
Delon membuka pintu ruang perawatan dan melihat istrinya yang bernama Delisa berbaring di ranjang seorang diri. Hal itu membuat Delisa menatap ke arah pintu kamar ruangannya. Ketika melihat suaminya datang, Delisa tersenyum bahagia karena suaminya datang menengok dirinya.
"Sayang, akhirnya kamu datang menengokku," ucap Delisa dengan suara lembut.
"Aku datang ke sini untuk mengurus surat perceraian kita," ucap Delon dengan nada dingin sambil memberikan dokumen ke arah Delisa.
"Apa? Aku tidak mau bercerai, ini pasti ulah ke dua orang tuamu dan keluarga besarmu karena itulah kamu ingin menceraikan Aku," ucap Delisa sambil melempar dokumen tersebut ke lantai.
Plak
"Jangan pernah menghina ke dua orang tuaku dan juga keluarga besarku. Aku melakukan ini karena Aku sudah sangat lelah menghadapi sikapmu yang sangat egois terlebih menjelekkan keluarga besarku!" ucap Delon dengan nada satu oktaf kemudian menampar pipi Delisa dengan sangat keras.
Selesai mengatakan hal itu Delon mengambil dokumen di lantai yang tadi di lempar oleh Delisa.
"Aku mau menikah denganmu karena aku laki-laki yang bertanggung jawab ketika kita melakukan hubungan suami istri padahal jujur sampai saat ini Aku belum ada perasaan suka sama Kamu. Hanya karena demi anak maka Aku mau bertahan." ucap Delon sambil menatap tajam ke arah Delisa dengan penuh kebencian.
"Haruslah kamu bertanggung jawab dan menikah denganku." ucap Delisa dengan nada ketus tanpa memperdulikan ucapan suaminya karena sebenarnya dirinya juga sama yaitu tidak mencintai suaminya.
Hanya karena ingin hidup enak membuat Delisa melakukan berbagai cara dengan cara yang sangat licik. Hal itulah Delon ingin secepatnya menceraikan istrinya agar dirinya bisa hidup tenang dan menikmati hari tuanya bersama cucu - cucunya yang sangat menggemaskan.
"Kamu bicara seperti itu kesannya aku pria brengs*k, padahal Aku di jebak olehmu dengan memberikan Aku minuman yang sudah di campur obat perang sang agar kamu bisa menikah dengan ku." Ucap Delon dengan nada satu oktaf.
"Tanda tangani surat perceraian kita atau kita bertemu di pengadilan." Ucap Delon yang memberikan dua pilihan.
"Kita bertemu di pengadilan karena Aku tidak mau kita bercerai." jawab Delisa dengan nada tegas.
Delisa tidak mau bercerai karena Delisa tidak ingin hidup susah di tambah Delon adalah mesin atm berjalan yang selama ini memenuhi apapun yang diinginkan Delisa. Di mana salah satu hobinya yaitu belanja barang - barang branded. Hingga ruang tamu yang berjumlah dua puluh lima kamar semuanya penuh dengan barang-barang branded.
Selain hobi belanja barang-barang branded ternyata Delisa memang sengaja memenuhi semua kamar tamu dengan barang-barang branded agar keluarga besar suaminya tidak bisa menginap di mansion.
"Baiklah kalau begitu, kita bertemu di pengadilan tapi ingat ketika kita di pengadilan kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dariku ketika kita resmi bercerai." ancam Delon.
"Apa maksudmu?" tanya Delisa dengan wajah sangat terkejut dengan perkataan Delon.
"Keluarga besar Alexander mempunyai pengacara yang sangat hebat dan selalu memenangkan kasus apapun termasuk kasus perceraian." Jawab Delon.
"Apakah kamu sanggup membayar mahal pengacara?" Tanya Delon.
"Tentu saja Aku sanggup." Jawab Delisa dengan penuh percaya diri.
"Oh ya. Asal kamu tahu semua fasilitas yang kamu miliki akan Aku cabut semuanya dan kamu tinggal di rumah tua milik orang tuamu," sambung Delon sambil tersenyum menyeringai.
"Kamu mengusirku?" tanya Delisa dengan wajah terkejut.
"Tentu saja Aku akan mengusir mu selain itu mobil, kartu kredit, kartu debit dan semua fasilitas yang kamu miliki akan Aku ambil semua termasuk kamu pindah ke ruang perawatan kelas tiga," jawab Delon dengan nada santai sambil membalikkan badannya.
