Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia

Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia
Hukuman


__ADS_3

"Mau pulang Dad," jawab Edward ketika melihat Delon sedang berjalan ke arah berlawanan dan berhenti tepat dihadapan Edward.


"Sudah lebih baik?" tanya Delon.


"Sudah Dad," jawab Edward sambil melihat sekeliling ruangan.


"Daddy datang sendiri? Kemana yang lainnya?" tanya Edward.


"Iya Daddy sendiri," jawab Delon.


Delon menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menatap wajah Edward yang sangat mirip dengannya dengan tatapan sedih dan marah menjadi satu.


"Keluarga besar kita sangat kecewa dengan Mommy karena itulah mereka pulang satu demi satu," ucap Delon.


"Kecewa kenapa Dad?" tanya Edward.


"Mommy mu tidak menyadari akan kesalahannya karena telah membuat rumah tangga kalian berantakan di tambah Mommy menjelekkan Paman Lemos di depan keluarga besar kita," jawab Delon sambil menahan amarahnya.


"Menjelekkan? Maksud Daddy?" tanya Edward penasaran.

__ADS_1


Delon menceritakan semuanya dari awal hingga akhir tanpa ada yang ditutup - tutupi.


"Begitulah yang terjadi," ucap Delon mengakhiri ceritanya.


"Edward juga sangat menyesal Dad, karena waktu itu menuruti permintaan Mommy," ucap Edward.


"Daddy juga sangat kecewa dengan Mommy kalian karena itulah Daddy berencana akan menceraikan mommy kalian," ucap Delon.


"Jika itu memang yang terbaik buat Mommy dan Daddy, Edward tidak tidak akan melarang kalau Daddy berpisah dengan Mommy karena Edward juga sangat menyesal dan sangat kecewa kenapa dulu mengikuti permintaan Mommy untuk memberikan hukuman ke Alona hal itu membuat Edward harus kehilangan istri sebaik Alona di tambah kehilangan ke tiga anak kami,'' ucap Edward yang menyesali perbuatannya karena dirinya terpengaruh atas ucapan Delisa.


"Terima kasih, besok Daddy akan menemui pengacara untuk mengajukan permohonan perceraian," ucap Delon.


"Hati-hati,'' Ucap Delon.


Edward hanya menganggukkan kepalanya kemudian mengecup punggung tangan Delon . Setelah selesai Edward pergi meninggalkan rumah sakit sedangkan Delon menuju ke ruang perawatan di mana Delisa sedang berbaring dengan ditemani Eden.


Dalam perjalanan pulang, Edward hanya diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun pikirannya melayang jauh di mana dirinya mengingat sering memberikan hukuman ke Alona padahal Alona tidak melakukan kesalahan sedikitpun.


"Ke dua wanita ular dan satu pria ular itu ada di mana sekarang?" tanya Edward dengan nada dingin dan aura mem bu nuh.

__ADS_1


"Ada di markas Tuan," jawab bodyguard yang merangkap sebagai sopir.


"Antar kan aku ke markas," perintah Edward dengan nada masih dingin.


"Baik Tuan," jawab bodyguard tersebut.


Mobil itupun terpaksa memutar arah balik dan kebetulan suasana jalan lumayan sepi hingga dua puluh lima menitan kemudian mereka sudah sampai di markas milik Edward.


Edward turun dari mobil dan berjalan memasuki markasnya, banyak anak buahnya menunduk hormat dan sekaligus mereka merasakan aura kalau Edward bosnya yang seorang ketua mafia dalam suasana hati yang sangat buruk dan bisa dipastikan ke tiga tahanan nya akan mendapatkan siksaan yang sangat kejam.


*** Adegan Mengandung Kekerasan Jangan Di Tiru Kalau Tidak Suka Mohon Di Skip, Terima Kasih ****


Suara sepatu pantofel menggema di ruangan tersebut hingga Edward masuk ke dalam ruangan di mana ke dua orang tua Alena dan Alena sedang berdiri dengan ke dua kaki dan ke dua tangannya di ikat dengan menggunakan rantai besi yang sangat kuat di tambah mulut mereka di lakban.


Edward berjalan ke arah Alena membuat tubuh Alena menggigil ketakutan begitu pula dengan ke dua orang tua Alena.


"Cambuk," perintah Edward.


"Baik Tuan," jawab salah satu anak buahnya sambil memberikan sebuah cambuk ke Edward dan Edward langsung menerima cambuk tersebut membuat Alena menggelengkan kepalanya sambil meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Penyesalan mu sudah terlambat jadi percuma kamu keluarkan air matamu jadi terimalah hukuman buat kalian," ucap Edward dengan nada dingin dan datar.


__ADS_2