Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia

Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia
Edwind, Edmund, Adara


__ADS_3

''Daddy kalian sangat kangen dengan kalian dan sebentar lagi kalian akan bertemu dengan Daddy kalian,'' ucap Alona.


'Maafkan Mommy sayang karena memisahkan kalian dengan Daddy kalian. Aku tidak tahu apakah Kak Edward masih mencintaiku atau sudah menemukan pengganti diriku,' sambung Alona dalam hati.


"Benarkah Mom, kalau kami sebentar lagi akan bertemu dengan Daddy?" tanya Edwind putra pertamanya penuh harap.


"Benar sayang," jawab Alona sambil tersenyum.


"Sekarang kalian lanjutkan lagi belajarnya karena Mommy ingin mengganti pakaian," ucap Alona sambil membalikkan badannya meninggalkan kamar ke tiga anak kembarnya.


Alona kini berada di kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang lengket hingga lima belas menit kemudian Alona sudah selesai mandi dan memakai pakaian santai.


Kini Alona berdiri di balkon sambil menikmati angin semilir hingga tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk. Alona membalikkan badannya dan berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu kamarnya.


Ceklek


Alona membuka pintu kamarnya dan melihat Katarina berdiri di depan pintu.


"Ada apa Tante?" tanya Alona.


"Tante minta bantuan mu, apakah bisa?" tanya Katarina.


"Apa itu Tante?" tanya Alona


"Tante pengen bikin kue dan Tante ingin kamu temani Tante untuk mengobrol sambil membuat kue," ucap Katarina sambil tersenyum.


"Baik Tante," jawab Alona.


Alona dan Katarina berjalan ke arah tangga menuju ke ruang dapur untuk membuat kue. Hingga setengah jam lebih Alona dan Katarina sudah selesai membuat kue dan kini Alona berada di kamarnya.


Alona duduk di ranjang sambil mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja dekat ranjang.


Alona menekan sandi ponselnya hingga Alona melihat ada dua panggilan masuk membuat Alona terkejut.


"Panggilan tidak terjawab dari Angel, ada apa ya?" tanya Alona.


Tiba-tiba ponselnya berdering membuat Alona menggeser tombol berwarna hijau kemudian menempelkan ponselnya ke telinganya.


xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx


Cerita tentang Angel dapat di baca di novelku dengan judul : Menikahi Pria Gangguan Jiwa


xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx xxxxxxxxxx


('Hallo Angel, maaf Mommy tadi habis mengobrol dengan Oma Katarina,' ucap Alona).


('Tidak apa-apa Mommy, Mommy waktu itu Mommy bilang kalau ada apa-apa hubungi Mommy dan Mommy juga bisa program IT,' ucap Angel).


('Benar, memang ada apa?' tanya Alona dengan wajah bingung karena tidak seperti biasanya Alona seperti itu).


('Mobil kami diikuti, bisakah Mommy mengecek ada berapa orang di dalam mobil yang mengikuti Angel?' tanya Angel penuh harap).


('Mommy akan usahakan, kamu ada di jalan apa biar Mommy meretas cctv yang ada di jalan,' ucap Alona sambil berjalan ke arah meja kemudian mengambil laptop untuk diletakkan di atas ranjang).


('Ada di jalan xxxx Mom,' jawab Angel).


('Ok, Mommy minta kamu nyalakan GPS-nya agar Mommy bisa melacak keberadaan mu,' ucap Alona).


('Baik Mommy,' jawab Angel patuh).


Tut Tut Tut


Sambungan komunikasi langsung diputuskan secara sepihak oleh Alona. Alona berjalan keluar dari kamarnya sambil membawa laptopnya hingga dirinya melihat ketiga anak kembarnya yang kini sudah tumbuh besar.


"Mommy mau kemana?" tanya putra pertamanya.


"Kak Angel dalam bahaya mobilnya diikuti Mommy mau menolong kakak kalian," jawab Alona.


"Kami ikut Mom," jawab ke tiga anak kembarnya bersamaan.


"Ok," jawab Alona sambil tersenyum.


