
"Biasa suamiku dan putraku Edward pergi ke luar negri untuk membuka cabang baru sedangkan putriku Eden masih kuliah dan sebentar lagi pulang,'' jawab Delisa berbohong.
"Suami dan putra mu hebat ya masih muda tapi bekerja keras. Sayang sekali aku tidak mempunyai putri kalau punya mau aku jodohkan dengan Edward putramu," ucap sahabatnya Delisa.
"Tapi kan putriku akan menikah dengan putramu kalau dirimu punya anak perempuan terus menikah dengan putraku maka putriku tidak jadi menikah dengan putramu," ucap Delisa.
"Iya juga sih, hehehehe ..." ucap sahabatnya sambil tertawa.
("Padahal aku lebih suka kalau Edward jadi menantuku tapi sayang sekali aku tidak mempunyai seorang putri," sambung sahabatnya dalam hati).
"Oh ya, Minggu depan kan ke dua anak kita akan menikah jadi bagaimana kalau kita mengadakan acara pesta besar-besaran?" tanya sahabatnya.
"Boleh, kalau perlu yang sangat mewah mengalahkan pesta putraku," ucap Delisa penuh harap.
"Bagaimana kalau dirimu yang membayar semua biaya pernikahan sedangkan kami membeli mansion yang sangat mewah untuk hadiah pernikahan anak kita?" tanya wanita itu.
"Empat kalinya lebih besar dari mansion ini?" tanya Delisa.
"Bukan empat kali tapi delapan kali lipatnya dari mansion ini, bagaimana?" tanya sahabatnya.
"Baiklah," jawab Delisa sambil membayangkan mansion milik putrinya sangat besar dan luas.
Tanpa sepengetahuan Delisa kalau sepasang suami istri saling memandang sambil tersenyum menyeringai.
"Kalau begitu kami pulang dulu untuk membeli mansion karena kami ada janji dengan pemilik mansion," ucap sahabatnya Delisa.
__ADS_1
"Ok," jawab Delisa singkat.
Delisa dan sahabatnya saling cipika cipiki seperti wanita pada umumnya kemudian mereka pergi meninggalkan tempat tersebut.
Delisa mengambil ponselnya untuk menghubungi Delon mantan suaminya dan sambungan ke tiga baru di angkat oleh Delon.
("Ada apa?" tanya Delon dengan nada malas).
("Putri kita mau di lamar dan Minggu depan putri kita akan menikah," jawab Delisa).
("Baguslah, semoga Eden bisa berubah sifatnya," ucap Delon).
("Sekarang aku butuh uang 4 milyar untuk biaya pernikahan putri kita," pinta Delisa dengan nada santai).
("Apa? Sebesar itu?" tanya Delon dengan nada terkejut).
("Tidak usah terkejut, pokoknya aku minta empat milyar," ucap Delisa bersikeras).
("Apakah keluarganya juga ikut membayar?" tanya Delon).
("Tidak," jawab Delisa).
("Jadi pria itu tidak mengeluarkan uang sepeserpun?" tanya Delon dengan nada terkejut yang enggan menyebut calon menantu).
("Dia membelikan mansion delapan kali lipat dari mansion milikku karena itulah calon menantu kita tidak bisa mengeluarkan uang untuk biaya pernikahan yang sangat mewah," jawab Delisa).
__ADS_1
("Memang siapa calonnya Eden?" tanya Delon).
("Cerewet sekali, sudah cepat kirim uangnya, aku mau pesan semua keperluan pesta pernikahan putri kita," jawab Delisa dengan nada kesal).
("Satu milyar dan itupun di potong tiap bulannya," ucap Delon).
("Apa? Tidak bisa, kenapa kamu perhitungan dengan putri kita? Apa jangan-jangan kamu berikan ke wanita lain? Atau keluarga besar mu yang kaya raya itu sangat pelit hingga tidak mau memberikan uang?" tanya Delisa).
("Jangan pernah menjelekkan keluargaku, terima atau tidak terserah dirimu,'' ucap Delon).
Tut Tut Tut Tut Tut
Sambungan komunikasi langsung diputuskan secara sepihak oleh Delon membuat Delisa berteriak karena dirinya sangat kesal.
"Si*l ... " teriak Delisa dengan nada frustrasi.
brak
Delisa membanting ponselnya yang sangat mahal ke lantai hingga ponsel itu hancur berkeping-keping karena Delisa melemparnya dengan sepenuh tenaga.
"Kalau satu milyar mana cukup, jalan satu-satunya menjual semua peninggalan ke dua orang tuaku termasuk mansion, perhiasan, semua aset berharga dan lain-lain. Semua aset yang diberikan Delon terpaksa aku jual juga dan hanya menyisakan mansion ini," ucap Delisa sambil melihat sekeliling ruangannya.
"Ya betul hanya itu satu-satunya," ucap Delisa.
"Kalau masih kurang, aku akan memaksa Edward untuk menjual propertinya," sambung Delisa.
__ADS_1
Selesai bicara sendiri Delisa berjalan ke arah kamarnya untuk mengganti pakaian karena Delisa akan pergi menemui temannya untuk menjual semua properti milik orang tuanya yang sudah meninggal dunia termasuk properti yang diberikan Delon untuk dirinya.
"Semoga saja cukup," ucap Delisa.