Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia

Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia
Kabur


__ADS_3

Alona mengambil garpu kemudian menggulung kwetiau goreng dan memasukkan ke dalam mulutnya. Entah kenapa walau rasanya asin banget tapi Alona tidak merasakan itu malah memakannya dengan lahap dan hanya dalam satu menit kwetiau goreng habis tanpa sisa.


Alona merasa haus namun tidak ada air membuat Alona turun dari ranjang kemudian berjalan ke arah dapur. Baru beberapa langkah Alona bertemu dengan Ibu mertuanya siapa lagi kalau bukan Delisa.


"Mau kemana? Kwetiau goreng nya kamu buang ya?" tanya Delisa dengan nada kesal.


"Ke dapur Mom mau minum, kwetiau goreng nya sudah Alona makan sampai habis dan sangat enak jadi bagaimana mungkin Alona membuangnya?" tanya Alona.


Delisa hanya mendengus kesal kemudian pergi meninggalkan Alona sedangkan Alona melanjutkan langkahnya ke arah dapur. Alona meletakkan piring di wastafel kemudian mengambil gelas karena dirinya sangat haus.


Selesai minum Alona mencuci piring dan gelas yang tadi digunakannya setelah beres Alona ingat kalau neneknya Edward belum makan membuat Alona berjalan ke arah kulkas dan melihat isi di dalam kulkas.


"Aku akan masak untuk Nenek dan Mommy karena hari ini adalah terakhir aku melakukannya," ucap Alona sambil mengambil udang dan cumi-cumi.


Selain itu Alona mengambil beberapa sayuran kemudian diletakkan di meja dapur. Alona mulai mengolah makanannya hingga hampir satu jam Alona sudah selesai memasak dan meletakkan semua makanan ke atas meja makan.


Bau harum masakan Alona sejak Alona menumis masakan membuat Delisa menjadi lapar dan berjalan ke arah dapur untuk melihat apa yang dilakukan oleh Alona.


"Sudah selesai tinggal memanggil Mommy dan Nenek, semoga mereka suka masakan ku, ucap Alona sambil membalikkan badannya.


Alona kaget ketika Delisa sedang menatap dirinya sedangkan Delisa bersikap acuh tak acuh.


"Mommy kebetulan sudah datang ke ruang makan jadi silahkan duduk Mom," ucap Alona sambil menarik kursi.


"Apakah, masakan ini mengandung racun?" tanya Delisa.


Racun dalam arti Delisa adalah memberikan garam yang lumayan banyak ke makanan yang seperti dirinya lakukan.


"Alona tidak mungkin melakukan itu, Mommy dan Nenek sangat baik dengan Alona jadi Alona ingin memasak spesial untuk Mommy dan Nenek," jawab Alona dengan tegas.


"Kalau tidak ada racun, coba cicipi," perintah Delisa.


Delisa mengambil sendok kecil kemudian mengambil sedikit makanan lalu diletakkan di telapak tangan kanannya kemudian mencicipi masakannya.


"Rasanya pas tapi Alona tidak tahu kalau Mommy dan Nenek suka," jawab Alona.


"Pergilah dan bawa Mommy ku ke ruang makan," perintah Delisa tanpa memperdulikan ucapan Alona.


"Baik Mom," jawab Alona.


"Kamarnya ada di lantai satu dekat tangga," ucap Delisa.


"Baik Mom," jawab Alona.

__ADS_1


Alona berjalan ke arah samping tangga setelah sampai Alona membuka pintu kamar tersebut.


ceklek


Alona melihat Neneknya Edward sedang menatap Alona dengan tatapan kesedihan karena melihat betapa malangnya Alona namun Alona selalu tersenyum menutupi kesedihannya.


"Nenek, Alona sudah selesai memasak kesukaan Nenek," ucap Alona sambil berjalan ke arah pegangan kursi roda.


"Kita makan bersama yuk, kebetulan Alona masih lapar," ucap Alona sambil mendorong kursi roda.


Neneknya Edward hanya menganggukkan kepalanya hingga tidak berapa lama mereka sudah sampai di ruang makan.


Mereka bertiga makan bersama dan hanya membutuhkan waktu lima belas menit mereka sudah selesai makan dan minum.


"Mommy ingin pergi untuk menemui teman-teman Mommy dan kamu jaga Mommy ku," ucap Delisa sambil turun dari kursi.


"Baik mom," jawab Alona patuh.


