
Alona menganggukkan kepalanya tanda mengerti membuat Edward menatap wajah cantik istrinya.
"Sayangku tidak ada rencana untuk kaburkan?" tanya Edward dengan nada curiga.
"Tidak, kenapa aku harus kabur? Kak Edward sangat baik dan tulus padaku kecuali kalau kak Edward meminta ku untuk pergi maka aku pergi atau kalau kak Edward menyiksa ku dan menyakiti perasaanku maka aku akan kabur," ucap Alona sambil menatap Edward sambil tersenyum walau hatinya sangat terluka jika hal itu benar-benar terjadi.
"Aku tidak mungkin melakukan itu," jawab Edward dengan nada tegas.
"Kalau begitu kak Edward jangan kuatir karena aku tidak mungkin kabur," jawab Alona sambil tersenyum.
"Oh ya, apa kita jadi melakukannya?" tanya Alona mengalihkan pembicaraan.
Tanpa menunggu jawaban Alona membuka pakaiannya satu persatu membuat tombak sakti milik Edward perlahan menegang.
"Tentu saja," jawab Edward sambil menepuk tangannya satu kali.
"Kenapa tepuk tangan lagi?" tanya Alona sambil melepaskan bungkusan yang menutupi dua gunung kembarnya.
"Itu tanda kalau aku minta tambahan satu jam lagi dan mereka tidak akan berkeliling di daerah sekitar balkon ini," jawab Edward sambil melepaskan satu persatu pakaiannya.
"Bukannya satu jam cukup kenapa menambah jamnya?" tanya Alona sambil menarik bungkusan dua gunung kembarnya dan membuangnya ke arah samping.
"Aku ingin bermain agak lama," ucap Edward.
Kini tubuh mereka polos tanpa sehelai benang pun. Edward melakukan pemanasan terlebih dahulu hingga lima belas menit kemudian Edward memeluk Alona dari arah belakang kemudian menyatukan tubuhnya.
Jleb
"Ahhhhhh.."
Suara merdu keluar dari mulut Alona membuat Edward tersenyum bahagia kemudian menggoyangkan pinggulnya secara berulang kali hingga lima belas menit kemudian Edward mundur perlahan sambil masih memeluk Alona tanpa melepaskan tombak saktinya.
"Sekarang kita duduk dan kamu yang berkerja," bisik Edward.
Alona hanya menganggukkan kepalanya kemudian mereka kembali melakukannya hanya bedanya kini Alona yang menggoyangkan bokongnya secara berulang kali.
Bruk
"Darling, aku sangat lelah," ucap Alona sambil bersandar di dada bidang suaminya.
"Belum ada lima menit kok sudah lelah?" tanya Edward.
"Bagaimana tidak lelah dari semalam, pagi, selesai masak dan selesai makan darling melakukan hubungan suami istri jadi tubuhku sangat lelah," jawab Alona dengan nada manja.
"Maaf sayang, aku ketagihan dengan tubuhmu. Kalau begitu ke dua tanganmu pegang pagar besi balkon," ucap Edward sambil bangun dan memeluk istrinya tanpa melepaskan tombak saktinya.
Alona dengan patuh melakukan apa yang diperintahkan oleh suaminya. Edward kembali menggoyangkan pinggulnya secara berulang kali hingga setengah jam kemudian tombak saktinya mengeluarkan laharnya dan dimasukkan ke dalam rahim Alona. Ke dua kaki Alona bergetar dan nyaris ambruk jika saja suaminya tidak memeluknya.
"Darling, aku cape dan ingin tidur. Boleh ya? hanya 5 menit saja," pinta Alona manja sambil mengangkat ke lima jari nya.
"Aku akan memandikanmu setelah itu kamu baru boleh tidur," ucap Edward sambil menggendong Alona ala bridal style menuju ke arah kamar mandi.
Sesuai apa yang dikatakan oleh Edward, Edward memandikan Alona dengan menggunakan air shower walau Edward menginginkan untuk melakukan hubungan suami istri tapi Edward tidak tega karena melihat mata sayu istrinya.
Edward kembali menggendong Alona dan di dudukkan di lemari kemudian Edward memakai jubah handuk untuk Alona kemudian untuk dirinya.