"Bersiaplah kamu akan dipindahkan ke kelas tiga," sambung Delon sambil melangkahkan kakinya namun ketika sampai di depan pintu ruang perawatan Delon membalikkan badannya.
__ADS_1
"Oh ya hampir lupa semua aset atas nama mu akan di urus oleh pengacaraku agar bisa balik nama atas namaku karena semua itu adalah uangku," ucap Delon sambil tersenyum menyeringai kemudian membalikkan badannya.
"Tunggu," ucap Delisa sambil menahan amarahnya.
"Baik. Aku akan tanda tangan surat perceraian tapi Aku minta mansion yang kita tempati dan tunjangan setiap bulan sebanyak seratus lima puluh juta termasuk aset-aset berharga atas namaku." pinta Delisa.
Delon kembali membalikan badannya kemudian berjalan ke arah Delisa sedangkan Delisa hanya bisa menahan amarahnya.
'Si*l, suatu saat nanti akan Aku buat kamu bertekuk lutut di depanku.' ucap Delisa dalam hati.
'Aku tidak menyangka dengan bicara seperti itu Delisa langsung setuju untuk menanda tangani surat perceraian kami. Aku juga tidak menyangka ternyata Delisa sama seperti wanita di luaran sana yang silau akan harta. Sungguh Aku sangat menyesal menikah dengan serigala berbulu domba.' ucap Delon dalam hati.
"Baguslah, sekarang tanda tangani surat perceraian ini," ucap Delon sambil memberikan dokumen tersebut.
Tanpa banyak bicara Delisa menerima dokumen tersebut kemudian langsung menanda tanganinya tanpa membacanya terlebih dahulu. Setelah selesai dokumen tersebut diberikan oleh Delon dan Delon langsung menerima dokumen tersebut.
"Bagus, tunggulah surat dari pengadilan agama dan setelah kita sudah resmi bercerai maka Kita tidak ada hubungan sama sekali. Anggap saja kita tidak saling mengenal satu sama lainnya," ucap Delon sambil membalikkan badannya meninggalkan Delisa sendirian di ruangan tersebut.
"Akhhhhhhhh.... Si*l ... Awas Kalian semua! Akan Aku balas penghinaan yang kalian lakukan padaku." ucap Delisa dengan nada frustrasi.
Delon berjalan ke arah ruang perawatan di mana putra sulungnya yang bernama Edward sedang di rawat. Ruangan Edward tidak jauh dengan ruang perawatan di mana Ibunya Edward sekaligus istrinya Delon sedang di rawat tanpa memperdulikan teriakan Delisa yang sedang frustrasi berat.
Di tempat yang sama hanya berbeda ruangan dimana Edward sedang di rawat dan ditunggui oleh orang tua Delon dan adik kembarnya yang bernama Eden bersama suaminya yang bernama Arsene.
"Oma dan Opa, Edward kangen banget sama istriku. Seandainya saja Alona tidak pergi pasti saat ini istriku masih bersamaku." Ucap Edward dengan mata berkaca-kaca.
Edward hanya bisa diam namun dalam hatinya apa yang dikatakan oleh Opa Nathan adalah benar adanya.
"Di hari ulang tahunmu ternyata semuanya terbongkar, Mommy mu tidak mencintai Daddy mu karena itulah Opa dan Oma mendukung jika Daddy mu menceraikan Mommy mu,'' sambung Opa Nathan.
"Maksud Opa, Mommy tidak mencintai Daddy?" tanya Edward dengan wajah terkejut.
"Benar, Mommy mu dulu menyukai Pamannya Alona tapi Neneknya Alona tidak menyetujui putranya menikah dengan Delisa hal itulah membuat Delisa dendam dan melampiaskan dendamnya terhadap Alona padahal jelas-jelas Alona tidak bersalah." Jawab Opa Nathan.
"Jadi Mommy mu menikah dengan Daddy karena pelarian dengan cara menjebaknya agar Daddymu mau menikahi Mommymu." Sambung Opa Nathan menjelaskan.
Sifat keluarga besar Opa Nathan khususnya para pria sangat mencintai dan setia dengan satu wanita kecuali wanita itu tidak setia dan menyakiti salah satu anggota keluarga lainnya di tambah tidak mau berubah maka dengan sangat terpaksa wanita itu diceraikan dan di hapus dari anggota keluarga besar Opa Nathan.
Karena itulah ketika keluarga besar Opa Nathan mendengar kalau Delon menemui pengacara keluarga untuk mengurus surat perceraian membuat keluarga besar Opa Nathan mendukung rencana Delon untuk berpisah.
