Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia

Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia
Trauma


__ADS_3

Edward mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju ke rumah sakit dengan diikuti oleh keluarga besar Alexander.


"Selama ini kalian tinggal di mana?" tanya Edward.


"Tinggal di mansion Dad, tidak jauh dari kota ini," jawab Edmund.


"Mommy bilang apa saja tentang Daddy?" tanya Edward penasaran.


"Mommy bilang kalau Daddy pergi jauh untuk mengurus perusahaan karena itulah tidak sempat datang menemui kami," jawab Edmund.


"Mommy juga bilang, kalau Daddy sangat menyayangi kami karena itulah Daddy pergi berkerja dengan sangat lama agar bisa membahagiakan kami," sambung Adara.


Edward hanya diam namun dalam hatinya semakin bertambah bersalah karena telah menyia-nyiakan wanita sebaik Alona.


("Aku akan bertanya sama Alona kenapa Alona menyembunyikan diri dan mengatakan kalau dirinya meninggal karena pesawat yang ditumpanginya meledak dan jatuh di laut," ucap Edward dalam hati).


"Arsene, apakah kamu tahu kalau Alona masih hidup?" tanya Edward setelah beberapa saat terdiam.


"Aku tidak tahu karena aku belum pernah bertemu dengan Alona," jawab Arsene apa adanya.


"Aku pikir kamu tahu," jawab Edward.


"Aku tidak tahu kecuali Angel calon istriku kenal dengan Alona, ucap Arsene.


"Calon istri?" tanya Edward mengulangi perkataan Arsene.


"Iya, calon istriku sebentar lagi kami akan menikah," jawab Arsene sambil tersenyum bahagia.


"Selamat, oh ya Angel kenal istriku di mana?" tanya Edward penasaran.


"Di panti asuhan, waktu itu aku tidak sadarkan diri dan bangun - bangun sudah ada di panti asuhan," jawab Angel.


"Berarti selama ini Alona tinggal di panti asuhan?" tanya Edward.


"Sebenarnya tidak, Mommy Alona berkerja untuk mengurus anak-anak panti asuhan tanpa menerima bayaran sepeserpun bahkan Mommy Alona sebagai donatur tetap di panti asuhan,'' jawab Angel.


"Mommy Alona?" tanya Edward mengulangi perkataannya.


"Anak - anak panti asuhan memanggilnya dengan sebutan Mommy Alona begitu pula dengan ku yang tinggal di panti asuhan," jawab Angel.


"Apakah Alona pernah menyebut namaku atau cerita tentang diriku?" tanya Edward penasaran.


"Mommy Alona sering menceritakan tentang suaminya yang bernama Daddy Edward sebagai suami yang baik dan sayang sama istrinya. Mommy Alona juga cerita diam - diam meretas cctv untuk melihat apa yang dilakukan oleh Daddy Edward untuk mengobati kerinduan," jawab Angel.


"Kalau rindu kenapa tidak datang menemui diriku?" tanya Edward.


"Kalau hal itu Mommy Alona tidak pernah cerita kenapa tidak menemui Daddy Edward. Maaf kalau aku memanggil tuan dengan sebutan Daddy Edward," ucap Angel yang baru sadar melakukan kesalahan.


"Tidak apa-apa santai saja," jawab Edward.


Dua puluh dua menit kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit bersamaan jantung Edward berdetak kencang karena dirinya sebentar lagi akan bertemu dengan istri yang selama ini sangat dirindukannya.


Deg


Deg


Jantung Edward berdetak kencang ketika melihat Alona sedang menatap ke arah pintu operasi tanpa memperdulikan suara langkah kaki menuju ke arah dirinya.


"Alona," panggil Edward.


Deg


Deg


Jantung Alona berdetak kencang mendengar suara yang sangat familiar di telinganya membuat Alona memalingkan wajahnya ke arah Edward.


"Kak Edward," panggil Alona sambil turun dari kursi.


Grep


"Alona, kamu masih hidup?" tanya Edward sambil memeluk tubuh istrinya dengan erat.


