Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia

Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia
Alona Dan Edward


__ADS_3

Sampai di balkon Alona melihat ke arah bawah di mana ada enam bodyguard yang sedang berkeliling untuk melihat keadaan sekitar. Alona menepuk satu kali dan benar saja ke enam bodyguard tersebut langsung pergi dari tempat itu.


Alona berusaha naik ke pagar pembatas balkon bersamaan pintu kamarnya terbuka membuat Alona sangat terkejut dan nyaris terjatuh jika saja Alona tidak menahan salah satu tangannya memegang pagar besi tersebut.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Edward ketika melihat Alona nyaris terjatuh.


Edward berlari dengan langkah cepat dan menahan tangan Alona agar tidak terjatuh terlebih kamar Edward di lantai tiga.


"Kak Edward lepaskan tanganku,"pinta Alona sambil tangan satunya berusaha melepaskan tangan Edward.


"Apa kamu gi*a? Kamu bisa ma*i," bentak Edward.


"Mungkin dengan kematian ku bisa membuatmu bahagia," ucap Alona sambil masih berusaha melepaskan pegangan Edward.


"Apa maksudmu, kamu tidak boleh ma ti," ucap Edward.


"Aku sangat lelah kak, aku ingin tidur dan tidak bangun lagi karena tidak ada orang yang tulus mencintaiku," ucap Alona dan tidak berapa lama air matanya keluar.


Deg


Deg


Jantung Edward berdetak kencang membuat Edward memanggil bodyguard yang berada di bawah untuk berjaga-jaga jika Alona terjatuh.


"Maafkan Alona kak, semoga kakak bahagia menemukan pengganti ku," ucap Alona sambil menarik tangannya.


Grep


"Alona!!" teriak Edward ketika ke dua tangannya nyaris terlepas jika saja tidak ada dua bodyguard yang menahan tangan Alona dan tubuh Edward agar tidak terjatuh.


Edward dan salah satu bodyguard menarik ke dua tangan Alona hingga Alona kembali ke atas.


Grep


"Jangan lakukan itu lagi, maafkan aku," ucap Edward sambil memeluk Alona.


"Kak Edward, aku sangat lelah kak," ucap Alona sambil membalas pelukan suaminya.


("Dan ingin tidur tanpa bangun lagi," sambung Alona dalam hati).

__ADS_1


Dalam hati kecil Edward sangat takut jika seandainya saja Alona benar-benar terjatuh dan pergi meninggalkan dirinya.


"Aku istri yang tidak sempurna, carilah wanita lain," ucap Alona sambil memejamkan matanya.


"Aku tidak akan mencari wanita lain karena aku mencintaimu," ucap Edward.


"Kalau mencintaiku kenapa menyiksa.." ucapan Alona terpotong bersamaan Dennisa tidak sadarkan diri.


Edward yang merasakan tubuh Alona terasa berat membuat Edward mendorong perlahan Alona.


"Alona," panggil Edward sambil menggendong Alona ala bridal style dan berjalan ke arah ranjang.


Dengan perlahan Edward meletakkan tubuh Alona kemudian menepuk pipi Alona agar Alona bangun.


"Eugghhhh,"


Perlahan Alona membuka matanya dan menatap wajah tampan suaminya dengan tatapan sendu membuat Edward memalingkan wajahnya.


"Kak Edward, bolehkah aku minta satu hal?" tanya Alona.


"Untuk melepaskan mu? Jawabannya tidak," jawab Edward dengan tegas.


"Kenapa kamu mengatakan itu?" tanya Edward dengan tatapan tidak suka dengan ucapan Alona.


"Setelah kak Edward mengabulkan permintaanku, terserah kak Edward melakukan apapun padaku aku tidak perduli," jawab Alona.


"Apa itu?" tanya Edward penasaran.


"Aku hanya minta selama dua belas jam perlakukan aku selayaknya seorang istri dalam arti kak Edward tidak membentak, memukul, menampar dan menghina diriku. Aku ingin merasakan kasih sayang dan merasakan apa itu dicintai oleh suamiku. Apakah kak Edward mengabulkan permintaanku?" tanya Alona.


"Setelah dua belas jam silahkan kak Edward memperlakukan diriku sesuka hati kak Edward, aku akan menerimanya," sambung Alona.


"Baik," jawab Edward singkat.


"Terima kasih," jawab Alona.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Edward.


"Untuk mau menuruti permintaan terakhirku," jawab Alona sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


"Aku sangat lelah kak, temani aku tidur," pinta Alona.


"Tapi aku belum mengantuk," jawab Edward.


"Aku tahu, tapi aku mohon temani aku dan turuti permintaanku hanya dua belas jam," ucap Alona.


Edward menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian ikut berbaring di samping ranjang istrinya. Alona memeluk tubuh kekar suaminya sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya kemudian mendongakkan kepalanya ke atas menatap wajah tampan suaminya.


"Kak Edward," panggil Alona.


"Ya," jawab Edward singkat.


"Aku ingin kak Edward membelai perutku," ucap Alona.


"Kenapa?" tanya Edward dengan wajah bingung.


"Aku tidak tahu tapi yang pasti jika kak Edward membelai perutku bisa membuatku nyenyak tidur," jawab Alona sambil kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


Edward membelai perut Alona membuat Alona memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut suaminya.


("Anak - anak Mommy dan Daddy kangen sama Daddy ya? Maaf ya karena besok kalian akan berpisah dengan Daddy," ucap Alona dalam hati).


Tidak membutuhkan waktu lama Alona tidur dengan pulas membuat Edward melepaskan pelukan Alona. Setelah selesai Edward meletakkan kepala Alona di bantal dengan perlahan.


Edward dengan perlahan turun dari ranjang kemudian menyelimuti tubuh Alona kemudian keluar dari kamarnya menuju ke ruang kerja.


Satu jam kemudian Alona meraba tangannya ke arah samping untuk mencari suaminya namun tidak ada membuat Alona membuka matanya.


"Kak Edward kemana?" tanya Alona.


Alona turun dari ranjang kemudian berjalan ke arah pintu kamarnya untuk mencari suaminya hingga dirinya bertemu dengan kepala pelayan yang sedang membawa minuman susu coklat hangat untuk Alona.


"Nyonya Edward mau kemana?" tanya kepala pelayan dengan nada sopan walau dalam hatinya tidak menyukainya.


"Ingin bertemu dengan kak Edward, paman melihatnya?" tanya Alona dengan nada lembut.


"Ada di ruang kerjanya," jawab kepala pelayan.


"Terima kasih paman," jawab Alona.

__ADS_1


"Sama-sama Nyonya," jawab kepala pelayan.


__ADS_2