
Lima belas kemudian Alena sudah selesai makan dan minum.
"Aku sangat lapar, aku mau pergi ke kantin," ucap Edward sambil turun dari kursi.
"Tapi sayang, aku ingin tidur di peluk sama suamiku," pinta Alena dengan nada manja.
"Aku tidak bisa," jawab Edward dengan nada tegas dan dingin sambil berjalan ke arah pintu ruang perawatan.
"Tapi sayang, aku tidak ingin tidur sendirian aku sangat takut," ucap Alena.
"Sejak kapan kamu jadi penakut?" tanya Edward sambil membuka pintu.
"Sejak ... ( menjeda kalimatnya ) ... hari ini," jawab Alena.
"Aku ingin makan nanti aku kembali," jawab Edward sambil keluar dari kamar tersebut.
"Si*l baru kali ini aku di tolak, awas saja nanti kalau tubuhku tidak sakit lagi akan aku buat kamu bertekuk lutut," ucap Alena sambil menahan amarahnya.
Edward berjalan ke arah kantin namun pikirannya melayang jauh tanpa memperdulikan tatapan mata para gadis yang menatapnya dengan tatapan lapar.
("Aku merasa aneh dengan perubahan Alona terlebih ketika menatap matanya seperti tatapan wanita nakal sedangkan selama aku menikah dengan Alona tatapan mata Alona seperti tatapan kesedihan tapi aku tidak tahu kenapa Alona bersedih. Alona hanya tersenyum walau sebenarnya senyuman itu seperti menyimpan kesedihan yang mendalam sedangkan Alona yang sekarang senyuman itu seperti ingin menarik lawan jenisnya untuk melakukan hubungan suami istri,'' ucap Edward dalam hati).
("Biasanya jika aku dekat dengan Alona walau aku dalam keadaan marah sekali pun dan ingin melampiaskan kemarahan ku dengan melakukan hubungan suami istri tapi kenapa sekarang tidak ada keinginan untuk itu. Apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku? Apakah Alona mempunyai saudara kembar dan saat ini dia bukan Alona? Tapi mana mungkin," ucap Edward dalam hati sambil berfikir).
Ketika sampai di kantin Edward memesan makanan dan entah kenapa dia ingin sekali makan kwetiau goreng seafood kesukaan Alona dan Edward pun memesan makanan kwetiau goreng seafood.
("Kenapa aku ingin makan kwetiau goreng seafood? Bukankah itu kesukaan Alona?" tanya Edward dalam hati).
("Aku akan pesan satu lagi buat Alona setelah aku selesai makan," ucap Edward dalam hati).
Setelah menunggu sepuluh menit pesanan Edward datang dan dalam hitungan lima menit Edward sudah selesai makan dan minum kemudian Edward memesan makanan untuk Alona.
Setelah berapa saat menunggu akhirnya pesanan Edward datang. Edward membayar makanan yang dipesannya kemudian kembali ke ruang perawatan.
ceklek
Edward membuka pintu dan melihat Alena sedang menatapnya dengan tatapan kesal namun Edward tidak perduli.
__ADS_1
"Aku belikan makanan kesukaanmu, makanlah," ucap Edward sambil meletakkan bungkusan ke atas meja dekat ranjang.
"Suapi," pinta Alena dengan nada manja.
Alena tidak tahu kalau itu makanan yang harus dihindari karena Alena tidak pernah tahu apa kesukaan makanan Alona karena dirinya tidak pernah perduli apa yang disukai dan apa yang tidak disukai oleh kakak kembarnya.
Edward menghembuskan nafasnya dengan perlahan karena entah kenapa dirinya sebenarnya enggan tapi mengingat Alena sedang sakit membuat Edward terpaksa menyuapi Alena.
Edward mengambil kotak makanan tersebut kemudian membuka tutup makanan tersebut. Edward meletakkan tutup makanan di atas meja kemudian mulai menyuapi Alena.
"Ini kwetiau goreng seafood?" tanya Alena dengan wajah pucat ketika melihat sendok yang dipegang oleh Edward selain kwetiau goreng ada juga cumi dan udang.
