Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia

Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia
Apartemen


__ADS_3

"Sama sekali tidak perduli karena itulah ketika kamu mengkuatirkan keadaan Kakak membuat Kakak sangat terharu dengan perkataanmu." Jawab Delon dengan jujur.


"Tentu saja Aku sangat kuatir karena Mommy, Daddy dan Kak Delon adalah orang yang sangat berarti buat Joana." Jawab Joana dengan jujur.


"Kok hanya orang tua Kakak dan Kakak yang sangat berarti? Memangnya orang tua Joana tidak?" Tanya Delon penasaran sekaligus terkejut dengan perkataan Joana.


"Mommy, Daddy dan Kak Delon sangat berarti karena sangat tulus menyayangi Joana sedangkan ke dua orang tua Joana tidak dikarenakan selama ini Joana tidak pernah merasakan apa itu kasih sayang mereka." Jawab Joana jujur.


"Kalau boleh tahu apakah sekarang mereka menanyakan kabarmu dan menanyakan apakah tinggal sama kami atau tidak?" tanya Delon penasaran.


"Tidak sama sekali, Kak. Mereka sama sekali tidak perduli dengan Joana." Jawab Joana.


"Sudahlah Kak jangan bahas ke dua orang tuaku bikin aku ingin menangis." sambung Joana yang tidak ingin membahas orang tuanya.


"Ok." Jawab Delon dengan singkat.


Joana dan Delon sama-sama saling diam hingga tidak terasa mereka sudah sampai di mall. Delon menggandeng tangan Joana dan berjalan ke arah butik untuk membelikan pakaian dan sepatu buat Joana.


"Kita mau beli apa Kak?" Tanya Joana.


"Sepatu dan pakaian." Jawab Delon.


"Mommy sudah membelikan Aku sepatu dan pakaian jadi tidak usah saja Kak. Mendingan beli bedak dan perlengkapan mandi karena Joana belum ada." Ucap Joana.


"Masih kurang banyak." Ucap Delon.


"Tapi ...." Ucapan Joana terpotong oleh Delon.


"Tidak ada penolakan setelah itu baru kita beli apa yang kamu butuhkan." Ucap Delon dengan nada tegas.


Joana menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian mereka masuk ke dalam butik dan tanpa mereka ketahui kalau sejak tadi ada empat pasang mata yang memperhatikan mereka berdua.


Delon meminta Joana untuk mencoba dress dan sepatu dengan berbagai model setelah hampir setengah jam akhirnya Joana sudah selesai mencoba pakaian dan sepatu. Delon meminta pemilik butik untuk mengirimkan ke mansion milik orang tua Delon.


"Pakaian dan sepatu sudah sekarang kita ke toko tas." Ucap Delon.


"Beli satu saja ya Kak tasnya." Pinta Joana.


"Tidak, beli satu lusin." ucap Delon.


"Kebanyakan Kak apalagi Mommy sudah membelikan Joana beberapa tas." Ucap Joana berusaha untuk menolaknya.


"Dua puluh empat lusin." Ucap Delon tanpa menjawab ucapan Joana.


"Kok malah nambah?" Tanya Joana dengan nada protes.

__ADS_1


"Tiga puluh enam lusin, selama Kamu protes maka akan ditambahkan dua belas lusin." Jawab Delon dengan nada santai.


Joana hanya menatap kesal ke arah Delon membuat Delon tersenyum. Kemudian Joana mulai mencoba sepatu setelah selesai sepatu - sepatu tersebut dikirim ke mansion milik orang tua Delon.


"Ada yang ingin di beli lagi?" Tanya Delon.


Grep


"Sudah cukup sekarang Kita pulang." Ucap Joana sambil menarik tangan Delon agar keluar dari toko sepatu.


Delon terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Joana sekaligus sangat senang karena Joana menggenggam tangannya membuat Delon membalas genggaman tangan Joana.


Ketika Joana dan Delon saling berpegangan tangan tiba - tiba terdengar suara dari arah belakang. Awalnya Joana mengira wanita itu berbicara sama orang lain membuat Joana tidak memperdulikannya.


Namun ketika ada orang yang membalas ucapan wanita itu Joana sangat terkejut pasalnya suaranya sangat familiar di telinganya begitu pula dengan Delon.


"Aku tidak menyangka kalau putrimu menjadi wanita simpanan." Ucap salah satu wanita dengan nada menghina.


"Aku saja sebagai Mommynya tidak menyangka sama sekali kalau putriku menjadi wanita simpanan apalagi dirimu." Ucap ibunya Joana dengan nada menghina.


"Kalau Aku mempunyai putri seperti itu sudah Aku buang ke laut karena bikin malu keluarga." Ucap wanita satunya lagi.


"Sama, Aku juga." Ucap ke dua wanita lainnya


"Sudah, lebih baik Kita pergi dari sini." Ucap Delon yang tidak ingin ribut sambil menarik tangan Joana.


