
("Maaf, tuan kami dalam perjalanan pulang," ucap sopir tersebut yang wajahnya mulai berkeringat).
("Tunggu hukuman mu," ucap Edward dengan nada dingin).
Tut tut tut
Sambungan komunikasi langsung terputus membuat sopir tersebut menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menyimpan kembali ponselnya di saku jasnya.
"Aku tadi sempat mendengar kalau paman akan terima hukuman, maksudnya apa paman?" tanya Alona penasaran.
"Aku tidak tahu apa salah ku tapi yang pasti aku akan mendapatkan hukuman karena tidak sesuai apa yang diinginkan tuan Edward," jawab sopir tersebut sambil mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi).
"Kenapa ngebut paman?" tanya Alona sambil memegang pegangan mobil yang ada di atas kepalanya agar tidak terjatuh.
"Semakin kita lama sampai maka hukuman nya akan lama," ucap sopir tersebut.
"Memang hukuman nya seperti apa paman?" tanya Alona.
"Biasanya berupa cambuk," jawab sopir tersebut.
"Apakah paman dan yang lainnya pernah mengalaminya? Kok aku belum tahu," tanya Alona dengan wajah sangat terkejut.
"Kami pernah mengalaminya, biasanya dilakukan di samping mansion yang ada rumah yang digunakan sebagai gudang. Nyonya tidak tahu ketika hukuman dilakukan karena Nyonya berada di kamar," jawab sopir tersebut.
__ADS_1
Alona langsung terdiam namun matanya berkaca-kaca membuat Alona memalingkan wajahnya ke arah samping.
("Aku akan menggantikan dirimu paman dan aku tidak perduli jika seandainya aku terluka dan ma ti di tangan kak Edward karena jika itu terjadi tidak ada orang yang sedih sedangkan paman, jika paman terluka istri dan anak paman akan sedih dan besar kemungkinan membenci suamiku," ucap Alona dalam hati).
Sepuluh menit kemudian mereka sampai di mansion dan tanpa menunggu sopir tersebut membuka pintu mobil Alona terlebih dulu membukanya dan turun dari mobil.
Dengan langkah cepat, Alona berjalan ke arah pintu utama dan dua bodyguardnya lamgsung membuka pintunya dengan lebar.
"Paman, suamiku sudah pulang?" tanya Alona sambil berjalan masuk ke dalam mansion.
"Sudah Nyonya dan sekarang berada di kamarnya," jawab salah satu bodyguardnya.
"Terima kasih paman," jawab Alona sambil berlari menuju ke arah tangga.
"Sama-sama Nyonya," jawab bodyguard tersebut.
"Aku tidak tahu dan aku tidak perduli apalagi aku harap Nyonya di hukum dengan berat," ucap temannya.
"Kok kamu bicara seperti itu?" tanya temannya.
"Gara-gara wanita itu sahabatku sebentar lagi akan menerima hukuman cambuk," ucap bodyguard tersebut sambil menahan amarahnya.
Temannya hanya diam saja sedangkan Alona terus berlari hingga dirinya kini berada di depan pintu kamarnya. Alona menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
Ceklek
Alona berjalan ke arah kamarnya menuju ke arah ranjang di mana suaminya sedang menatapnya seakan ingin mem bu nuh nya.
"Ada apa," tanya Alona sambil meletakkan tasnya ke atas lemari yang tidak jauh dari ranjang nya kemudian berjalan ke arah suaminya.
Tanpa menjawab Edward berjalan ke arah Alona kemudian mengarahkan ke dua tangannya ke leher Alona membuat Alona sangat terkejut.
"Apa yang kamu lakukan pada Nenek ku, hah!!!" bentak Edward sambil mencengkram leher Alona.
"A.. a.. ku... ti.. dak .. ta ... hu..a.. pa.. yang ... kak Ed.. ward.. ka .. ta.. kan.." ucap Alona dengan nada terbata.
Tanpa memberontak Alona hanya menatap Edward dan membiarkan dirinya hampir kehabisan napas akibat kurangnya pasokan oksigen.
"Kamu jangan pura-pura, gara-gara kedatanganmu nenek ku kejang - kejang di saat Mommy dan daddy datang ke rumah sakit," ucap Edward yang masih mencengkram leher Alona.
Alona hanya terdiam sambil menatap wajah suaminya yang sangat menyeramkan membuat Alona tersenyum.
"Se ..la .. mat .. ting... gal..." ucap Alona dengan nada terputus namun masih tersenyum.
Selesai mengatakan hal tersebut Alona memejamkan matanya bersamaan tubuhnya ambruk namun ke tahan dengan ke dua tangan Edward.
Edward sangat terkejut dan langsung melepaskan ke dua tangannya membuat Alona ambruk.
__ADS_1
Bruk
"Alona!!!" teriak Edward.