"Benar, memang nya kenapa? Bukankah kamu suka seafood?" tanya Edward sambil menatap tajam ke arah Alena.
Glek
("Si*l aku baru tahu kalau kak Alona sukanya makanan seafood, apa yang harus aku lakukan? Kalau aku tidak makan pasti kak Edward curiga tapi kalau aku makan pasti tubuhku gatal-gatal," ucap Alena dalam hati).
"Iya aku suka," ucap Alena pasrah.
Alena akhirnya dengan sangat terpaksa makan kwetiau goreng seafood. Alena dengan susah payah menelan kwetiau goreng seafood membuat Edward kesal.
"Iya, maaf," jawab Alena sambil menahan rasa kesal dan rasa gatal pada kulitnya dalam waktu bersamaan.
Alena menahan rasa gatal sambil makan dengan lahap karena dirinya ingin menggaruk kulitnya di kamar mandi. Hingga sepuluh menit kemudian Alena sudah selesai makan dan minum.
"Mau kemana?" tanya Edward yang melihat Alena bangun dari ranjang.
"Mau ke kamar mandi," jawab Alena sambil turun dari ranjang.
Edward mengambil botol infus dan dengan tidak sabar Alena merebut botol infus dari tangan Edward kemudian berlari ke arah kamar mandi membuat Edward bingung.
"Apa Alona kebelet ingin buang air kecil?" tanya Edward.
"Sudahlah, aku ingin ke kantor dulu biar Alona di jaga sama bodyguard ku," ucap Edward sambil turun dari ranjang dan meninggalkan Alena sendirian di kamarnya.
Ceklek
__ADS_1
Setengah jam kemudian Alena keluar dari kamar mandi dan melihat di kamarnya tidak ada Edward melainkan seorang pria berpakaian serba hitam sambil menundukkan kepalanya.
"Suamiku kemana?" tanya Elena dengan nada ketus.
"Pergi ke kantor," jawab bodyguard tersebut.
"Ke kantor? Kenapa aku di tinggal?" tanya Alena dengan nada satu oktaf.
"Maaf Nyonya, tuan Edward banyak pekerjaan yang tidak bisa di tinggal," jawab bodyguard tersebut sambil menahan amarahnya.
"Dasar kamu tidak berguna, pergilah!!" usir Alena.
"Baik Nyonya," jawab bodyguard tersebut sambil pergi meninggalkan Alena sendirian.
("Awas saja, akan aku buat kamu menyesali atas perkataan mu barusan," ucap bodyguard tersebut sambil menahan amarahnya).
"Si*l ... Si*l ... Awas kamu Alona, gara - gara kamu tubuhku jadi gatal," ucap Alena dengan nada kesal sambil menggaruk tubuh dan wajahnya.
ceklek
Seorang perawat membuka pintu kamar perawatan dengan lebar kemudian dokter masuk ke dalam ruang perawatan dengan diikuti oleh perawat.
"Maaf Nyonya, saya ingin memeriksa keadaan Nyonya," ucap dokter tersebut sambil berjalan ke arah Alena.
"Maaf Nyonya, wajah Nyonya dan tangan Nyonya kenapa memerah?" tanya dokter tersebut dengan wajah terkejut.
"Memangnya dokter buta? sudah tahu badanku gatal pakai nanya," omel Alena yang sibuk menggaruk kulitnya yang gatal.
Deg
Jantung dokter tersebut berdetak kencang bukan karena jatuh cinta melainkan ucapan Alena yang membuatnya terkejut.
("Apa jangan-jangan dia saudara kembar Alona karena Alona tidak pernah membentak ataupun berbicara kasar," ucap dokter tersebut dalam hati).
Tanpa sepengetahuan Alena dokter tersebut merekam ucapan Alena dan dirinya untuk dikirimkan ke sahabatnya yang bernama Edward.
"Maaf Nyonya, kenapa wajah Nyonya dan tangan Nyonya memerah?" tanya dokter tersebut.
__ADS_1
"Suamiku yang bod*h dan kejam memberikan makanan seafood padahal sudah tahu kalau aku itu alergi seafood," ucap Alena tanpa sadar.