
Deg
Deg
Jantung Alona berdetak kencang bukan karena jatuh cinta tapi perkataan neneknya, dirinya tidak menyangka kalau neneknya mendengar semua keluh kesahnya membuat Alona menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
"Alona akan cerita tapi aku mohon agar nenek merahasiakan ini dari siapapun termasuk dengan kak Edward," ucap Alona akhirnya.
"Ba ...ik ....lah, ce ... ri .. ya .. kan?" tanya neneknya Edward dengan suara terbata-bata.
"Ibuku melahirkan anak kembar, aku anak pertama dan anak ke dua bernama Alena. Alona tidak tahu kenapa Ibuku sangat sayang pada adik kembarku. Bukan itu saja Ibu ku tahu kalau adik kembarku sering melakukan kesalahan dan aku yang selalu menjadi kambing hitam adikku. Aku sering berpikir kenapa Ibuku selalu menutup mata akan semua kesalahan adik kembarku." ucap Alona dengan suara tercekat hingga tidak berapa lama air matanya mengalir.
"Hingga suatu ketika adik kembarku menabrak nenek dan adikku memintaku untuk mengaku kalau aku yang menabraknya. Aku yang tidak tega akhirnya aku bersedia mengaku dan ternyata kak Edward ingin menikah denganku," sambung Alona.
Alona menghembuskan nafasnya dengan perlahan untuk menghilangkan rasa sesak di hatinya.
"Ketika kami mengadakan pesta pernikahan, Ibuku memelukku membuatku sangat senang tapi ternyata Ibuku membisikkan sesuatu yaitu Kamu jangan senang dulu karena apa yang kamu rasakan sekarang sebenarnya milik Alena bukan milikmu dan suatu saat nanti Alena akan mengambil semuanya baik sebagai istri maupun kekayaan milik suamimu," ucap Alona mengulangi perkataan Ibunya.
"Alona lagi - lagi harus menelan pil pahit, Ibuku sama sekali tidak memperdulikan perasaan Alona di tambah lebih membela Alena padahal jelas-jelas Alena melakukan kesalahan sedangkan Alona yang selalu menjadi korban karena kesalahan Alena,'' ucap Alona sambil memegangi kepalanya.
Bruk
Entah kenapa tiba-tiba kepala Alona sangat pusing karena tidak kuat akhirnya Alona ambruk dan tidak sadarkan diri. Neneknya Edward sangat terkejut membuat Neneknya Edward berusaha bangun dari ranjang kemudian menekan tombol darurat.
Tidak berapa lama pintu kamar perawatan terbuka seorang perawat dan dokter masuk ke dalam begitu pula dengan Edward dan Delisa.
__ADS_1
"Ada apa ..." ucapan Edward terputus ketika melihat Alona tidak sadarkan diri.
"Tolong cek kondisi Mommyku dan Edward bawa Alona ke ruang UGD," ucap Delisa yang melihat Ibunya sedang meringis menahan rasa sakit karena memaksakan diri untuk bangun.
Edward menganggukkan kepalanya kemudian menggendong tubuh Alona kemudian berjalan keluar dari ruangan untuk di bawa ke UGD sedangkan dokter dan perawat menolong neneknya Edward.
"Ada apa Edward? Alona kenapa?" tanya Delon.
"Tidak tahu Dad, tadi tiba-tiba Alona tidak sadarkan diri di lantai dan nenek lagi di cek sama dokter," jawab Edward sambil berjalan ke arah ruang UGD.
Kini Edward duduk menunggu di luar UGD sedangkan Alona berada di ruang UGD. Setelah beberapa saat Alona sudah mulai sadar, Alona menatap ke arah sekeliling ruangan hingga dirinya melihat seorang pria berpakaian dokter.
"Aku di man Dok?" tanya Alona.
"Nyonya ada di rumah sakit," jawab dokter tersebut.
"Karena Nyonya hamil dan untuk melihat berapa bulan janinnya Nyonya bisa mengecek di dokter kandungan," ucap dokter tersebut.
"Aku hamil dok?" tanya Alona tidak percaya sambil membelai perutnya yang masih rata.
"Benar Nyonya," jawab dokter tersebut sambil tersenyum.
"Dokter bolehkah aku minta satu hal?" tanya Alona.
"Apa itu?" tanya dokter tersebut.
__ADS_1
"Aku ingin dokter tidak mengatakan ke suamiku atau ke siapapun juga," pinta Alona.
"Memang kenapa Nyonya?" tanya dokter tersebut dengan nada terkejut.
"Karena aku akan mengatakan di saat suamiku ulang tahun. Aku ingin memberikan kado ulang tahun yang tidak akan pernah dilupakan oleh suamiku," ucap Alona.
"Oh ya, awal bulan Edward ulang tahun, baiklah akan aku jaga rahasia ini," ucap dokter tersebut.
"Dokter kenal dengan kak Edward?" tanya Alona terkejut.
"Tentu saja, kan Edward sahabatku sejak kami sekolah dulu," jawab dokter tersebut.
"Terima kasih dok karena tidak memberitahukan ke suamiku," jawab Alona.
"Sama - sama Nyonya,'' jawab dokter tersebut.
"Panggil Alona saja jangan Nyonya," ucap Alona.
"Memangnya kenapa?" tanya dokter tersebut.
" Dokter memanggil suamiku dengan sebutan nama jadi panggil lah namaku juga," ucap Alona.
"Baiklah, Oh ya aku melihat lehermu seperti ada bekas tangan apakah Edward men ce kik mu?" tanya dokter tersebut.
"Bukan," jawab Alona singkat.
__ADS_1
("Maaf aku terpaksa berbohong karena aku ingin orang - orang yang menyakitiku akan merasakan bersalah terlebih suamiku kak Edward karena lebih percaya dengan apa yang di lihat maupun ucapan orang lain. Anggap saja ini kadoku buat keluargaku, Ibu mertuaku dan kak Edward," ucap Alona dalam hati).
"Lalu kenapa?" tanya dokter tersebut.