Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia

Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia
Alona dan Edward


__ADS_3

"Tapi kenapa kakak masih mau menyentuhnya? Bukankah kakak paling membenci jika tubuhnya bersentuhan dengan wanita mu ra han?" tanya Jordan penasaran begitu pula dengan Leo.


"Kakak juga tidak tahu kenapa kakak mau menyentuh wanita ko tor ini, mungkin dia sudah menolong kakak," jawab Edward yang juga bingung dengan dirinya.


Jordan dan Leo hanya diam mungkin benar apa yang dikatakan oleh kakak sepupunya hingga tidak terasa mereka sudah sampai di rumah sakit dan langsung di bawa ke UGD. Ke tiga pemuda tampan kini duduk menunggu tanpa memperdulikan tatapan lapar para gadis dan wanita yang menatapnya hingga Jordan merasa bosan dan mengatakan ingin pergi ke kantin.


"Kak, aku mau ke kantin mau nitip tidak?" tanya Jordan.


"Boleh, kakak pesan kopi hitam." jawab Edward.


"Leo, kamu pesan apa?" tanya Jordan.


"Aku ikut kak," jawab Leo


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Sekedar informasi nama anak - anak daddy Nathan dengan mommy Maya bersama nama pasangannya berserta anak - anak mereka adalah sebagai berikut :


Delon menikah dengan Delisa dan mempunyai sepasang anak kembar bernama Edward dan Eden.


Jimmy menikah dengan Jessica dan mempunyai sepasang anak kembar bernama Jordan dan Julia.


Lemos menikah dengan Soraya dan mempunyai sepasang anak kembar bernama Leo dan Leona.


Sela menikah dengan Presdir Axel dan mempunyai sepasang anak kembar bernama Axelo dan Axela.


Seli menikah dengan Presdir Albert dan mempunyai sepasang anak kembar bernama Ardian dan Ardera.


Cerita tentang Mommy Gloria dan Daddy Thomas dapat di baca novelku dengan judul Cinta Pertama Sang Mafia.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


"Ok, jawab Jordan singkat.


Jordan dan Leo pergi meninggalkan kakak sepupunya menuju ke arah kantin sedangkan Edward yang juga jenuh mengambil ponselnya untuk mengerjakan pekerjaan kantor namun ketika menatap ponselnya Edward melihat bayangan wajah kesedihan Alona seperti menghiasi ponsel Edward membuat Edward menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


("Kenapa wajah kesedihan Elona terbayang terus? Bahkan melihat layar ponselku seperti melihat wajah kesedihan Elona .... Tidak .... Tidak ... Aku tidak boleh memikirkannya ... dia sudah menabrak nenekku dan juga dia bukan wanita baik - baik ... Elona tidak pantas aku pikirkan," ucap Edward dalam hati).


Edward yang ingin mengerjakan kantor membatalkannya kemudian menyimpan kembali ponselnya di saku jasnya sambil menatap ke arah pintu UGD hingga tidak berapa lama pintu UGD terbuka. Edward langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu ugd bersamaan dokter keluar dari pintu ugd.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya?" tanya Edward dengan wajah kuatir.


"Untung di tolong tepat waktu jika tidak ... tuan Edward pasti sudah tahu jawabannya," jawab dokter tersebut.


Deg


Deg


Entah kenapa jantung Edward berdetak kencang ketika mendengar hal tersebut terlebih Elona sudah menolong dirinya menjadikan tubuhnya sebagai tamengnya membuat dirinya merasa bersalah tapi berusaha di tepisnya.


"Boleh aku melihatnya?" tanya Edward tanpa memperdulikan ucapan dokter tersebut.


"Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan," jawab dokter tersebut.


"Apakah tuan Edward menyukainya?" tanya dokter tersebut kepo.


"Tidak," jawab Edward singkat namun bertentangan dengan kata hatinya.


"Syukurlah," jawab dokter tersebut.


"Apa maksudmu?" tanya Edward dengan wajah tidak suka.


"Kamu ingin cari ma ti?" tanya Edward dengan nada dingin dan tatapan membunuh.


"Ayolah bro, kita ini berteman sejak masih kecil bahkan sekolah dan kuliah di tempat yang sama hanya beda jurusan tapi sikapmu seperti ini? Apa jangan - jangan kamu memang menyukainya?" tanya dokter tersebut merubah bahasa formalnya.


Edward tidak memperdulikan ucapan dokter sekaligus teman masa kecilnya malah Edward membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan dokter tersebut.


