Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia

Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia
Edward dan Alona


__ADS_3

"Oma, memintaku untuk meminum obat," ucap Edward.


"Obat?? Maaf kak, aku tidak suka minum obat," jawab Alona.


"Kenapa tidak suka?" tanya Edward.


"Dari dulu sampai sekarang aku jarang sakit dan jika sakit aku tidak pernah berobat karena aku tidak suka minum obat," jawab Alona.


"Kamu harus minum obat supaya cepat sembuh," ucap Edward.


"Tidak," jawab Alona singkat sambil berusaha berbaring kembali namun lagi-lagi Alona meringis.


Edward menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian membuka matanya dan langsung menatap tajam ke arah Alona membuat Alona menundukkan kepalanya.


"Minum obat dan tidak ada penolakan," ucap Edward.


"Aku pernah coba tapi yang ada obatnya aku buang," jawab Alona.


"Kamu itu bisa menembak dan bela diri tapi kenapa minum obat tidak suka?" tanya Edward.


"Memangnya ada hubungan?" tanya Alona.


"Ternyata kamu itu cerewet banget," ucap Edward sambil mengambil obat.


"Kak Edward juga cerewet," jawab Alona tidak mau kalah.

__ADS_1


"Kamu!!" ucap Edward dengan kesal karena baru kali ini ada seorang gadis yang membantah dirinya.


"Aku kenapa?" tanya Alona sambil menatap wajah tampan Edward.


Edward memalingkan wajahnya kemudian Edward mengambil gelas yang berisi air mineral dan meminumnya namun tidak langsung di minum kemudian memasukkan obatnya ke dalam mulutnya.


Edward mengarahkan tangannya ke arah leher Alona kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah cantik Alona membuat Alona membulatkan matanya dengan sempurna.


"Apa yang kak Edward laku.. Mmpphhttt," ucapan Alona terputus.


Edward mencium Alona kemudian memasukkan obatnya ke dalam mulut Alona membuat Alona sangat terkejut dan tanpa sadar langsung menelan obatnya.


Entah kenapa Edward me lu mat bibir Alona sambil memejamkan mata kemudian tangan kanannya melepaskan kaitan pembungkus dua gunung kembar karena tangan kirinya memegang tengkuk Alona.


Alona mengeluarkan air mata karena merasa harga dirinya direndahkan membuat bibirnya terasa asin. Edward membuka matanya dan matanya langsung membulat sempurna melihat Alona menangis.


"Aku ingin tidur," ucap Alona sambil berusaha berbaring tanpa menjawab ucapan Edward.


Entah kenapa hati Edward sangat sakit melihat air mata Alona kemudian Edward kembali memasang kaitan pembungkus dua gunung kembar lalu membaringkan tubuh Alona dengan perlahan kemudian menyelimutinya.


"Kak Edward," panggil Alona.


"Ya," jawab Edward singkat.


"Maukah menemaniku tidur?" tanya Alona.

__ADS_1


"Maaf tidak bisa," jawab Edward.


("Jika dekat denganmu aku takut tidak bisa menahan diri ku untuk memakan dirimu seperti saat ini," ucap Edward dalam hati).


"Aku tahu kenapa tidak bisa," jawab Alona dengan nada sedih.


("*Aku tahu kak Edward pasti menganggap diriku bukan wanita baik-baik karena ingin tidur bersama tapi s**alahkah aku meminta seseorang untuk menemaniku karena aku sangat kesepian?" tanya Alona dalam hati*).


"Syukurlah kalau kamu tahu," jawab Edward yang tidak menyadari melukai hati Alona sambil turun dari ranjang.


Edward berjalan ke arah pintu dan membukanya lalu membanting pintu membuat Alona kembali meneteskan air mata.


"Alona, kenapa kamu mengatakan itu? Edward sudah mulai berubah gara - gara kamu ingin meminta ditemani tidur membuat kak Edward marah padaku," ucap Alona meruntuki kebodohannya.


Alona memejamkan matanya karena pengaruh obat membuat Alona kembali tidur sedangkan di tempat yang sama hanya berbeda ruangan tepatnya di kamar Edward.


"Sebenarnya aku ingin menemaninya tidur tapi jika dekat dengan Alona yang ada aku meminta melakukan itu," ucap Edward sambil melepaskan satu persatu pakaiannya dan membuangnya secara asal.


"Kalau begini terus yang ada aku bisa masuk angin," ucap Edward sambil berjalan ke arah kamar mandi setelah tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun.


Edward menyalakan kran air shower dengan menggunakan air dingin untuk mendinginkan adik kecilnya setelah setengah jam adik kecilnya kembali tidur barulah Edward memakai jubah handuk.


"Punggung Alona sangat mulus dan dua gunung kembarnya sepertinya pas di tanganku," ucap Edward membayangkan apa yang barusan di lihatnya.


"Aduh Edward kenapa kamu jadi mesum sih," ucap Edward.

__ADS_1


Karena lelah Edward berbaring di ranjang dan tidak membutuhkan waktu lama Edward tidur dengan nyenyak.


__ADS_2