
"Nyonya alergi seafood?" tanya dokter tersebut dengan wajah terkejut.
Deg
Deg
Jantung Alena berdetak kencang bukan karena jatuh cinta dengan dokter tersebut karena dirinya baru menyadari akan kesalahannya membuat Alena berfikir dengan cepat.
"Aku sangat gatal, berikan obat penghilang alergi," pinta Alena tanpa memperdulikan pertanyaan dokter tersebut.
"Suster tolong ambilkan obat penghilang alergi," pinta dokter tersebut.
"Baik dok," jawab perawat tersebut dengan patuh.
"Yang cepat jangan lama kalau tidak mau di pecat," ancam Alena.
"Baik Nyonya," jawab perawat tersebut kemudian pergi meninggalkan ruang perawatan.
("Kenapa aku sangat yakin jika dia bukan Alona? Aku akan tanyakan ke Edward," ucap dokter tersebut dalam hati).
"Maaf Nyonya saya ingin mengecek kondisi Nyonya," ucap dokter tersebut.
"Tidak perlu, lebih baik ambilkan obat penghilang gatal karena aku sangat tersiksa," ucap Alena.
Alena masih menggaruk tangan, wajah dan tubuhnya yang terasa gatal hingga darah segar keluar dari tubuh, wajah dan tangan Alona.
"Maaf Nyonya berhenti, ini berbahaya bisa infeksi," ucap dokter tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak perduli karena aku sangat gatal apalagi suamiku sangat kaya jadi aku bisa operasi wajahku lagi," ucap Alena keceplosan.
"Nyonya pernah operasi?" tanya dokter tersebut.
"Dokter ini benar-benar buta ya? tidak bisa membedakan wajah yang asli dan yang bukan?" tanya Alena dengan nada ketus.
"Maaf Nyonya, saya orang kampung jadi tidak tahu," ucap dokter tersebut pura-pura tidak tahu.
"Memang dokter tidak bisa melihat hidungku sangat mancung dan pipiku tirus?" tanya Alena sambil menunjuk hidung dan pipinya.
("Pantas saja aku merasa ada yang beda hidung dan pipinya seperti habis operasi karena sebelumnya hidung dan pipi Alona tidak seperti itu," ucap dokter tersebut dalam hati).
"Sejak kapan operasi?" tanya dokter tersebut.
"Sebulan yang lalu," jawab Alena.
"Apakah Nyonya punya saudara kembar?" tanya dokter tersebut.
"Tentu saja i.... ( menjeda kalimatnya ) ... tidak .. Dasar cerewet cepat ambilkan salepnya!" perintah Alena.
("Pasti iya tapi karena sadar jawabannya tidak," ucap dokter tersebut dalam hati).
Ceklek
Ketika dokter itu mengatakan sesuatu pintu ruang perawatan terbuka membuat dokter dan Alena menatap ke arah pintu tersebut. Mereka melihat perawat datang sambil membawa salep.
"Dasar perawat tidak berguna, ambil salep saja lama," omel Alena yang masih menggaruk sambil meniup karena terasa perih dan gatel secara bersamaan.
__ADS_1
"Maaf Nyonya," jawab perawat tersebut sambil berjalan dengan cepat.
"Mau saya bantu untuk mengoleskan salep nya Nyonya?" tanya perawat tersebut ketika sudah sampai di ranjang di mana Alena berbaring.
"Biar aku saja, aku tidak ingin tangan kotor mu merusak kulitku jadi lebih baik kalian pergilah," usir Alena.
"Baik Nyonya," jawab dokter dan perawat tersebut sambil menahan amarahnya.
Mereka pun pergi meninggalkan ruangan tersebut sedangkan Alena mulai mengolesi bagian tubuhnya yang gatal sambil mendesis menahan rasa perih akibat dirinya menggaruk.
"Awas kamu Alona, akan aku balas kamu," ucap Alena sambil menahan amarahnya.
Setelah hampir setengah jam akhirnya Alena sudah selesai mengolesi bagian yang gatal kemudian Alena berbaring di ranjang dan tidak berapa lama dirinya tidur dengan pulas nya.
Tidak terasa jam berjalan dengan cepatnya dan Edward kini berada di ruang perawatan sambil menatap Alena yang matanya masih terpejam tanpa berkedip.
Alena yang merasa diperhatikan perlahan membuka matanya dan dirinya sangat terkejut karena tiba-tiba saja Edward sudah datang dan menatap nya seperti ingin menginterogasi.
"Ada apa sayang?" tanya Alena.
"Siapa kamu?" tanya Edward.
"Aku Alona istrimu, kenapa kak Edward bertanya?" tanya Alena pura-pura tidak tahu.
("Pasti masalah tentang aku membentak bodyguard, dokter dan perawat. Awas saja kalian akan aku balas karena berani mengadu," ucap Alena dalam hati).
"Aku merasa kamu bukan Alona karena Alona yang aku kenal tidak pernah berkata kasar," ucap Edward.
__ADS_1