
"Pffftttt... Hahahaha... Sstttttt..." Alona tertawa terbahak-bahak namun tiba - tiba Alona meringis.
"Ada apa?" tanya Edward sambil berjalan ke arah Alona dengan wajah kuatir.
"Bekas jahitan di perut sakit ketika aku tertawa lepas," jawab Alona.
"Itu namanya kualat," jawab Edward sambil duduk di samping istrinya.
"Kok kualat?" tanya Alona.
"Suami sendiri diketawain jadi kualat," jawab Edward sambil menahan senyuman.
"Maaf deh Kak, oh ya kak Edward lemari yang berada di kamar mandi ada jubah handuk. Kak Edward pakailah jangan polos seperti itu," pinta Alona sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Satu ronde lagi ya?" pinta Edward.
"Perutku masih sakit nanti deh kalau sudah sembuh," pinta Alona.
"Janji?" tanya Edward.
"Iya janji, sekarang pakai jubah handuknya," pinta Alona.
"Ok," jawab Edward.
Edward turun dari ranjang kemudian berjalan ke arah kamar mandi untuk memakai jubah handuk. Satu menit kemudian Edward sudah memakai jubah handuk dan duduk di sisi ranjang.
"Mau aku ambilkan pakaianmu di lantai dua atau makan dulu?" tanya Edward.
__ADS_1
"Makan dulu, aku sangat lapar," jawab Alona.
"Ok." jawab Edward singkat.
"Aku makan sendiri saja," ucap Alona ketika Edward ingin menyuapi Alona.
"Pergelangan tanganmu masih di infus biar aku suapi," ucap Edward dengan nada tegas.
Alona hanya menganggukkan kepalanya kemudian Edward mulai menyuapi Alona.
("Perhatianmu padaku membuatku jatuh cinta padamu tapi aku sangat takut kalau ini hanya sementara." ucap Alona dalam hati dengan wajah sedih).
("Alona kamu harus sadar ke dua orang tua mu tidak mencintai dirimu dengan tulus kemungkin besar suatu saat nanti jika kak Edward bosan dia akan pergi meninggalkan dirimu jadi dirimu jangan terlalu banyak berharap," ucap bisikkan di sebelah kiri telinganya).
("Alona, walau pada saatnya nanti kak Edward melukai hatimu sama seperti ke dua orang tuamu maka kamu pergilah dari kehidupannya namun sebelum itu terjadi lakukan apapun yang di minta oleh suamimu tanpa membantah sedikitpun untuk dijadikan kenangan untuk kalian berdua nantinya," ucap bisikan di sebelah kanan telinganya).
"Nanti setelah kamu makan barulah aku makan," jawab Edward.
Alona hanya menganggukkan kepalanya setelah sepuluh menit kemudian Alona sudah selesai makan dan minum. Kini giliran Edward makan sedangkan Alona hanya menatap Edward makan membuat Edward terbatuk-batuk.
"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...."
"Kak Edward kenapa? Minum kak biar batuknya berkurang," ucap Alona dengan wajah kuatir.
Edward tanpa menjawab mengambil gelas yang berisi setengah, bekas minuman Alona yang tadi diminumnya.
"Itu kan gelas yang aku minum, lebih baik gelas yang masih baru," ucap Alona sambil menunjuk ke arah gelas milik Edward yang masih utuh.
__ADS_1
"Lebih enak bekas milikmu," jawab Edward dengan nada santai.
Alona hanya tersenyum sambil memalingkan wajahnya ke arah lain dengan wajah merona membuat Edward ikut tersenyum.
("Ternyata senang banget bisa menggoda Alona, Alona sangat imut sekali," ucap Edward dalam hati).
Edward kembali melanjutkan makanannya dan lagi - lagi Alona memperhatikan dirinya.
"Aku tahu kalau aku tampan tapi jangan perhatikan aku terus karena nanti aku batuk lagi," ucap Edward narsis.
"Memangnya suamiku tampan? Aku baru tahu kalau suamiku ternyata tampan sekaligus narsis juga," ucap Alona dengan wajah merona.
"Orang - orang bilang seperti itu,'' jawab Edward.
"Iya aku percaya, sekarang lanjutkan makanannya takut nanti ke selek," ucap Alona.
Edward tersenyum kemudian melanjutkan makannya hingga lima belas menit kemudian Edward sudah selesai makan dan minum.
"Kamu istirahatlah, aku mau nyuci piring dan gelas setelah itu aku baru mengambil pakaianmu yang di simpan di kamar atas," ucap Edward.
Alona hanya menganggukkan kepalanya kemudian Edward mengambil nampan yang berisi dua piring dan satu gelas karena gelas milik Edward masih utuh.
"Sepertinya aku memang jatuh cinta dengan kak Edward," ucap Alona ketika Edward sudah keluar dari kamarnya.
xxxxxxxxxx
Sambil menunggu up Silahkan mampir ke karya author dengan judul :
__ADS_1