" bentak Delisa.


"Ayo Kak Edward kita pergi dari sini," ucap Eden yang tidak perduli dengan bentakan Delisa.


"Edward." panggil Delisa.


"Maaf Mom, gara-gara Mommy rumah tanggaku berantakan. Seharusnya sebagai orang tua membimbing kami agar rumah tangganya selalu rukun bukan seperti ini. Mommy sangat egois gara-gara Mommy dendam dengan keluarga Alona, Mommy memisahkan Edward dengan Alona," ucap Edward dengan wajah penuh kecewa.


"Rumah tangga Edward nyaris berantakan di tambah adik kembarku rumah tangganya juga ikut berantakan. Mommy ikut andil merusak rumah tanggaku dan juga rumah tangga adik kembarku jadi mulai sekarang dan seterusnya Edward tidak akan menginjakkan kaki ke mansion ini." Sambung Edward.


Selesai mengatakan hal itu Edward mendorong kursi roda Eden dan keluar dari mansion megah tersebut dengan diikuti oleh kepala pelayan.


"Akhhhhhhhh... Kenapa jadi seperti ini?" tanya Delisa sambil berteriak histeris.


"Hahahaha... semua pergi meninggalkan Aku, suamiku, putra kesayanganku Edward, Eden dan cucuku Dela." ucap Delisa sambil tertawa seperti orang gi*a.


Delisa tertawa sendiri sambil membalikkan badannya dan berjalan ke arah tangga menuju ke kamar Delisa.


"Mansion semegah ini .... Hahahaha ... hanya Aku tinggal sendiri ... Hahahaha ... kalian pergilah karena Aku ingin tinggal di sini sendirian," ucap Delisa sambil masih tertawa.


Satu demi satu Delisa menaiki anak tangga dan entah kenapa ketika hampir sampai di lantai dua salah satu kakinya tepatnya kaki kanan Delisa tiba-tiba keseleo membuat Delisa jatuh kemudian tubuhnya terguling - guling.


"Akhhhhhhhh...." teriak Delisa ketika tubuhnya terguling - guling di lantai.


Bruk


Tubuh Delisa berhenti terguling ketika tubuhnya berada di lantai satu. Darah segar keluar dari mulut, hidung, kepala dan kening hingga Delisa melihat dan mendengar samar-samar orang berjalan ke arah dirinya sambil berteriak histeris.


"Bagaimana ini?" tanya pelayan dengan wajah bingung.

__ADS_1


"Lebih baik kita telepon Tuan Besar Delon," jawab kepala pelayan.


Kepala pelayan langsung mengambil ponselnya yang di simpan di saku kemejanya kemudian menghubungi Delon dan panggilan pertama langsung di angkat oleh Delon.


("Ada apa Paman?" tanya Delon tanpa basa basi).


("Maaf Tuan Besar, Nyonya Besar Delisa jatuh dari tangga,'' jawab kepala pelayan menjelaskan).


("Apa?Sekarang bagaimana keadaannya?" tanya Delon dengan nada terkejut).


("Sekarang tergeletak di lantai dan tidak sadarkan diri," jawab kepala pelayan).


("Bawa ke rumah sakit milik keluarga besar Alexander, Aku tunggu di sana!" perintah Delon).


("Baik Tuan," jawab kepala pelayan).


Tut Tut Tut Tut


Sambungan komunikasi langsung diputuskan secara sepihak oleh Delon kemudian kepala pelayan dengan di bantu pelayan menggotong tubuh Delisa yang bersimbah darah dan tidak sadarkan diri.


Salah satu bodyguard yang merangkap sebagai sopir membuka pintu mobil belakang pengemudi dengan lebar kemudian kepala pelayan masuk ke dalam mobil sambil memegangi kepala dan tubuh Delisa sedangkan pelayan satunya memegangi tubuh dan kaki Delisa yang sudah mulai dingin.