"Kak Edward aku tidak bisa bernafas," ucap Alona.


"Maaf, kakak sangat senang kamu ternyata masih hidup," jawab Edward sambil mengurangi pelukannya.


ceklek


Ketika Alona ingin berbicara bersamaan pintu operasi terbuka membuat mereka berjalan ke arah pintu tersebut.


"Bagaimana keadaan putraku Dok?" tanya Alona dengan wajah kuatir.

__ADS_1


"Kok putramu? Putra kami dok," ucap Edward meralat perkataan Alona.


"Kami kehabisan darah golongan O, apakah Tuan atau Nyonya golongan darah nya O?" tanya dokter tersebut.


"Kebetulan darahku O dok, ambillah sebanyak mungkin asalkan putra kami selamat," ucap Edward.


Alona sangat terharu dengan ucapan suaminya yang sangat perduli dengan putranya. Tapi di dalam hatinya yang terdalam dirinya sangat takut jika Edward mengambil ke tiga anaknya yang sudah di rawat selama sebelas tahun lebih.


"Kalau begitu silahkan ikuti saya Tuan," ucap perawat tersebut.


Edward hanya menganggukkan kepalanya kemudian berjalan mengikuti langkah perawat dan diikuti oleh Alona sedangkan ke dua anaknya bersama Arsene dan Angel.


Alona melihat Edward sedang berbaring di ranjang kemudian perawat tersebut mengambil jarum untuk di ambil darah milik Edward. Alona yang sangat takut jarum suntik langsung memalingkan wajahnya ke arah samping membuat Edward menggenggam tangan Alona yang tidak ada jarumnya.


"Ada apa?" tanya Edward.


"Aku sangat takut jarum suntik," ucap Alona tanpa menatap Edward.


Edward hanya tersenyum sambil masih menggenggam tangan Alona hingga beberapa saat kemudian perawat tersebut menarik jarum tanda darahnya sudah selesai di ambil kemudian langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


"Maaf Tuan dan Nyonya, saya tinggal karena anak Tuan dan Nyonya sangat membutuhkan darah ini," ucap perawat tersebut sebelum menghilang dari ruangan tersebut.


"Baik Sus dan terima kasih," jawab Alona.


Perawat tersebut hanya menganggukkan kepalanya sambil melanjutkan langkahnya. Edward dan Alona saling terdiam tanpa ada yang bicara sedikitpun hingga akhirnya Edward mengeluarkan suaranya.


"Kamu tahu ketika aku mengetahui kalau pesawat yang kamu tumpangi meledak hatiku sangat hancur hingga keluarga besar ku selalu mendampingiku dan memberikan aku kekuatan. Kenapa kamu tega melakukan ini padaku?" tanya Edward.


"Aku ..." ucapan Alona terpotong oleh Edward.


"Aku ingin tahu ceritamu setelah kamu berada di bandara dan aku tidak ingin ada kebohongan," pinta Edward.


Alona menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian Alona memalingkan wajahnya ke arah Edward.


"Waktu aku di toilet mall aku bertemu dengan Ibuku dan adik kembarku Alena. Mereka memintaku untuk pergi dan adik kembarku mengganti kan diriku kemudian Ibuku memberikan tiket pesawat atas nama Alena,'' ucap Alona menceritakan awal ceritanya.


Edward hanya diam dan menunggu cerita selanjutnya sambil menahan amarahnya terhadap ke dua wanita itu yang sudah ma ti oleh anak buahnya atas perintah Edward.


"Aku pergi dari tempat itu dengan menggunakan taksi menuju ke bandara. Sampai di bandara aku bertemu dengan opa Max dan opa Louis, mereka mengatakan kalau pesawat yang akan aku tumpangi sudah di pasang bom dan pelakunya Ibu kandungku," ucap Alona dengan mata berkaca-kaca.


Alona tidak tahu kalau mereka adalah paman dan Tante bukan orang tua kandung Alona.


"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Edward penasaran sekaligus menahan amarahnya.


