
("Aduh, kenapa aku bilang jujur kalau apartemenku mau di jual? ngga mungkin aku mengatakan mau beli rumah kecil untuk aku kabur nanti," ucap Alona dalam hati mengutuk kebodohannya sambil berfikir).
"Aku menjual apartemen untuk ... (sambil berfikir) ... karena kita sudah menikah dan apartemen itu tidak aku gunakan lagi lebih baik aku jual saja," jawab Alona.
"Apakah sudah ada yang membelinya?" tanya Edward tanpa curiga sedikitpun.
"Belum, apakah kak Edward ada teman yang membutuhkan apartemen?" tanya Alona penuh harap.
"Ada, mau di jual berapa?" tanya Edward berbohong.
("Itu apartemen milikmu dan aku tidak akan ijinkan siapapun membelinya karena selamanya menjadi milikmu walau aku membelinya sekalipun," ucap Edward dalam hati).
"Aku dulu beli tahun 20xx seharga tiga ratus lima puluh juta rupiah, menurut kak Edward apakah aku jual dengan harga segitu atau lebih?" tanya Alona sambil berfikir.
"Menurut kakak lebih baik kamu jual tujuh ratus lima puluh juta rupiah," jawab Edward.
"Apa tidak terlalu mahal kak?" tanya Alona.
"Tidak, jika ada yang membeli harga segitu kamu mau menjualnya?" tanya Edward.
"Mau kak tapi aku yakin orangnya tidak mau," ucap Alona.
"Pasti mau, cash atau transfer?" tanya Edward.
"Transfer saja kak tapi nomer rekeningku ya kak," ucap Alona.
"Ok," jawab Edward singkat sambil mengambil ponselnya di atas meja.
"Oh ya kak, barangnya belum aku pindahkan jadi tidak bisa digunakan sekarang. Kasih waktu satu Minggu untuk mengosongkan semua barang ku," ucap Alona.
"Memangnya rencana mau dipindahkan ke mana barangnya?" tanya Edward.
"Akan aku berikan ke orang yang membutuhkan karena semua barang-barang yang aku butuhkan sudah tersedia di sini," ucap Alona.
"Lebih baik tetap seperti sedia kala biar nanti temanku yang memutuskan apakah diberikan ke orang lain atau digunakan oleh temanku," ucap Edward.
__ADS_1
"Ok, kalau begitu aku biarkan seperti apa adanya," ucap Alona.
Ting
Tiba-tiba ponsel milik Alona berdering tanda ada pesan masuk. Alona mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengirimkan pesan.
"Lho kok kak Edward yang membeli? Katanya teman kak Edward yang beli," ucap Alona dengan wajah bingung.
"Nanti teman kakak yang mengganti uang kakak," jawab Edward berbohong.
("Maaf, aku terpaksa berbohong karena tidak mungkin aku mengatakan dengan jujur kalau aku yang membelinya," ucap Edward dalam hati).
"Tapi kenapa transfer nya satu milyar? kan tadi kakak bilang tujuh ratus lima puluh juta rupiah kelebihan dua ratus lima puluh juta rupiah, nomer rekening kakak berapa?" tanya Alona.
"Tidak usah anggap saja itu bonus dari kakak," ucap Edward.
"Tapi kak ... " ucapan Alona terpotong oleh Edward.
"Tidak terima penolakan," ucap Edward dengan nada tegas.
"Untuk apa?" tanya Edward.
"Balik nama apartemen karena apartemen itu atas namaku dan sudah di beli oleh teman kak Edward maka harus dibalik nama," jawab Alona menjelaskan.
"Biarkan saja atas namamu karena temanku tidak pernah mempermasalahkan atas nama siapa barang yang dibelinya," ucap Edward.
"Kalau begitu aku akan ambil dokumen kepemilikan karena sudah di jual jadi kak Edward bisa memberikan ke teman kak Edward," ucap Alona sambil turun dari sofa.
Grep
Bruk
Edward menarik tangan Alona hingga Alona jatuh di pangkuan suaminya.
Deg
__ADS_1
Deg
Deg
Deg
Jantung Alona dan Edward berdetak kencang ketika mereka saling menatap hingga Edward mendekatkan wajahnya ke wajah cantik Alona membuat Alona memejamkan matanya.
cup
Edward mengecup bibir Alona singkat kemudian mencium kembali tapi bukan berupa ciuman singkat melainkan berupa lu ma tan.
Alona mengalungkan ke dua tangannya ke leher suaminya, mereka saling berciuman hingga Alona menepuk bahu suaminya agar berhenti mencium karena Alona kehabisan nafas.
"Hah ... Hah... Hah ..."
Alona menghirup udara sebanyak-banyaknya membuat Edward tersenyum.
"Kita belum pernah melakukan hubungan suami istri di balkon," ucap Edward.
"Kak Edward mau melakukan di balkon?" tanya Alona.
"Iya, bagaimana?" tanya Edward.
"Kan ada cctv dan di bawah banyak bodyguard yang berkeliling," ucap Alona sambil menunjuk ke arah kamera cctv dan para bodyguard yang sedang berkeliling.
"Kamera cctv di kamar kita hanya aku yang bisa mengaksesnya karena aku tidak ingin orang melihatmu tanpa sehelai benangpun sedangkan untuk para bodyguard sangat mudah," ucap Edward.
Edward menepuk tangan sekali dan tidak membutuhkan waktu lama para bodyguard langsung berjalan ke arah lain.
"Tepuk satu kali tanda satu jam mereka harus memutari kembali untuk patroli," ucap Edward.
"Kalau dua kali berarti dua jam baru mereka memutari kembali untuk patroli, benar tidak?" tanya Alona.
"Benar, biasanya sampai tiga kali tepukan berarti tiga jam," jawab Edward yang tidak tahu kalau itu merupakan boomerang untuk dirinya suatu saat nanti.
__ADS_1