Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia

Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia
Maafkan Aku Alona


__ADS_3

Edward yang sangat menyukai kebersihan kini mendadak berubah. Darah segar yang keluar dari perut Alona membasahi pakaian Edward hingga Edward sudah sampai di lantai dua.


Edward meletakkan perlahan tubuh Alona di sofa kemudian menghubungi bodyguard nya untuk datang ke mansion dan memintanya untuk datang lima menit sudah sampai dengan menggunakan motor sport.


Edward kembali menggendong tubuh dingin Alona bersamaan Alona mengeluarkan suaranya namun matanya masih setia terpejam.


"Biarkan aku ma ti karena tidak ada gunanya aku hidup," ucap Alona dengan lirih.


"Mungkin dengan kematian ku bisa membuat semua orang bahagia baik keluarga ku maupun kak Edward," sambung Alona dengan nada masih lirih.


Deg


Deg


Jantung Edward berdetak kencang ketika mendengar suara Alona yang seakan tidak semangat untuk hidup.


"Aku tidak akan mengijinkan kamu ma ti sekarang, ucap Edward.


Edward berjalan menuju ke pintu utama bersamaan pintu utama terbuka oleh dua orang bodyguard.


Edward masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang. Kepala Alona disandarkan di ke dua paha Edward, tangan kiri Edward menahan perut Alona agar berhenti mengeluarkan darah segar sedangkan tangan kanannya membelai rambut Alona dengan lembut.

__ADS_1


"Tambah kecepatan!!!" teriak Edward.


"Baik tuan," jawab bodyguard yang merangkap sebagai sopir.


Sopir itupun menambah kecepatan mobilnya dan tidak berapa lama ponsel milik Alona berdering membuat Edward membuka tas milik Alona.


Edward melihat siapa yang menghubungi dirinya dan matanya membulat sempurna.


"PT Berlian Alexander, bukankah itu salah satu cabang perusahaan ku? Apa jangan - jangan anak buah ku memakai jasanya?" tanya Edward berpikiran buruk terhadap Alona.


Tidak berapa lama nada dering ponsel milik Alona berhenti namun beberapa detik kemudian ponselnya kembali berdering membuat Edward menggeser tombol berwarna hijau dan menempelkan ke telinga nya.


("Hallo Alona, ini Erika kapan kamu ke kantor? bos marah - marah terus karena laporan yang aku buat salah terus," ucap Erika yang mengira mengangkat ponselnya Alona).


("Aku tidak bisa bikin laporan keuangan hanya Alona yang bisa bikin," ucap Erika dengan nada frustrasi).


("Bukannya Alona sering mengajarimu membuat laporan keuangan?" tanya temannya).


("Memang benar tapi aku sering lupa apalagi kalau melihat angka milyaran kepalaku langsung pusing beda dengan Alona," jawab Erika).


("Alona otaknya sangat encer jika ada selisih dia bisa tahu letak kesalahannya dengan cepat dan langsung di perbaiki." ucap temannya).

__ADS_1


("Iya benar, waktu itu aku salah ketik makanya selisih dan untungnya saja Alona bisa tahu dan memberitahukan aku letak kesalahannya," jawab Erika).


("Alona dua hari tidak masuk kerja, kemana ya Alona? biasanya kalau libur kerja kita bertiga selalu pergi belanja untuk membeli barang-barang untuk anak - anak panti asuhan dan minggunya baru kita pergi ke panti asuhan," ucap temannya).


("Aku juga tidak tahu makanya aku mau menelepon kenapa tidak ada kabarnya," jawab Erika).


("Kamu sedang telepon siapa?" tanya temannya).


("Telepon Alona, astaga aku lupa ... Alona maaf Ernita mengajakku mengobrol jadi lupa deh kalau aku sedang telepon kamu. Kapan kamu datang ke kantor?" tanya Erika).


Hening


("Bilang sama Alona, Sabtu depan jadi pergi belanja tidak buat kebutuhan panti asuhan," ucap Ernita).


("Ok, Alona kamu dengarkan?" tanya Erika).


("Erika sedang sakit," jawab Edward).


Tut Tut Tut


Tanpa menunggu jawaban Edward memutuskan sambungan komunikasi secara sepihak kemudian menyimpan kembali ponselnya milik Alona.

__ADS_1


("Maafkan aku Alona kalau aku berprasangka buruk padamu," ucap Edward dalam hatinya sangat menyesal).


__ADS_2