
"Waktu aku pergi ke mall ada orang penggemar kak Edward karena itulah dia mencekik ku," ucap Alona yang sudah memikirkan ketika berada dalam perjalanan ke rumah sakit.
"Sahabatku Edward memang banyak dikagumi para gadis dan wanita tapi Edward tidak pernah memperdulikan nya karena itulah aku sangat kaget ketika tiba-tiba Edward akan menikah. Kamu hebat bisa menaklukkan pria sedingin Edward.
("*Aku tidak hebat kak, tapi aku wanita si*l yang bisa menikah dengan kak Edward," ucap Alona dalam hati sambil tersenyum*).
"Aku ingin keluar dok," ucap Alona.
("Keluar dari rumah sakit atau melarikan diri dari kak Edward karena aku tidak ingin anakku terluka," sambung Alona dalam hati).
"Kamu tidak apa-apa?" tanya dokter tersebut.
"Tidak apa-apa dok," jawab Alona.
"Oh ya hampir lupa kalau di tanya bilang saja tadi belum sempat makan siang karena itulah aku pingsan," ucap Alona.
"Baiklah, tapi nunggu infusnya habis baru boleh keluar," jawab dokter tersebut.
"Baik dok," ucap Alona terpaksa patuh.
"Kalau begitu aku ingin bertemu dengan Edward," ucap dokter tersebut.
"Baik dok," jawab Alona lagi.
Dokter tersebut menganggukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan Alona untuk menemui Edward.
__ADS_1
("Sayang, kamu yang kuat ya? Mommy janji jika seandainya kalian kembar Mommy tidak akan pilih kasih, Mommy akan sayang dengan kalian dengan sepenuh hati Mommy. Mommy tidak akan membedakan kalian seperti Oma kalian yang selalu membedakan Mommy dengan Tante mu," ucap Alona dalam hati sambil membelai perutnya yang masih rata).
("***Kita akan pergi dari kota ini memulai hidup baru karena tidak ada yang menyayangi Mommy baik keluarga Mommy dan juga Daddy kalian. Maafkan Mommy memisahkan kalian dengan Daddy kalian karena Daddy sangat membenci Mommy," ucap Alona dalam hati).
("Kenapa aku bilang kalian? Apakah anakku kembar?" tanya Alona dalam hati sambil berpikir***).
Alona melihat pintu ruangan UGD di buka membuat Alona berhenti membelai perutnya yang masih rata dan pura - pura memejamkan matanya.
"Aldo, istriku benar tidak apa-apa?" tanya Edward.
"Iya, karena belum makan makanya istrimu pingsan," ucap Dokter Aldo.
"Pindahkan ke ruang perawatan VVIP," ucap Edward.
"Sendiri," jawab Edward singkat.
"Ok," jawab dokter Aldo singkat sambil pergi meninggalkan mereka berdua.
"Bangunlah, aku tahu kamu pura - pura tidur," ucap Edward dengan nada dingin.
Alona membuka matanya tanpa mengeluarkan suaranya.
"Apa yang ditanyakan oleh nenek? Kamu tidak mengatakan kalau aku menyiksamu bukan?" tanya Edward.
"Tenang saja, aku tidak akan mengatakan ke nenek atau ke siapapun," jawab Alona.
__ADS_1
"Baguslah," jawab Edward singkat.
Alona hanya diam hingga Alona bangun dari ranjang.
"Mau kemana?" tanya Edward.
"Ke toilet," jawab Alona sambil mengarahkan tangan kanannya untuk menarik selang infus.
grep
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Edward sambil menahan tangan Alona.
"Aku ingin ke toilet karena itulah aku ingin menarik selang infus," jawab Alona sambil menarik tangannya yang di gengam oleh Edward.
("Sebenarnya bukan ke toilet tapi aku ingin kabur," sambung Alona dalam hati).
"Kalau pingsan lagi, kamu akan menyusahkan aku lagi," ucap Edward dengan nada pelan namun matanya tajam ke arah Alona.
"Tidak usah memperdulikan aku kak, jika aku tiada bukannya kak Edward suka?" tanya Alona.
"Apa maksudmu Alona? Kakak tidak suka mendengarnya," ucap Edward.
"Kenapa tidak suka? Jika aku tiada bukankah aku tidak lagi menjadi beban kakak apalagi nenek kakak sudah sadar jadi biarkan aku hidup sendiri," ucap Alona.
"Maksudmu kita berpisah?" tanya Edward tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Alona.
__ADS_1