"Opa Max dan Opa Louis memintaku dan penumpang lainnya menggunakan pesawat milik keluarga besar Alvonso," jawab Alona.


"Berarti pesawat yang meledak itu hanya ..." ucapan Edward terpotong oleh Alona.


"Bukan, pesawat itu dijalankan dengan menggunakan remote dan tidak ada orang sama sekali dan sesuai prediksi di tengah laut pesawat itu meledak dan tenggelam di dasar laut," jawab Alona menjelaskan.


"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Edward.


"Sampai di negara tujuan aku tinggal bersama Tante Katarina dan Paman Mikael," jawab Alona.


"Tunggu, waktu itu Tante Katarina menghubungiku apakah kamu memintanya untuk menghubungi diriku?" tanya Edward.


Alona hanya menganggukkan kepalanya sambil memalingkan wajahnya ke arah samping membuat Edward menarik dagu Alona dengan perlahan agar menatap dirinya.


"Kenapa wajahmu memerah?" tanya Edward sambil menatap bibir Alona yang sudah lama tidak disentuhnya.


"Aku ..." ucap Alona menggantungkan kalimatnya.


"Apakah kamu masih mencintai ku?" tanya Edward.


Alona lagi-lagi menganggukkan kepalanya dan wajahnya semakin bersemu merah membuat Edward tersenyum. Edward mendekatkan wajahnya ke arah wajah Alona membuat Alona memejamkan matanya.


Ceklek


Ketika ke dua bibir tersebut nyaris bersentuhan bersamaan pintu tersebut di buka oleh seseorang membuat Alona mendorong tubuh Edward sedangkan Edward menahan amarahnya. Alona dan Edward melihat Angel masuk ke dalam ruangan dan berjalan ke arah Alona.


"Mommy Alona, Edwind sudah di bawa ke ruang perawatan," ucap Angel.


"Baik,kalau begitu ayo kita ke sana," ajak Alona sambil berjalan keluar ruangan bersama Angel meninggalkan Edward.


"Setelah melihat ke tiga anak kami, aku akan menculik Alona," ucap Edward sambil turun dari ranjang kemudian berjalan meninggalkan ruangan tersebut.


ceklek


Edward membuka pintu kamar perawatan dan melihat Edwind, Edmund dan Adara bersama keluarga besarnya sedang mengobrol.


"Daddy," panggil Edwind, Edmund dan Adara bersamaan.

__ADS_1


"Ya," jawab Edward singkat sambil berjalan ke arah Edwind yang masih berbaring di ranjang.


Grep


Grep


"Kami kangen sama Daddy," ucap Edmund dan Adara bersamaan sambil memeluk Edward dari arah belakang.


"Daddy juga kangen dengan kalian, maafkan Daddy yang tidak sempat melihat kalian dari kecil hingga bertumbuh besar," ucap Edward berbohong kalau dirinya tidak sempat melihat karena sejujurnya dirinya tidak tahu.


"Tidak apa-apa Dad yang penting Daddy tidak lupa dengan kami," ucap Edwind, Edmund dan Adara secara bersamaan.


"Daddy tidak mungkin melupakan kalian," ucap Edward.


Hati Edward terasa sakit namun tidak berdarah ketika mendengar ucapan ke tiga anak kembarnya yang tidak membenci dirinya karena tidak pernah hadir ketika mereka masih bayi hingga mereka bertumbuh besar.


Edward sangat menyesali perbuatannya di masa lalunya dan ingin memperbaiki kesalahannya untuk memulai hidup baru selain itu dirinya berjanji untuk tidak menyakiti Alona walau Ibunya menyuruhnya untuk menyakiti Alona lagi.


"Daddy, Edwind pengen di peluk Daddy," pinta Edwind.


Edward hanya tersenyum kemudian ke dua adik kembarnya melepaskan pelukannya karena bagaimanapun juga kakak kembarnya juga merindukan Edward.