"Bisa jadi, dosanya terlalu banyak makanya jatuh dari lantai dua," sambung kepala pelayan.


"Sebenarnya aku malas mengantar Nyonya besar Delisa ke rumah sakit," ucap bodyguard yang merangkap sebagai sopir sambil mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


"Sama," jawab kepala pelayan dan pelayan bersamaan.


"Apa aku kurangi saja kecepatan mobilnya?" tanya sopir tersebut.


"Nanti ketahuan oleh Tuan Besar Delon dan ke dua anak kembarnya." Ucap Kepala pelayan.


"Betul sekali yang ada nanti kita kena hukuman lebih baik cepat saja." ucap pelayan.


Mereka yang berkerja di mansion tahu betapa kejam nya Delisa dan Edward terlebih Delisa tapi demi gaji yang sangat besar membuat mereka nekat bekerja. Mereka sebisa mungkin tidak melakukan kesalahan karena itu kunci dari mereka terhindar dari hukuman.


"Semoga saja Nyonya Delisa tersiksa antara hidup dan ma ti," ucap pelayan yang sangat membenci Delisa.

__ADS_1


"Amin," jawab kepala pelayan dan sopir dengan serempak.


"Mungkin itu karma Nyonya Besar Delisa karena sering menyakiti perasaan orang-orang terlebih Nyonya Muda Alona," ucap kepala pelayan.


"Betul sekali, mungkin sekarang kena karmanya," ucap pelayan tersebut.


Lima belas menit kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit. Sopir tersebut keluar dari mobil untuk memanggil perawat.


Kini Delisa terbaring di brangkar dan dua perawat mendorong brangkar tersebut ke arah ruangan UGD. Kepala pelayan dan pelayan mengikuti langkah dua perawat yang mendorong Delisa hingga mereka berhenti di depan pintu masuk UGD. Tidak berapa lama datang Delon, Edward, Alona, Eden dan Dela.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Delon penasaran.


"Nyonya besar Delisa berjalan menaiki anak tangga dan tiba - tiba Saya mendengar Nyonya besar Delisa berteriak kesakitan membuat Saya dan para pelayan lain berjalan menuju ke arah tangga." Ucap Kepala pelayan.


"Kami melihat Nyonya besar tergeletak di lantai dengan bersimbah darah dan tidak sadarkan diri." jawab Kepala Pelayan dengan wajah ketakutan begitu pula dengan bodyguard dan pelayan.


"Kalian bagaimana sih! Kenapa tidak inisiatif langsung membawanya ke dokter?" Tanya Edward dengan nada satu oktaf.


"Maafkan Kami Tuan Muda." Jawab ketiganya dengan serempak dan wajah penuh ketakutan membuat tubuh mereka bertiga gemetaran.


"Sstttttt sudah. Kita tidak bisa menyalahkan mereka karena ini sudah takdir terlebih Kita tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya." ucap Alona sambil menggenggam tangan Edward.


"Kalian bertiga pulanglah karena pakaian kalian terkena noda darah." Sambung Alona dengan nada lembut.


"Baik Nyonya Muda." Jawab ketiganya dengan serempak.


"Kami pulang Tuan Besar, Tuan Muda dan Nyonya Muda." pamit bodyguard yang merengkap sebagai sopir, Kepala pelayan dan pelayan bersamaan.


'Nyonya Muda memang baik dan semoga saja bisa merubah sifat Arogant dan semena-mena Tuan Muda Edward pada orang-orang rendahan seperti Kami.' Ucap mereka bertiga secara bersamaan dalam hati.


Bodyguard, Kepala pelayan dan pelayan menundukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Mommy, maafkan Eden." ucap Eden dengan nada lirih sambil mengusap wajahnya yang kasar dan duduk di kursi roda karena dirinya lumpuh.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Sambil menunggu up silahkan mampir ke karya temanku dengan judul :

__ADS_1



__ADS_2