Ke tiga anak Alona bisa bela diri dan juga ahli meretas data karena anggota keluarga besar Alvonso mengajarkan ke tiga anak Alona yang sangat suka belajar mengikuti sifat ke dua orang tuanya yang bernama Alona dan Edward.


Ke tiga anak mereka kini berusia dua belas tahun dan wajah mereka sangat mirip dengan Edward hanya sifat mereka sangat mirip dengan Alona baik dan mudah melupakan kesalahan orang lain.


"Ikut kemana nih?" tanya Katarina tiba-tiba datang bersama suaminya yang bernama Mikael.


"Angel, putri angkat ku mobilnya diikuti dan kami mau pergi untuk menolongnya," jawab Alona.


"Kalau begitu kita pergi sekarang membantu Angel, kita naik dua mobil saja," ucap Mikael.


"Ok," jawab mereka serempak.


Merekapun pergi meninggalkan mansion milik Mikael menuju ke tempat Angel. Di tempat yang berbeda bodyguard yang merangkap sebagai sopir mengendarai mobil di tempat jalan yang ramai.


"Mereka masih mengikuti mobil kita," ucap Angel.

__ADS_1


"Iya, sepertinya kita tidak bisa berputar-putar di tempat yang ramai. Arahkan mobil ke jalan yang sepi," perintah Arsene.


"Baik Tuan," jawab sopir tersebut.


"Angel, nanti di gang sebelah kanan kamu turun dari mobil," ucap Arsene.


"Terus kak Arsene?" tanya Angel dengan wajah kuatir.


"Kakak dan ke dua bodyguard kakak akan melawan mereka di jalan yang sepi," jawab Arsene yang tidak ingin kehilangan orang yang disayanginya terlebih Angel.


"Tidak, aku akan membantu kak Arsene untuk melawan mereka kebetulan aku bisa bela diri," jawab Angel.


"Kakak tidak tahu mereka ada berapa orang dan kakak tidak sanggup jika kehilanganmu karena itu lebih baik kamu turunlah di gang itu," ucap Arsene.


"Lalu bagaimana dengan ku? Apakah aku sanggup kehilangan kak Arsene? Tidak Kak aku tidak bisa kehilangan kak Arsene kita hadapi mereka bersama-sama," ucap Angel.


"Baiklah, tapi ingat jika kita terdesak kamu harus pergi menyelamatkan diri," pinta Arsene akhirnya.


"Baik," jawab Angel singkat.


("Maaf Kak Arsene walau kita nantinya terdesak aku tidak akan pergi meninggalkan dirimu," ucap Angel dalam hati).


Hingga setengah jam kemudian mobil milik Arsene berada di jalan yang sepi bersamaan salah satu mobil sengaja mendahului mobil milik Arsene kemudian mendadak menghentikan mobilnya.


Cittttttt


Bodyguard yang merangkap sebagai sopir terpaksa menghentikan mobil milik Arsene membuat Arsene memeluk Angel agar tidak jatuh dan menabrak jok mobil yang berada di depannya.


"Di belakang ada tiga mobil yang berhenti," ucap Angel yang melihat dari spion mobil.


"Aku pikir satu ternyata ada empat mobil," ucap Arsene yang salah perkiraan.


"Apakah kita di dalam mobil atau melawan mereka?" tanya Angel.


" Tentu saja melawan mereka, jawab Arsene sambil bersiap membuka pintu mobil.


"Tunggu sebentar," ucap Angel sambil membuka tasnya kemudian Angel mengambil besi ukuran kecil lebih kecil dari telapak tangannya. Angel menarik perlahan tuas tersebut hingga akhirnya berubah tongkat panjang.


"Pakai tongkat ini Kak," ucap Angel sambil memberikan tongkat ke Arsene.


"Terima kasih," jawab Arsene sambil menerima tongkat tersebut.


"Sama - sama Kak, oh ya Paman - paman mau pakai tongkat juga?" tanya Angel sambil mengambil lagi besi kecil.


"Kalau ada Nona," jawab ke dua bodyguard tersebut secara bersamaan.


"Terima kasih Nona," jawab bodyguard tersebut sambil menerima tongkat panjang tersebut.


