
"Biarkan aku ambil sendiri makanannya," jawab Edward.
"Bukankah ini salah satu permintaanku jadi ijinkan aku menjadi istri yang baik selama dua tahun," ucap Alona.
Edward melepaskan tangannya membuat Alona tersenyum kemudian mengambil makanan untuk Edward. Edward sangat terkejut sekaligus bahagia karena dirinya pertama diperhatikan oleh seorang wanita dan wanita itu istrinya yang bernama Alona yang baru saja dinikahi.
("Aku akan melakukan yang terbaik untukmu dan di saat kamu tidak membutuhkan aku lagi di saat itu pulalah aku tidak melakukan ini lagi karena aku ingin memberikan yang terbaik untuk suamiku untuk dijadikan kenangan terakhir kita," ucap Alona dalam hati).
"Silahkan makan," ucap Alona.
Tanpa banyak bicara Daka langsung makan sedangkan Alona berdoa terlebih dahulu setelah selesai Alona mulai makan.
("***Aku tidak menyangka masakan Alona ternyata enak sekali membuatku ingin nambah lagi," ucap Edward dalam hati).
("Syukurlah suamiku sangat menyukai masakan yang aku buat," ucap Alona dalam hati***).
Edward makan dengan lahap untuk pertama kalinya selama ini dirinya tidak pernah seperti ini. Setelah makanan dalam piring habis, Alona dengan sigap mengambil piring milik Edward ketika Edward ingin mengangkat piring tersebut.
"Mau nambah?" tanya Alona sambil tersenyum.
"Ya," jawab Edward singkat.
Alona mengambil makanan dan diletakkan ke dalam piring setelah selesai piring tersebut diberikan ke Edward.
"Ini kak," ucap Alona sambil tersenyum kembali kemudian mulai melanjutkan makanannya.
("***Kenapa Alona tersenyum? Apakah dia tidak tahu kalau senyumannya membuat jantungku berdebar kencang?" tanya Edward dalam hati sambil memalingkan wajahnya ke arah piring tanpa mengeluarkan suara sedikitpun).
("Kak Edward tahu senyuman yang aku berikan ini adalah senyuman di mana suatu saat nanti kak Edward akan merindukan aku di kala kita berpisah," ucap Alona dalam hati***).
Mereka makan dalam diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun hingga lima belas menit mereka sudah selesai makan dan minum.
Alona langsung turun dari kursi kemudian mengangkat piring milik Edward untuk disatukan ke piringnya kemudian menumpuk dua gelas miliknya dan milik Edward yang barusan digunakan.
Edward hanya diam namun ke dua matanya menatap ke arah Alona yang sedang mencuci piring.
"Kalau kak Edward ingin istirahat, istirahat saja biar aku yang membereskan ini semua," ucap Alona sambil masih mencuci piring.
"Apakah kamu mengusirku?" tanya Edward yang tidak suka dengan ucapan Alona.
("Sebenarnya aku ingin mengatakan aku ingin melihatmu sedang mencuci piring dan gelas kotor di tambah melihat leher mulus Alona," ucap Edward dalam hati yang tidak mungkin mengatakan hal tersebut).
"Maaf," jawab Alona sambil memalingkan wajahnya ke arah Edward dan tersenyum kemudian mengarahkan kembali ke arah gelas yang di cucinya.
("Wajahnya tersenyum tapi kenapa sorot matanya menyiratkan kesedihan? Sudahlah buat apa aku pikirkan," ucap Edward dalam hati).
Tidak berapa lama Alona sudah selesai mencuci piring dan gelas kemudian berjalan meninggalkan meja makan.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Edward.
"Ke kamar? Ada yang bisa aku bantu lagi?" tanya Alona yang masih tersenyum walau dalam hatinya menyimpan kesedihan.
"Buatkan aku kopi hitam jangan terlalu manis dan tidak pahit," pinta Edward.
"Baik," jawab Alona singkat sambil membalikkan badannya.
Alona memasak air sambil menunggu air mendidih Alona mengambil cangkir kemudian memasukkan kopi dan gula setelah selesai bersamaan airnya mendidih. Alona menuangkan air tersebut ke dalam cangkir kemudian di aduk.
"Ini kopi nya, apakah ada yang lainnya?" tanya Alona.
"Duduklah, ada yang aku katakan padamu," ucap Edward.
"Baik," jawab Alona singkat.
Alona dengan patuh duduk di sebelah Edward sedangkan Edward mengambil dompetnya yang disimpannya di saku celana panjangnya.