"Nah sekarang kamu bisa tidur," ucap Edward sambil menggendong kembali tubuh Alona ke arah ranjang.
Edward membaringkan Alona ke ranjang secara perlahan kemudian Edward ikut berbaring di samping Alona sambil memeluknya begitu pula dengan Alona.
xxxxx
Enam Hari Kemudian
__ADS_1
Hubungan Alona dan Edward selalu harmonis karena Alona tidak pernah mengeluh ataupun protes ketika Edward melarang Alona pergi. Orang tua Alona dan adik kembarnya tidak ada kabarnya membuat hati Alona sangat sakit dan sedih karena dirinya tidak diperdulikan.
"Sayang, aku bosan hari ini aku pergi menengok nenek kak Edward ya?" mohon Alona sambil memasangkan dasi suaminya.
"Baiklah, tapi aku hanya bisa mengantarmu karena hari ini aku ada meating," ucap Edward.
"Ok, nanti setelah dari rumah sakit aku ingin pergi ke mall ada yang ingin aku beli," ucap Alona.
"Ok, bawa bodyguard ya," ucap Edward.
"Tapi aku ingin sendiri apalagi aku kan bisa bela diri," ucap Alona.
"Baiklah," jawab Edward.
"Oh ya pakailah kartu kredit hitam buat istriku untuk belanja," ucap Edward.
"Aku ada uang dari hasil penjualan apartemen jadi aku pakai uangku saja," jawab Alona.
"Aku suamimu dan seorang suami sudah sepantasnya memberikan uang untuk istri," ucap Edward.
"Tapi..." ucapan Alona terpotong oleh Edward.
"Tidak ada penolakan," ucap Edward.
"Baiklah," jawab Alona pasrah.
"Kalau begitu bersiaplah aku akan mengantarmu ke rumah sakit," ucap Edward.
"Ok," jawab Alona singkat.
Alona mengambil dress warna putih dan melepaskan pakaiannya di depan Edward membuat Edward menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
"Kenapa membuka pakaian di depanku?" tanya Edward.
"Tapi aku kan ingin main lagi," ucap Edward.
"Aduh Darling jangan deh, tubuhku bakalan lelah dan yang ada tidak bisa pergi," ucap Alona sambil memakai cardigan warna biru laut.
"Nanti malam dobel ya," pinta Edward.
"Dengan senang hati," jawab Alona sambil mengedipkan matanya.
"Kenapa istriku jadi nakal? Siapa yang mengajarimu?" tanya Edward.
"Kan suamiku yang mengajarkan jadi muridnya ikut nakal," jawab Alona sambil tersenyum.
"Kamu bisa saja, ayo kita berangkat, " ajak Edward setelah melihat Alona sudah selesai memakai bedak dan lipstik.
"Ayo," jawab Alona singkat.
Mereka pun keluar dari kamarnya menuju ke arah garasi mobil. Sampai di garasi mobil Alona dan Edward duduk di kursi belakang pengemudi sedangkan dua bodyguard duduk di kursi pengemudi dan samping pengemudi.
"Habis dari rumah sakit menuju ke mall lebih baik di antar sama sopir," ucap Edward.
"Ok," jawab Alona singkat.
Lima belas menit kemudian mobil milik Edward sudah sampai di rumah sakit. Alona mengecup pipi Edward sambil membuka pintu mobil.
"Pipi satunya lagi, nanti satunya marah," ucap Edward.
Cup
Cup
__ADS_1
Alona mengecup pipi satunya namun Edward menunjuk ke arah bibirnya membuat Alona mengecup bibir Edward secara singkat.
"Sudah ya, ada dua bodyguard aku sangat malu," bisik Alona.
"Mereka tidak melihatnya, benar bukan?" tanya Edward.
"Benar tuan," jawab ke dua bodyguardnya.
("Nasib jomblo jadi ingin punya istri," ucap ke dua bodyguardnya dengan serempak dalam hati).
"Tuh dengarkan," ucap Edward.
"Tetap saja malu, Darling jaga kesehatan, jangan terlambat makan dan hati-hati. Selamat berkerja," ucap Alona sambil turun dari mobil.
Edward hanya menganggukkan kepalanya sambil melihat kepergian Alona.
