Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia

Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia
Pakaian Alona


__ADS_3

"Oh ya, kenapa semua pakaian milikmu terlihat kuno?" tanya Edward mengalihkan pembicaraan.


"Aku jarang beli pakaian," jawab Alona.


"Lebih baik pakai pakaian milik adik mu nanti aku akan gantian," ucap Edward.


"Memang kenapa dengan pakaian ku ini?" tanya Alona sambil mengambil pakaian miliknya.


"Bikin mataku sakit jadi lebih baik ganti saja," perintah Edward.


"Baiklah," jawab Alona pasrah.


Edward berjalan ke arah lemari kemudian mengambil pakaian satu steel milik Alena. Edward berjalan ke arah Alona dan memberikan pakaian tersebut.


"Mau aku pakai kan atau pakai sendiri?" tanya Edward.


"Pakai sendiri saja," jawab Alona.


"Ok, oh ya sebentar lagi dokter datang untuk mencabut selang infus," ucap Edward sambil berjalan ke arah pintu.


"Mau kemana?" tanya Alona.


"Keluar dari kamar ini, jika aku di sini yang ada aku ingin memakanmu lagi," ucap Edward sambil membuka pintu kamar Alena.


Alona hanya diam menatap kepergian Edward kemudian menatap pakaian milik adik kembarnya.


"Bagaimana mau memakai pakaian sedangkan tanganku di infus," ucap Alona.

__ADS_1


"Lebih baik aku lepas saja selang infus nya," ucap Alona sambil menarik perlahan selang infus membuat Alona meringis menahan rasa sakit.


Setelah selesai Alona mulai memakai pakaian hingga sepuluh menit kemudian Alona sudah selesai memakai pakaian milik Alena.


Alona perlahan turun dari ranjang dan berjalan dengan perlahan karena bagian privasinya masih terasa perih.


ceklek


Ketika Alona hampir sampai ke pintu tiba - tiba pintu kamarnya terbuka membuat Alona menghentikan langkahnya.


"Mau ke mana?" tanya Edward.


"Aku bosan tidur karena itulah aku mau keluar dari kamar," jawab Alona.


"Perut mu masih terluka lebih baik istirahat di ranjang," ucap Edward.


"Berbaring di ranjang istirahat atau kita melakukan hubungan suami istri," ancam Edward.


"Baik, aku istirahat," ucap Alona dengan wajah cemberut.


"Bagus, istirahat lah," ucap Edward sambil menahan senyum.


("Kenapa aku baru menyadari betapa imut nya Alona," ucap Edward dalam hati).


Alona hanya menatap kesal ke arah Edward sambil berbaring sedangkan Edward berjalan ke arah Alona.


"Kenapa selang infus nya di lepas?" tanya Edward.

__ADS_1


"Mau memakai pakaian ribet kalau ada selang infus nya makanya aku lepas saja selang infus nya," jawab Alona.


"Bukankah aku sudah bilang kalau dokter akan mencabut selang infus nya?" tanya Edward sambil duduk di sisi ranjang.


"Maaf," jawab Alona yang tidak ingin berdebat


"Seharusnya aku yang minta maaf karena aku yang membantu mu memakaikan pakaian bukannya di tinggal," ucap Edward merasa bersalah.


"Sudahlah lupakan yang terjadi, aku ingin pulang ke mansion milik kak Edward," ucap Alona mengalihkan pembicaraan.


"Setelah kamu diperiksa barulah kita pulang," jawab Edward.


"Ok," jawab Alona singkat.


"Bolehkah aku mencium dirimu lagi?" tanya Edward penuh harap yang sudah kecanduan dengan bibir Alona.


"Hanya cium bibir?" tanya Alona.


"Ya hanya cium bibir," jawab Edward.


Alona menganggukkan kepalanya tanda setuju kemudian Edward mendekatkan wajahnya ke arah wajah Alona membuat Alona memejamkan matanya.


Ceklek


Hampir saja bibir mereka saling bersentuhan tiba - tiba pintu kamar mereka di buka membuat Edward menjauhkan wajahnya dari wajah Alona sambil menahan amarahnya.


Alona dan Edward mengarahkan wajahnya ke arah pintu dan melihat dokter cantik tersebut menatap mereka dengan tatapan tanpa dosa.

__ADS_1


"Sebelum masuk, bisakah mengetuk pintu dulu?" tanya Edward sambil menatap dokter cantik tersebut dengan tatapan mem bu nuh.


__ADS_2