
"Kenapa perasaanku tidak enak ya?" tanya Delisa pada dirinya sendiri.
Wanita itu adalah Delisa, sejak Delisa pulang dari hotel untuk menghadiri pesta pernikahan putrinya Delisa pulang ke mansion dengan di antar sopir pribadinya.
Delisa berbohong dengan sahabatnya sekaligus besannya kalau suaminya pergi mengurus perusahaan yang sedang bermasalah.
Delisa yang sejak tadi berbaring di ranjang tidak bisa memejamkan matanya perasaannya sama sekali tidak enak. Ada rasa ingin telepon Eden tapi Delisa berusaha untuk tidak menghubungi Eden karena dirinya tahu kalau malam ini adalah malam pertama mereka dan tidak mungkin Delisa mengganggunya.
"Telepon tidak ya?" tanya Delisa yang sejak tadi memegangi ponselnya.
"Tapi tidak enak, takut mengganggu malam pertama mereka,'' ucap Delisa dengan nada ragu.
"Akhhhhhhhh... si*l ... kenapa aku memikirkan Eden terus? Dia pasti sudah bahagia bersama suaminya sedangkan aku? Aku tidur sendiri ... ini semua gara-gara keluarga Delon yang mencoba mempengaruhi Delon agar kami bercerai," ucap Delisa dengan nada kesal.
Delisa kembali meletakkan ponselnya di meja dekat ranjang kemudian memejamkan matanya dan tidak berapa lama Delisa bisa tidur dengan pulas namun belum ada dua jam dirinya terbangun karena dirinya mimpi buruk.
"Kenapa aku bermimpi Eden di siksa sama suaminya? Apa aku telepon saja?" tanya Delisa pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Delisa mengambil ponselnya kemudian menekan tombol ponselnya dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul empat belas tiga puluh menit.
"Kenapa aku selalu memikirkan Eden? Apa Eden memang dalam bahaya karena ternyata suaminya galak? Lebih baik aku telepon saja," ucap Delisa.
Delisa mencari nomer kontak Eden setelah ketemu Delisa menekan tombol warna hijau namun sambungan teleponnya tidak aktif membuat Delisa menjadi kesal.
"Pasti mereka sudah tidur makanya ponselnya tidak aktif," ucap Delisa.
Delisa tidak tahu kalau Agung yang sengaja menonaktifkan ponsel milik Eden sejak Agung dan Eden masuk ke dalam kamar pengantin di mana Eden masuk ke dalam kamar mandi.
Lebih baik aku tidur saja," ucap Delisa sambil kembali berbaring di ranjang.
Delisa kembali memaksakan untuk tidur namun Delisa tidur dengan gelisah. Kadang terlentang, kadang miring ke kanan, kadang miring kiri dan terkadang tengkurap.
"Akhhhhhhhh... Kenapa aku tidak bisa tidur?" tanya Delisa dengan nada frustrasi.
Delisa yang tidak bisa tidur terpaksa turun dari ranjang kemudian berjalan ke arah meja rias yang tidak jauh dari ranjangnya.
__ADS_1
Delisa mengambil beberapa butir obat tidur kemudian meminumnya sekaligus. Setelah selesai Delisa berjalan ke arah ranjang kemudian kembali berbaring di ranjang dan tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Delisa tidur dengan pulas.
xxxxxxxx
Di tempat yang berbeda tepatnya di mansion milik Agung di mana mansion itu berada di tengah hutan dan tidak ada cctv serta tidak ada alat komunikasi hal itu dilakukan agar tidak ada orang yang bisa meretas keberadaan dirinya mengingat Agung sudah tahu kalau keluarga besar Alexander ada hubungan keluarga dengan keluarga besar Alvonso.
Agung menggendong Eden seperti menggendong karung beras karena saat ini Eden masih tidak sadarkan diri. Agung berjalan ke arah pintu utama dan dua orang bodyguard memberikan hormat pada Agung kemudian membuka pintu utama.
Agung berjalan dengan santai menuju ke arah kamar pribadinya di mana kamar pribadinya serba hitam. Dari ranjang, cat dinding, sprei, sofa, lemari dan semua pernak pernik semuanya serba hitam kecuali lampu kalau lampunya hitam sama saja bolong hehehehe.
Ada beberapa lampu yang bergantung dekat ranjang, Agung meletakkan tubuh Eden kemudian Agung mengikat Eden dari ke dua tangan dan ke dua kaki membentuk huruf X dengan menggunakan rantai agar Eden tidak kabur.
Setelah selesai Agung berjalan ke arah laci untuk mengambil gunting kemudian berjalan ke arah ranjang bersamaan Eden perlahan membuka matanya sambil tangannya ingin memegang bahunya tapi Eden tidak bisa karena ke dua tangannya di ikat dengan rantai.
"Aku dimana?" tanya Eden sambil menatap sekeliling ruangan yang sangat asing.
__ADS_1