"Kalian perintahkan untuk mengawasi dan menjaga istriku, jangan sampai ketahuan oleh istriku," perintah Edward).
"Baik tuan," jawab salah satu bodyguardnya.
Mobil itupun pergi meninggalkan rumah sakit menuju ke perusahaan milik Edward sedangkan Alona berjalan ke arah ruang ICU.
Ceklek
Alona membuka pintu dan melihat seorang wanita paruh baya dengan tubuh dipenuhi selang membuat Alona mengeluarkan air matanya.
"Nenek, aku Alona istri kak Edward," ucap Alona memperkenalkan dirinya.
"Maaf Nek, Alona baru sekarang bisa datang bukan Alona tidak sayang tapi kak Edward melarang Alona untuk pergi dan kini kak Edward mengijinkan Alona untuk keluar dan bertemu dengan Nenek." sambung Alona.
Alona mengulurkan tangan kanannya dan diarahkan ke tangan neneknya Edward.
"Nenek maaf, sebenarnya yang menabrak nenek adalah adik kembar ku yang bernama Alena. Alena sangat takut karena itulah meminta Alona untuk mengaku kalau Alona yang menabrak nenek. Maafkan Alona karena telah membohongi Nenek, orang tua kak Edward, kak Edward dan keluarga besar kak Edward," sambung Alona sambil menghapus air matanya yang tidak berhenti keluar.
"Oh ya Nek, Alona sangat senang ketika keluarga Kak Edward sangat baik dengan Alona karena selama ini Alona tidak di anggap ada oleh orang tua Alona padahal Alona sering berkorban dan menjadikan kambing hitam untuk adik kembar ku tapi orang tua ku dan Alena tidak pernah memperdulikan Alona. Mereka tidak pernah memberi kabar apakah Alona masih hidup atau sudah tiada," ucap Alona.
"Alona hiks ... hiks.. hiks.. ingat waktu acara pernikahan Alona dengan kak Edward, Ibu ku mengatakan kalau seharusnya yang menikah kak Edward adalah Alena bukan aku. Aku ini anak kandungnya kenapa hiks ... hiks ... hiks ... Ibu ku pilih kasih?" ucap Alona sambil terisak dan mengeluarkan semua yang menyesakkan dadanya.
"Nek, jika seandainya kak Edward menyiksaku dan tidak menginginkan Alona maka Alona akan pergi jauh dari kehidupan kak Edward karena Alona ingin melupakan semuanya. Baik keluarga Alona dan juga kak Edward karena Alona sangat lelah Nek," ucap Alona.
Alona mendekatkan wajahnya ke arah neneknya Edward yang masih setia memejamkan matanya.
"Cepat sembuh dan sadar ya Nek," bisik Alona.
tes
tes
tes
Alona mengeluarkan air matanya dan jatuh mengenai pipi neneknya Edward membuat Alona menghapus air matanya dengan kasar.
"Alona pergi Nek, rencana Alona mau pergi ke mall untuk memberikan hadiah ulang tahun kak Edward karena awal bulan depan kak Edward ulang tahun. Alona tidak tahu apakah Alona masih bersama kak Edward atau tidak karena bisa jadi kak Edward merayakan ulang tahun bersama wanita lain yang dicintainya," ucap Alona sambil tersenyum walau hatinya sangat terluka namun tidak berdarah.
Selesai berbicara Alona pergi dari ruangan ICU bersamaan jari jemari neneknya Edward mulai bergerak.
Alona berjalan ke arah lobby dan seorang berpakaian serba hitam memberikan hormat ke arah Alona.
"Mari ikut saya Nyonya, saya diperintahkan tuan Edward untuk mengantar Nyonya ke mall." ucap bodyguard tersebut yang merangkap sebagai sopir.
Alona hanya menganggukkan kepalanya sambil masih menghapus air matanya. Mereka berdua berjalan ke arah parkiran mobil, Alona masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang pengemudi.
"Paman, aku ingin bertanya berapa jumlah bodyguard dan berapa jumlah pelayan di mansion?" tanya Alona.
__ADS_1
"Memangnya kenapa Nyonya?" tanya bodyguard yang merangkap sebagai sopir.