
Alona menganggukkan kepalanya tanda setuju membuat Edward tersenyum bahagia kemudian melepaskan pelukannya.
Edward menarik tangan Alona ke arah ranjang membuat Alona mengikuti langkah suaminya. Sampai dekat ranjang Edward mendorong tubuh Alona ke ranjang membuat Alona jatuh di ranjang dengan tubuh terlentang.
Edward menaiki tubuh Alona kemudian memberikan pemanasan terlebih dahulu sambil melepaskan satu persatu pakaiannya begitu pula dengan Alona hingga tubuh mereka polos tanpa sehelai benangpun.
Jleb
"Ahhhhhhh..."
Suara merdu yang keluar dari mulut Alona membuat Edward tersenyum bahagia membuat Edward menggoyangkan pinggulnya secara berulang-ulang hingga setengah jam kemudian keluarlah lahar dari tombak saktinya.
Setelah beberapa saat Edward menarik tombak saktinya kemudian menggulingkan tubuhnya ke arah samping. Edward memeluk tubuh polos istrinya sambil mengecup pucuk kepalanya.
"Terima kasih sayang, aku sangat puas sekali," ucap Edward.
"Aku juga sangat puas," jawab Alona sambil membalas pelukan suaminya.
("Aku selalu berusaha menuruti permintaanmu sampai kak Edward tidak percaya padaku dan menyiksaku di saat itu pula aku akan pergi dari kehidupanmu," ucap Alona dalam hati).
("Tanpa aku sadari kalau aku sangat mencintai istriku dan kecanduan dengan tubuhnya," ucap Edward dalam hati).
"Kita mandi bersama setelah itu kita makan karena takut keburu dingin," ucap Alona yang sejak tadi mereka terdiam karena sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Ok," jawab Edward singkat.
Edward turun dari ranjang kemudian menggendong Alona membuat Alona sangat terkejut dan langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya.
"Darling, turun aku bisa jalan sendiri," ucap Alona.
"Biar cepat," ucap Edward.
Edward berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket begitu pula dengan Alona hingga satu setengah jam kemudian barulah mereka keluar dari kamar mandi.
Wajah Edward sangat segar dan tersenyum bahagia namun kebalikannya dengan Alona. Wajah Alona sangat lelah dan merasa seperti tidak bertulang.
__ADS_1
"Darling, makan saja dulu nanti keburu dingin aku mau memejamkan matanya lima menit saja," ucap Alona sambil berjalan ke arah ranjang dengan menggunakan jubah handuk begitu pula dengan Edward.
Bruk
Alona berbaring di ranjang dengan menutup ke dua matanya karena tubuhnya benar - benar sangat lelah.
"Kamu tidak makan?" tanya Edward.
"Nanti saja," jawab Alona tanpa membuka ke dua matanya.
"Kalau kamu belum makan, aku juga nanti saja, ucap Edward sambil berbaring di ranjang.
"Nanti Darling sakit jadi lebih baik Darling makan," ucap Alona dengan suara pelan namun masih terdengar di telinga Edward.
"Lalu bagaimana denganmu? Kalau kamu tidak makan nanti kamu sakit," ucap Edward.
"Aku sakit atau aku tiada tidak ada yang memperdulikan aku tapi kalau kak Edward sakit banyak yang memperdulikan," jawab Alona dengan suara masih pelan.
"Apa maksudmu Alona?" tanya Edward yang tidak suka mendengar ucapan Alona.
Hening
Hening
"Alona, kenapa kata - katamu seakan kamu tidak semangat untuk hidup? Apakah benar ke dua orang tuamu tidak sayang padamu?" tanya Edward.
Edward memejamkan matanya dan tidak berapa lama Edward ikut tidur dengan pulas.
Mimpi Alona
"Kak Alona, aku akan ambil kak Edward karena kak Edward lah yang seharusnya menikah dengan diriku," ucap Alena sambil memeluk Edward dari arah samping begitu pula dengan Edward.
"Apa yang dikatakan oleh Alena benar, kamu hanya pengganti dan orang yang harus aku cintai adalah Alena bukan kamu," ucap Edward sambil menatap sinis ke arah Alona.
"Mommy dan daddy setuju karena kamu adalah pengantin pengganti," sambung Mommynya.
__ADS_1
"Betul kata Mommy," jawab daddy.
"Hiks.... Hiks ... Hiks ... Kenapa Mommy dan Daddy tidak menyayangi ku?" tanya Alona sambil terisak.
"Apa salahku? kenapa kalian lebih memilih Alena? Kenapa??? Hiks... Hiks... Hiks ..." ucap Alona sambil terisak.
xxxx
"Alona," panggil Edward sambil duduk dengan bersandar di kepala ranjang dan menepuk - nepuk pipi Alona dengan lembut.
Awalnya Edward baru saja tidur namun baru saja memejamkan matanya Edward mendengar suara isakan dari mulut Alona membuat Edward memaksakan membuka matanya dan langsung duduk dengan bersandar di kepala ranjang.
Grep
Alona membuka matanya dan langsung bangun dari ranjangnya. Alona memeluk tubuh suaminya sambil terisak membuat Edward membalas pelukan istrinya.
"Mimpi buruk?" tanya Edward.
Alona hanya menganggukkan kepalanya membuat Edward membelai rambut Alona dengan lembut.
"Mimpi itu hanya bunga tidur," ucap Edward.
Alona hanya terdiam setelah beberapa saat Alona melepaskan pelukannya begitu pula dengan Edward.
"Kita makan yuk," ajak Alona ketika beberapa saat mereka terdiam.
"Ayuk," jawab Edward singkat sambil menghapus air mata Alona dengan menggunakan ke dua ibu jarinya.
Mereka turun dari ranjangnya kemudian berjalan ke arah pintu kamar mereka. Kini mereka sudah berada di ruang meja makan dan seperti biasa Alona menyiapkan makanan untuk suaminya barulah untuk dirinya.
Lima belas menit kemudian mereka sudah selesai makan dan minum. Kini mereka berada di balkon sambil menikmati udara sore hari.
"Besok aku mau pergi ke apartemen setelah itu ke rumah sakit untuk melihat nenek," ucap Alona.
"Aku akan temani," ucap Edward.
__ADS_1
"Kak Edward akan bosan karena aku berencana mau menjual apartemenku," ucap Alona.
"Kenapa di jual?" tanya Edward penasaran.