"Apa? Pantas saja Mommy selalu menjelekkan Alona dan ..." ucap Edward menggantungkan kalimatnya.
"Dan apa Edward?" tanya Opa Nathan penasaran begitu pula dengan yang lainnya.
"Opa pasti sudah tahu masalah Edward mencambuk Alona, benar bukan Opa?" tanya Edward balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Opa Nathan.
"Ya, opa sudah tahu,'' jawab Opa Nathan.
__ADS_1
"Edward menceritakan ke Mommy kalau Edward sangat menyesal karena telah mencambuk Alona namun Mommy malah mendukungku untuk menyiksa terus Alona karena Alona hanya pura-pura tidak bersalah." ucap Edward.
Tanpa sepengetahuan mereka kalau Delon mendengar percakapan Opa Nathan dengan Edward karena pintu ruang perawatan tidak di tutup dengan rapat membuat Delon semakin membenci Delisa.
Delon langsung mendorong pintu tersebut membuat orang tua Delon, Edward, Eden dan Arsene menatap ke arah pintu ruang perawatan.
"Delisa ternyata sangat jahat padahal jelas-jelas seharian Alona berada di mansion bersama Mommy dan Oma bahkan Alona sampai tidak sadarkan diri." ucap Delon yang tiba-tiba datang dari arah pintu.
"Padahal Daddy dan Mommy sering menasehati Delisa untuk tidak membenci Alona karena Alona tidak bersalah tapi Delisa tidak pernah mendengarkan apa yang kami katakan." sambung Opa Nathan yang sudah tahu karena mendapatkan informasi dari istrinya yang bisa program IT.
"Daddy semakin yakin untuk menceraikan wanita yang tidak punya hati." ucap Delon sambil menggenggam ke dua tangannya dengan erat.
"Edward setuju Dad kalau Daddy menceraikan Mommy karena gara-gara Mommy, Edward harus kehilangan ke tiga anakku yang belum sempat Edward lihat." ucap Edward dengan wajah sedih sekaligus marah secara bersamaan.
"Terima kasih kamu sudah mendukung Daddy karena hanya Eden yang mendukung Mommy agar kami tidak bercerai. Daddy tidak habis pikir dengan jalan pikiran Eden yang menyalahkan Alona padahal jelas-jelas Mommy yang salah," ucap Delon sambil melirik ke arah putri bungsunya.
"Otaknya sudah di cuci sama Mommy makanya Eden ikutan membenci Alona padahal jelas-jelas yang salah adalah Mommy," ucap Edward sambil menatap kesal ke arah adik kembarnya.
"Benar kata mu," ucap Delon.
"Maaf, Aku tidak tahu kalau Mommy ternyata jahat." Ucap Eden sambil menundukkan kepalanya.
Arsene yang melihat wajah sedih istrinya hanya bisa mengusap punggung istrinya agar mengurangi rasa sedihnya.
"Sudahlah lupakan apa yang telah terjadi karena yang terpenting Eden sudah tahu sifat Mommynya yang sangat egois." Ucap Oma Maya.
"Iya Oma kini Eden sadar kalau selama ini Mommy sangat jahat." Ucap Eden.
"Syukurlah kalau Kamu sudah sadar." Ucap Edward.
Eden hanya menganggukan kepalanya sedangkan Delon hanya berharap semoga keluarganya bisa hidup tenang setelah perceraian dirinya dengan Delisa.
Hening
Beberapa saat mereka terdiam dan tidak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun di mana mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Oh ya Delon, apakah Delisa setuju untuk bercerai?" tanya Opa Nathan ketika beberapa saat mereka terdiam.
"Awalnya Delisa tidak bersedia setelah Delon memberikan mansion yang kami tempati dan tunjangan setiap bulan akhirnya Delisa setuju. Delon tidak menyangka kalau selama ini aku menikah dengan wanita yang sangat tamak akan harta," ucap Delon dengan wajah penuh amarah dan dendam terhadap Delisa.
"Daddy dan Mommy awalnya juga tidak menyangka kalau Delisa seperti itu sifatnya tapi ketika sahabat Daddy menceritakan semua tentang masa lalu Delisa membuat Daddy dan Mommy sangat terkejut dan berharap kamu segera sadar untuk menceraikan Delisa," ucap Opa Nathan.
"Iya Dad, sekarang Delon sudah sadar karena itulah Delon mengurus perceraian dengan Delisa dan belum ada sebulan kami sudah resmi berpisah," jawab Delon dengan nada penuh keyakinan untuk berpisah dengan Delisa.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
__ADS_1