"Walau kita tidak melakukan hubungan suami istri tapi aku akan tetap memberikan nafkah," ucap Edward sambil membuka dompetnya kemudian mengambil dua kartu.
"Kartu debit ini berisi uang seratus juta gunakan untuk belanja bulanan karena mulai sekarang dan seterusnya sampai pernikahan kita berakhir kamu memasak makanan dan setiap bulan aku akan mentransfer. Nomer pin tanggal pernikahan kita dan satu lagi kartu kredit hitam tanpa batas gunakan untuk kamu belanja. Terserah kamu membeli pakaian baru, sepatu, tas atau apa saja," ucap Edward sambil menyerahkan dua kartu tersebut.
"Baik," jawab Alona singkat sambil menerima ke dua kartu tersebut.
"Apakah ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya Edward yang melihat Alona ingin bicara.
"Oh ya aku lupa mengatakan kalau aku masih berkerja dan hampir satu Minggu aku libur. Bolehkah aku berkerja?" tanya Alona penuh harap.
"Cukup malah sisa banyak," jawab Alona.
"Lalu kenapa kamu masih mau berkerja? Apa jangan - jangan kamu ingin mencari kepuasan laki - laki karena aku tidak memberikan kepuasan untukmu?" tanya Edward dengan tatapan menghina.
Alona menggenggam ke dua tangannya dengan erat untuk menahan amarahnya sambil berusaha menahan agar air matanya tidak keluar.
"Kalau kak Edward sudah tahu, kenapa mau menikah denganku? Bagaimana kalau kita bercerai dan kak Edward mencari wanita lain?" tanya Alona sambil memalingkan wajahnya.
"Alona!!!" teriak Edward sambil mengangkat tangan kanannya.
"Ingin menamparku? Silahkan? Ayo tampar!!!" teriak Alona sambil menatap wajah tampan suaminya dengan tatapan kecewa, marah dan sedih.
tes
tes
tes
Air mata Alona yang sejak tadi di tahan akhirnya keluar juga.
__ADS_1
"Asal kak Edward tahu jika setitik aku terluka maka aku akan kabur dari mansion ini," ancam Alona sambil berlari ke arah tangga.
"Alona!!!" teriak Edward.
Edward yang sempat terdiam mendengar ucapan Alona diam membatu setelah tersadar Edward mengejar Alona ke arah tangga membuat Alona yang berada di tengah tangga berlari dengan langkah cepat menaiki anak tangga hingga di depan pintu Alona masuk ke dalam kamarnya kemudian menguncinya.
Brak
Brak
"Alona buka pintu!!!" teriak Edward.
Brak
Brak
"Alona!!!" teriak Edward sambil masih menggedor pintu.
Alona yang berada di dalam kamar melihat pisau buah membuat pikiran Alona menjadi sempit.
"Hiks ... Hiks... Ibu .... Ayah ... Alena ... Edward ... hiks... Hiks ... Hiks ... Tidak ada satupun yang menyayangiku .... Aku pikir setelah menikah kak Edward benar - benar mencintaiku tapi aku salah .. Kak Edward sangat membenciku dan merendahkan aku? Padahal aku bukan wanita seperti itu. Mungkin dengan kematian ku bisa membuat orang bahagia," ucap Alona sambil menggenggam pisau itu dengan erat.
jleb
Alona mengarahkan pisau tersebut ke dalam perutnya hingga darah segar keluar dari perutnya.
"Ayah, Ibu, Alena dan kak Edward mungkin dengan kematian ku membuat kalian bahagia," ucap Alena lirih.
Pandangan Alona mulai mengabur bersamaan dirinya mendengar suara pintu di dobrak.
"Alona!!!" teriak Edward dengan nada kesal tanpa mengetahui kalau Alona me nu suk perutnya dengan pisau buah karena posisinya membelakangi Edward.
"Kak Edward mungkin dengan kematian ku bisa membuatmu bahagia." ucap Alona lirih namun terdengar jelas di telinga Edward.
Bruk
"Alona!!!"teriak Edward.
Selesai bicara Alona langsung ambruk dan tidak sadarkan diri membuat Edward sangat terkejut dan berteriak karena dirinya tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Alona.
Grep
Sebelum terjatuh ke lantai Edward menahan tubuh Alona kemudian menggendongnya ala bridal style.
"Alona bangun," ucap Edward.
Tes
__ADS_1
Tes
Tanpa sadar air mata Edward membasahi wajah Alona kemudian Edward membawanya keluar kamarnya menuju ke rumah sakit.