
Perlahan Edward membuka matanya dan melihat sekeliling ruangan dan melihat Eden sedang duduk menatap dirinya.
"Kak Edward, sudah sadar?" tanya Eden.
Edward hanya menganggukkan kepalanya kemudian menatap sekeliling ruangan namun tidak ada satupun orang tuanya dan keluarga besarnya yang biasanya datang berkunjung jika ada yang sakit.
"Kenapa hanya kamu sendiri yang menjaga Kakak? Mommy, Daddy dan keluarga besar kita kenapa tidak ada?" tanya Edward.
"Mommy pingsan Kak sedangkan yang lainnya pulang ke mansion masing-masing," jawab Eden.
"Mommy pingsan? Kenapa pingsan? Terus kenapa keluarga besar kita pulang semuanya? Biasanya jika ada yang di rawat di rumah sakit mereka datang dan beberapa ada yang tinggal dan pulang," ucap Edward dengan wajah bingung.
"Nenek meninggal karena itulah Mommy pingsan dan ini semua gara-gara Alona," ucap Eden dengan wajah kesal.
"Apa Nenek meninggal? Apa hubungannya Alona dengan Nenek dan keluarga besar kita?" tanya Edward sambil menatap tajam ke arah adik kembarnya.
"Kalau saja kak Alona tidak kabur Nenek pasti masih hidup, Kakak tidak masuk rumah sakit, orang tua kita tidak bercerai dan keluarga besar kita tidak akan memarahi Mommy dan menamparnya," Jawab Eden sambil menahan amarahnya.
__ADS_1
"Justru gara-gara Mommy dan Kak Edward maka Alona pergi dari kehidupan Kakak. Seandainya saja Kakak tidak mendengarkan dan menuruti permintaan Mommy Kakak dan Alona sampai sekarang masih bersama," jawab Edward sambil menarik selang infus.
"Kak Edward, kenapa Kakak masih membela wanita ular 🐍 itu? Gara-gara wanita ular 🐍 itu orang tua kita akan bercerai dan kita dimusuhi oleh keluarga besar Alexander," ucap Eden dengan nada satu oktaf.
"Itu semua karena Mommy dan Kakak menyakiti Alona padahal jelas-jelas Mommy dan Kakak yang salah itu sebabnya keluarga besar Alexander sangat marah pada Mommy dan Kakak. Eden sekali lagi kamu menjelekkan istri Kakak maka Kakak tidak segan-segan untuk menghukum mu walau kamu adikku sekalipun," jawab Edward sambil turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu ruang perawatan.
"Kenapa Kakak membela Istri Kakak?" tanya Eden.
"Kakak tidak membelanya, kini Kakak sadar seharusnya dari dulu tidak mendengarkan dan melakukan apa yang Mommy katakan." jawab Edward.
"Kakak tunggu," ucap Eden sambil berlari mengejar Edward.
Edward tidak memperdulikan ucapan Eden hingga Edward menghentikan langkahnya ketika melihat Delisa sedang berbaring di ranjang dengan di dorong oleh dua perawat.
sambil menatapnya dengan sedih.
"Edward," panggil Delisa.
__ADS_1
"Maaf Mom, Edward tidak bisa menemani Mommy," jawab Edward sambil melanjutkan langkahnya.
"Kenapa?" tanya Delisa dengan wajah sedih.
Edward menghentikan langkahnya kemudian menatap Delisa dengan tatapan penuh kecewa sedangkan ke dua perawat terpaksa menghentikan langkahnya dan tidak mendorong brangkar.
"Seandainya saja saat itu Edward tidak mengikuti perkataan Mommy maka Nenek tidak akan meninggal dan Edward masih bersama dengan Alona sambil menantikan kelahiran ke tiga anak kami. Kini Edward sadar ternyata Edward sangat mencintai Alona dan tidak bisa hidup tanpa Alona," ucap Edward dengan tubuh gemetar.
"Untuk selanjutnya Edward akan tinggal di mansion Edward dan tidak akan menginjakkan kaki di mansion kecuali Mommy dan Eden berubah untuk tidak membenci Alona walau sebenarnya itu sudah terlambat," jawab Edward.
Edward membalikkan badannya kemudian berjalan meninggalkan Delisa tanpa memperdulikan tangisan Delisa karena hatinya sangat hancur karena istrinya pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
('Seandainya waktu bisa di putar aku ingin menjadi suami yang baik dan tidak menyakiti istriku. Alona maafkan aku, begitu banyak kesalahan yang aku perbuat," ucap Edward dalam hati).
"Mau kemana?" tanya seorang pria.
Edward menghentikan langkahnya ketika ada seseorang pria memanggil dirinya.
__ADS_1