"Sama-sama Paman," jawab Angel sambil mengambil lagi besi kecil tersebut kemudian menariknya hingga membentuk tongkat dan diberikan ke bodyguard.


"Terima kasih Nona," jawab bodyguard tersebut sambil menerima tongkat panjang tersebut.


"Sama-sama Paman," jawab Angel.


"Kamu duduklah di sini biar Kakak dan ke dua bodyguard Kakak melawan mereka," ucap Arsene yang tidak ingin Angel terluka sambil membuka pintu mobil begitu pula dengan ke dua bodyguard milik Tuan Albert Hall.


" Baik Kak," Jawab Angel.


Angel melihat Arsene dan ke dua bodyguard berkelahi dengan para musuhnya.


"Maaf kak Aku tidak bisa menuruti permintaan Kakak karena mereka terlalu banyak dan aku tidak ingin Kak Arsene terluka," ucap Angel sambil membuka tasnya kemudian mengambil besi ukuran kecil lebih kecil dari telapak tangannya.


Angel menarik perlahan tuas tersebut hingga akhirnya berubah tongkat panjang kemudian Angel membuka pintu mobil untuk membantu Arsene dan ke dua bodyguard milik Tuan Albert Hall.


Perkelahian yang tidak seimbang di mana empat orang melawan tiga puluh dua orang secara bergantian membuat Angel, Arsene dan ke dua bodyguard mulai terdesak tapi mereka berempat berusaha untuk bertahan sambil menunggu bantuan datang.


Di saat mereka benar-benar terdesak datang bantuan dari Alona, ke tiga anak kembarnya, Katarina, Mikael dan ke dua anak kembar Katarina dengan Mikael.


Bantuan mereka sangat berarti terlebih Katarina, ke dua anak kembarnya dan ke tiga anak kembar Alona dengan Edward bisa menggunakan kartu domino membuat para musuh banyak yang ma ti di tangan mereka.


Tanpa sepengetahuan mereka kalau salah satu penembak jitu mengarahkan senjatanya ke salah satu anak kembar Alona dengan Edward.


Dor


"Akhhhhhhhh.." teriak anak pertama Alona dengan Edward.


"Edwind!!" panggil Alona dengan terkejut sambil berlari ke arah Edwind.


Grep


Alona memeluk tubuh Edwind kemudian menggendongnya.


"Tante Katarina aku titip Edmund dan Adara," ucap Alona.


"Ok," jawab Katarina sambil pandangannya mencari keberadaan penembak jitu.


Jleb

__ADS_1


"Akhhhhhhhh.." teriak penembak jitu ketika terkena kartu domino milik Katarina.


"Edmund dan Adara jaga Mommy kalian sampai masuk ke dalam mobil," perintah Katarina.


"Baik Oma," jawab Edmund dan Adara bersamaan.


Alona berjalan dengan langkah cepat menuju ke arah mobil sedangkan Edmund dan Adara sesekali melempar kartu domino ketika ada orang yang ingin menyerang Alona hingga Alona masuk ke dalam mobil dan pergi menuju ke rumah sakit.


Selang satu menit datang Alex, Asher dan Axel mereka langsung membantu Arsene dan yang lainnya. Di susul datang keluarga besar Alexander di mana ikut membantu keluarga besar Hall.


"Lihat ke dua anak itu kenapa mirip dengan kak Edward?" tanya Jordan adik sepupunya Edward anak dari pasangan Jimmy dengan Jessica.


"Iya benar, Kak Edward," panggil Leo adik sepupunya anak dari pasangan Lemos dengan Soraya.


"Ada apa?" tanya Edward yang masih memukul dan menghindar begitu pula dengan adik sepupu lainnya.


"Kok ke dua anak itu mirip dengan kak Edward," ucap Jordan dan Leo bersamaan yang kebetulan posisi mereka dekat dengan ke dua anak Alona dengan Edward.


Edward mengalihkan pandangan ke arah ke dua anak remaja tersebut dan matanya langsung membulat sempurna karena wajahnya benar-benar sangat mirip.


Edmund dan Adara yang merasa diperhatikan memalingkan wajahnya ke arah Edward dan matanya membulat sempurna karena wajah mereka sangat mirip dengan Edward.