Delisa pergi meninggalkan mereka berdua hingga hari menjelang sore Delisa baru pulang dan menyuruh Alona untuk pulang mengingat sebentar lagi Edward pulang kerja.


Singkat cerita kini Alona sudah sampai di mansion milik Edward dan dirinya sangat terkejut melihat mobil Edward sudah ada di garasi.


"Suamiku datang jam berapa?" tanya Alona sambil berjalan menuju ke arah tangga.


"Pasti adik kembarku bikin masalah lagi," gumam Alona asal tebak sambil berjalan.


"Maaf Nyonya, Nyonya bicara apa?" tanya kepala pelayan.


"Suamiku sekarang ada dimana?" tanya Alona tanpa menjawab pertanyaan kepala pelayan.


"Ada di kamarnya," jawab kepala pelayan.


"Baik paman dan terima kasih atas informasinya," jawab Alona.


"Sama-sama Nyonya," jawab kepala pelayan.


Alona hanya menganggukkan kepalanya kemudian berjalan menaiki anak tangga satu demi satu sambil menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


"Anak - anak Mommy dan Daddy yang kuat ya," ucap Alona sambil mengelus perutnya yang sudah mulai buncit sedikit.


ceklek


Alona membuka pintu kamar dan melihat tatapan Edward yang seakan ingin mem bu nuh nya namun Alona tanpa rasa takut berjalan ke arah Edward dan dirinya tahu kalau adik kembarnya melakukan sesuatu dan mengira itu dirinya.

__ADS_1


("Tuhan, aku ingin masih hidup dan membesarkan anak-anak kami walau aku membesarkan seorang diri, berikan keajaiban Mu," mohon Alona dalam hati).


Plak


Bruk


Ketika Alona berdiri saling berhadapan dengan Edward bersamaan Edward menampar Alona hingga Alona jatuh terlentang di ranjang.


"Seandainya aku tahu kalau uang hasil penjualan apartemen ternyata kamu gunakan untuk diberikan ke pria lain, aku tidak akan membelinya dengan harga mahal," ucap Edward sambil menaiki tubuh Alona


"Bukankah apartemen itu di beli oleh teman kak Edward?" tanya Alona terkejut.


"Hanya pria bodoh yang mau membeli apartemen seharga satu milyar," ucap Edward.


"Tubuh mana yang di sentuh oleh pria itu?" tanya Edward.


"Apa maksud kak Edward?" tanya Alona.


Tanpa menjawab Edward menarik pakaian Alona membuat Alona berusaha memberontak tapi tenaganya kalah jauh. Alona hanya bisa mengeluarkan air mata kesedihan ketika Edward merendahkan Alona.


Edward menarik dasinya untuk mengikat ke dua tangan Alona setelah selesai Edward kembali menarik pakaian Alona hingga polos tanpa sehelai benangpun kemudian Edward turun dari ranjang. Edward melepaskan satu persatu pakaiannya hingga polos tanpa sehelai benangpun.


"Akan aku hapus semua jejak pria yang sudah berani menyentuhmu," ucap Edward.


Jleb


Alona menahan rasa sakit ketika tubuhnya disatukan secara paksa tanpa pemanasan terlebih dahulu dengan cara menggenggam kain sprei.


Alona memejamkan matanya sambil menahan rasa sakit yang teramat sangat baik perasaannya maupun bagian privasinya sambil memohon pada Tuhan agar kandungnya baik-baik saja.


Edward menggoyangkan pinggulnya secara berulang-ulang hingga hampir setengah jam kemudian Edward menarik tombak saktinya dan mengeluarkan laharnya di perut Alona.


"Aku tidak sudi benihku masuk ke punyamu," ucap Edward tanpa perasaan.


Alona hanya diam sedangkan Edward turun dari ranjang kemudian berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket.


Hingga lima belas menit kemudian Edward keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian serba hitam. Setelah selesai memakai pakaian tanpa memperdulikan Alona, Edward pergi dari kamarnya meninggalkan Alona menangis.


"Aku harus pergi dari sini karena aku tidak ingin terjadi pada anak-anak ku," ucap Alona.


Sambil menahan rasa perih pada bagian privasinya Alona berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket hingga sepuluh menit kemudian Alona keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaiannya.


("Aku akan kabur dari sini lewat balkon karena aku ingat perkataan kak Edward kalau para bodyguard tidak melewati balkon selama satu jam kalau aku menepuk sekali. Bagiku satu jam cukup untuk aku kabur dari sini," ucap Alona dalam hati sambil berjalan ke arah balkon).

__ADS_1


__ADS_2