Grep


Edward memeluk Edwind dengan perasaan terharu sekaligus bahagia karena bisa melihat ke tiga anak kembarnya yang sangat mirip dengannya. Setelah beberapa saat Edward melepaskan pelukannya kemudian menatap satu persatu ke arah mereka.


"Daddy bisakah menjaga ke tiga cucu Daddy?" tanya Edward.


"Bisa, memangnya kamu mau kemana?" tanya Delon.


"Ada yang ingin aku tanyakan sama Paman Jimmy, Tante Jessica, Paman Lemos, Tante Soraya, Tante Sela, Paman Axel, Tante Seli dan Paman Albert," ucap Edward.


"Ok," jawab Delon singkat yang mengerti kenapa ingin berbicara dengan ke empat adik kembarnya dan ke empat adik iparnya.


"Edwind, Edmund dan Adara, Daddy keluar sebentar sama Mommy. Kalian bertiga sama Opa Delon ya," ucap Edward.


"Tapi Daddy tidak pergi lagi kan?" tanya Edwind, Edmund dan Adara bersamaan.


"Mulai sekarang dan seterusnya Daddy akan tinggal bersama Mommy dan kalian bertiga," ucap Edward.


"Yes, akhirnya keluarga kita lengkap," ucap Edwind, Edmund dan Adara bersamaan sambil tersenyum bahagia.


"Oma dan Opa juga ikut," ucap Mommy Maya dan Daddy Nathan bersamaan.


Edward hanya tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya, mereka berjalan ke luar dari ruang perawatan karena Edward tidak ingin ke tiga anak kembarnya mendengar pembicaraan orang dewasa.


"Selain Edward yang tidak tahu kalau Alona masih hidup, siapa saja Paman Jimmy, Tante Jessica, Paman Lemos, Tante Soraya, Tante Sela, Paman Axel, Tante Seli dan Paman Albert?" tanya Edward yang masih penasaran.


"Hanya kamu dan Mommy mu," jawab Mommy Maya yang menjawab pertanyaan Edward.


"Oma juga tahu kalau Alona masih hidup?" tanya Edward dengan wajah terkejut.


"Tentu saja kami semua tahu," jawab Mommy Maya dan Daddy Nathan bersamaan.


"Kenapa tidak ada satupun yang memberi tahukan ke Edward?" tanya Edward dengan wajah kecewa.


"Karena Alona masih trauma dengan mu," jawab Mommy Maya.


"Maksud Oma?" tanya Edward dengan wajah terkejut.


"Sikapmu sering berubah kadang baik dan perhatian namun tiba-tiba berubah ....," ucap Mommy Maya menggantungkan kalimatnya.


"Edward pasti sudah lanjutannya karena itulah Alona tidak ingin di saat memulai hidup baru kamu kembali dipengaruhi oleh Mommy mu dan kamu kembali menyiksa Alona. Alona masih ingin hidup karena ada ke tiga anak kalian karena itulah Alona meminta sama kami untuk tidak mengatakan kalau Alona masih hidup," sambung Jessica.


"Tante mengerti kamu sangat sedih ketika kamu kehilangan Alona tapi trauma yang dialami oleh Alona membuat kami untuk menghargai perasaan Alona untuk tidak memberitahukan keberadaan nya," sambung Soraya.


"Edward mengerti dan terima kasih buat Oma, opa, para paman dan para Tante yang sudah menjaga Alona,'' ucap Edward yang menyadari akan kesalahannya.


"Sekarang kalian sudah bersama dan mulailah hidup baru bersama ke tiga anak kalian yang sudah beranjak remaja," ucap Mommy Maya.


"Kami tahu kalau kalian masih saling mencintai jadi lupakanlah masa lalu dan tatap lah masa depan kalian bersama ke tiga anak kembar kalian," sambung Daddy Nathan.


"Terima kasih Oma, Opa dan semuanya," jawab Edward dan Alona bersamaan.


"Sama-sama," jawab mereka bersamaan.


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Sambil menunggu up silahkan mampir ke karya temanku dengan judul :


__ADS_1


__ADS_2