"Kak Edmund, apakah paman itu Daddy kita?" tanya Adara.


"Kakak tidak tahu," jawab Edmund.


Edward yang melihat ke dua remaja tersebut yang sedang menatap dirinya tidak menyadari akan datangnya bahaya membuat Edward refleks melangkahkan kakinya dengan cepat diikuti oleh Jordan putra pertama dari pasangan Jimmy dengan Jessica dan Leo anak dari pasangan Lemos dengan Soraya.


Duag


Duag


Edward spontan langsung memeluk Edmund dan Adara sebagai tamengnya sedangkan Jimmy dan Jordan langsung menendang tulang kering ke arah ke dua penjahat tersebut membuat ke dua penjahat tersebut langsung terjatuh.


"Daddy," panggil Edmund dan Adara bersamaan.


Deg


Deg


Jantung Edward berdetak kencang bukan karena jatuh cinta melainkan dirinya sangat terkejut sekaligus bahagia ketika ke dua remaja tersebut memanggil dirinya.


"Daddy, Kak Edwind terkena luka tembak dan sekarang di bawa sama Mommy ke rumah sakit," ucap Adara.


"Memang siapa nama Mommy kalian?" tanya Edward dengan tubuh gemetar.


"Mommy Alona, kalau nama Daddy... (menjeda kalimatnya) Daddy Edward," ucap Adara.


"Mommy Alona masih hidup," ucap Edward tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Tentu saja masih hidup, kan kecelakaannya direkaya..." ucap Adara yang tiba-tiba menutup mulutnya karena dirinya keceplosan.


"Direkayasa, sama siapa?" tanya Edward sambil menahan amarahnya karena selama dua belas tahun dirinya hidup dengan rasa bersalah terhadap istri dan ke tiga anak kembarnya yang belum dilihatnya.


"Daddy, lebih baik kita ke rumah sakit, kak Edwind kena luka tembak," ucap Edmund mengalihkan pembicaraan sambil menarik tangan Edward.


"Leo dan Jordan, aku ingin pergi ke rumah sakit," ucap Edward sambil berjalan meninggalkan tempat tersebut terlebih musuhnya sudah berhasil di buat babak belur.


Bantuan dari keluarga besar Daddy Thomas Alexander dan keluarga besar Daddy Alvonso membuat para musuh tidak berkutik dan langsung di bawa ke markas milik keluarga besar Daddy Alvonso.


"Memang siapa yang terluka?" tanya Leo dan Jordan bersamaan.


"Tidak ada yang terluka, kalian susul lah kami di rumah sakit," jawab Edward sambil menghentikan langkahnya.


Jordan dan Leo hanya menganggukkan kepalanya kemudian Edward melanjutkan kembali langkahnya menuju ke arah mobil.


"Edward, mereka ..." ucap Daddy Nathan pura-pura terkejut begitu pula dengan yang lainnya namun dalam hatinya tersenyum bahagia karena akhirnya Edward, Alona dan ke tiga anak kembarnya dapat berkumpul kembali.


Kecuali Delisa, Eden dan para cucu dan para cicit dari keluarga besar Daddy Thomas dengan mommy Gloria tidak tahu kalau sebenarnya Alona masih hidup.


"Mereka anak-anak Edward," jawab Edward dengan nada penuh yakin sambil menghentikan langkahnya.


"Kalian mau kemana?" tanya Daddy Nathan.


"Mau ke rumah sakit Dad, putra pertamaku terkena luka tembak," jawab Edward sambil kembali melangkah kan kakinya.


"Apa? Baik kami akan ke rumah sakit," jawab Daddy Nathan.


Edward hanya menganggukkan kepalanya kemudian Edward membuka pintu mobil dengan lebar agar ke dua anak kembarnya bisa masuk ke dalam mobil.


"Kami ikut," ucap Angel dan Arsene bersamaan sambil menyusul langkah Edward dengan ke dua anak kembarnya.


"Ok," jawab Edward singkat.


xxxxxxxxxx


Nanti di episode selanjutnya diceritakan kenapa Alona terpaksa menyembunyikan ke tiga anak kembarnya dengan Edward.

__ADS_1


__ADS_2