"Jadi bolehkah aku mendekati gadis itu?" tanya dokter tersebut.


"Kalau kamu mau tinggal di Afrika dan berkerja di rumah sakit Afrika silahkan saja," jawab Edward dengan nada santai sambil kembali melangkahkan ke dua kakinya yang sempat terhenti.


"Aish nyebelin," ucap dokter tersebut dengan wajah di tekuk.


"Jangan lupa di rawat di ruang perawatan VVIP." ucap Edward sebelum pergi menjauh.


"Aku sangat yakin Edward menyukai gadis itu tapi dirinya tidak mau mengakuinya atau bisa jadi dirinya belum menyadarinya," ucap dokter tersebut sambil berjalan ke ruangan lain untuk memeriksa pasien lainnya.


Perlahan Alona menggerakkan jari jemarinya dan tidak berapa lama Alona membuka ke dua matanya yang lentik sambil menatap ke sekeliling ruangan.

__ADS_1


("Aku di mana?" tanya Alona dalam hati sambil melihat ke arah sekelilingnya yang serba putih dan berada di ruangan yang lumayan besar).


("Terakhir yang aku ingat aku menjadikan tubuhku sebagai tamengnya setelah itu samar - samar aku melihat kak Edward memelukku dengan wajah penuh kuatir. Mungkin hanya perasaan saja karena tidak mungkin kak Edward kuatir denganku buktinya aku di sini sendirian," ucap Alona dalam hati dengan wajah sedih).


Tidak berapa lama air matanya keluar hatinya sangat sedih dan sangat terluka karena ke dua orang tuanya tidak menghubungi dirinya seakan tidak perduli apakah dirinya hidup atau ma ti.


Adik kembarnya yang selalu di lindungi dan bersedia dijadikan kambing hitam di tambah Edward yang merelakan dirinya dijadikan tameng juga tidak perduli padanya membuat dirinya tersenyum hambar.


"Sepertinya jika aku tiada semua orang tidak ada yang perduli,' ucap Alona sambil tangan kanannya menyentuh selang infus yang menempel di pergelangan tangan kirinya.


Ketika Alona hendak menarik selang infus bersamaan pintunya terbuka membuat Alona menghapus air matanya dengan kasar dalam hatinya sangat bahagia karena orang tuanya dan adik kembarnya datang untuk menengoknya dan baru saja yang yang dipikirkan ternyata salah besar.


Tapi ternyata yang datang Edward, Jordan dan Leo membuat dirinya hanya tersenyum namun dalam hatinya sangat terluka karena orang tuanya dan adik kembarnya tidak perduli padanya.


"Kenapa menangis?" tanya Edward karena tanpa sepengetahuan Alona kalau Edward melihat sekilas Alona menghapus air matanya.


"Aku tidak menangis, hanya ke lilipan debu," jawab Alona berbohong.


"Kenapa kamu menjadikan tubuhmu tameng? Apa kamu pikir aku menjadi tersentuh dan mengampuni mu?" tanya Edward yang berlawanan dengan kata hatinya.


Alona hanya diam dan menundukkan wajahnya membuat Edward menjadi kesal dan menatap Alona antara benci dan merasa bersalah dengan perkataan tajamnya secara bersamaan.


"Gara - gara kamu terluka membuatku mengeluarkan uang banyak," sindir Edward.


Grep


Alona lagi - lagi diam namun tangan kanannya kembali menyentuh selang infus dan bersiap menarik selangnya namun tangannya di tahan oleh Edward.


"Apa yang kamu lakukan hah!!" bentak Edward sambil menatap tajam ke arah Alona.


"Bukankah tuan Edward barusan mengatakan gara - gara aku terluka, tuan Edward mengeluarkan uang banyak? Jadi aku ingin keluar dari rumah sakit agar uang tuan tidak terlalu banyak keluar," jawab Alona sambil menarik tangannya yang di genggam oleh Edward namun genggaman Edward terlalu kuat.


"Jika kamu keluar dari rumah sakit dengan keadaan terluka seperti ini pasti orang yang berada di rumah sakit ini mengira aku sangat jahat dan tidak mempunyai perasaan," ucap Edward dengan nada dingin sambil melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Alona.


"Jadi sekarang apa maunya tuan Edward?" tanya Alona yang malas berdebat.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Sambil menunggu up silahkan mampir ke karyaku dengan judul :

__ADS_1



__ADS_2