Tanpa banyak bicara, Joana dan Delon pergi meninggalkan mall tanpa mempedulikan hinaan dari mulut Ibunya dan teman - teman sosialita Ibunya.


Kini Joana berada di dalam mobil begitu pula dengan Delon. Joana menangis dan dalam tangisan Joana mengatakan kalau orang tuanya tidak menyayangi dirinya dengan tulus.


"Sstttttt... Sudah ... Masih ada Mommy, Daddy dan Kakak yang menyayangimu dengan tulus " Ucap Delon sambil mengusap punggung Joana agar rasa sesaknya berkurang.


Joana hanya diam namun Joana masih terisak menghilangkan rasa sesak dihatinya setelah hampir lima belas menit kemudian Delon mendorong perlahan tubuh Joana.


"Mulai sekarang dan seterusnya jangan menangisi mereka karena air matamu sangat berharga untuk menangisi mereka. Mereka tidak mengerti arti kasih sayang yang sesungguhnya." Ucap Delon sambil menghapus air mata Joana dengan menggunakan ke dua ibu jarinya.


Joana hanya menganggukkan kepalanya sedangkan Delon menatap bibir Joana. Delon memberanikan diri mendekatkan wajahnya ke arah wajah Joana membuat Joana memejamkan matanya.


Cup


Delon mengecup bibir Joana singkat kemudian mencium kembali bibir Joana tapi kali ini berbeda yaitu berupa lu x ma x tan. Delon menggigit bibir bawah Joana agar terbuka.


Joana pun langsung membuka bibirnya dan Delon pun memasukkan lidahnya ke dalam mulut Joana sambil tangan kanannya tidak tinggal diam, masuk ke dalam dress Joana kemudian membelai paha Joana.


Tubuh Joana seperti tersengat listrik membuat Joana mengalungkan ke dua tangannya ke leher Delon. Hingga Joana menepuk bahu Delon tanda dirinya kehabisan nafas.

__ADS_1


Delon yang mengerti langsung melepaskan ciumannya dan berpindah ke leher mulus Joana dan meninggalkan jejak kemerahan.


"Ahhhhhhh.."


Suara merdu keluar dari mulut Joana membuat Delon tersenyum bahagia kemudian Delon melanjutkan kembali mencium leher Joana sambil meninggalkan jejak kemerahan.


Tangan nakal Delon tidak bisa tinggal diam di mana tangan Delon menyentuh bagian privasi milik Joana yang sudah mulai basah akibat ulah dirinya tanda kalau Joana sudah mulai terang x sang.


Tombak sakti milik Delon semakin bertambah sesak membuat Delon melepaskan ciumannya dan kembali duduk dengan normal.


"Kak Delon, kenapa berhenti?" Tanya Joana dengan nada protes karena dirinya ingin segera dituntaskan.


"Maaf, Kakak takut kebablasan." Jawab Delon sambil menyalakan mobil.


Joana hanya terdiam sambil memalingkan wajahnya ke arah samping jendela seakan dirinya sangat kesal dengan Delon sedangkan Delon yang melihat wajah kecewa Joana menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


"Apakah kamu mau menyerahkan harta berharga mu untuk Kakak?" Tanya Delon sambil masih mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.


"Maksud Kak Delon?" tanya Joana dengan wajah bingung.


Delon menghentikan mobilnya kemudian menarik tangan Joana membuat Joana menatap ke arah Delon. Delon mengarahkan tangan Joana untuk menyentuh tombak sakti miliknya yang sudah sangat tegang.


"Kamu bisa merasakannya?" Tanya Delon sambil menatap ke arah wajah cantik Joana.


"Keras dan panjang, apakah muat masuk ke punyaku?" Tanya Joana polos.


"Apakah kamu ingin mencobanya?" tanya Delon sambil menatap ke arah Joana.


Joana menganggukkan kepalanya tanpa berpikir terlebih dirinya sering melihat ke dua orang tuanya dan juga paman bersama kekasihnya membuat Joana ingin merasakannya.


"Kamu yakin?" Tanya Delon memastikan.


"Sangat yakin." Jawab Joana.


"Kenapa kamu mau memberikan kehormatan mu untuk Kakak?" Tanya Delon.


"Karena Kak Delon sangat baik padaku dan aku percaya Kak Delon akan bertanggung jawab." Jawab Joana.


"Baiklah, kalau begitu kita ke apartemen milik Kakak." Ucap Delon yang juga ingin merasakan tubuh Joana.


Selesai mengatakan hal itu Delon menyalakan kembali mobilnya kemudian melanjutkan perjalanannya namun kini bukan ke mansion orang tuanya melainkan apartemen miliknya.


Wajah Delon terlihat jelas sangat gembira dan ingin lekas sampai di apartemen miliknya berbeda dengan Joana, yaitu apakah keputusannya sudah tepat memberikan kehormatan untuk pria yang baru di kenalnya yang belum ada satu hari.


'Jika aku hamil, bagaimana?' tanya Joana dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2