
"Tentu saja boleh Nyonya, silahkan ikuti saya Nyonya," pinta pelayan toko.
Alona menganggukkan kepalanya kemudian berjalan mengikuti pelayan toko sedangkan sopirnya duduk menunggu dengan ditemani pelayan toko lainnya.
Tok tok tok
"Masuk," jawab pemilik butik.
Ceklek
Pelayan toko tersebut membuka pintu dengan lebar kemudian Alona masuk ke dalam butik kemudian pelayan toko tersebut menutup pintunya dengan rapat. Alona dan pemilik butik sangat terkejut ketika mereka saling menatap.
"Kak Alona," panggil gadis cantik tersebut sambil turun dari sofa dan berjalan ke arah Alona.
"Eden," panggil Alona terkejut karena dirinya tidak menyangka kalau pemilik butik adalah adik kembar suaminya yang bernama Edward.
"Apa kabar kak," ucap Eden pada kakak iparnya sambil cipika cipiki seperti wanita pada umumnya.
"Baik, kamu pemilik butik?" tanya Alona tidak percaya.
"Iya kak, tapi butiknya masih kecil dan pembelinya tidak begitu banyak," jawab Eden.
"Semoga saja butiknya ramai," doa Alona dengan tulus.
"Amin," jawab Eden.
"Silahkan duduk Kak," ucap Eden.
Alona menganggukkan kepalanya kemudian Alona berjalan ke arah sofa begitu pula dengan Eden, mereka duduk saling berdampingan.
"Ada yang bisa aku bantu kak?" tanya Eden
"Awal bulan depan kak Edward ulang tahun jadi kakak berencana ingin membeli satu stell pakaian kerja. Tadi kakak sempat melihat pakaian kerjanya tapi sayang belum ada yang cocok," ucap Alona.
"Itulah kak, sebenarnya aku ingin mendesign pakaian kerja yang model terbaru tapi belum ada ide," ucap Eden yang tidak marah ketika Alona mengatakan tidak ada yang cocok.
"Kalau aku mendesign dan kamu yang membuatnya bisa kan?" tanya Alona.
"Memang kakak bisa?" tanya Eden tidak percaya.
"Bisa donk, waktu kecil kakak sering menggambar pakaian karena cita - cita kakak ingin menjadi perancang busana," jawab Alona sambil tersenyum.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Fashion designer atau perancang busana adalah seseorang yang ahli dan terampil dalam mendesain pakaian. Dalam menciptakan dan mengembangkan rancangan busana, wajib hukumnya seorang fashion designer punya kreativitas yang tinggi. Selain itu, diperlukan juga kemampuan visualisasi.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
"Boleh donk kak, kirim ke aku gambar - gambarnya nanti aku bayar deh," ucap Eden sambil tersenyum bahagia.
"Kok bayar? Gratis donk," jawab Alona.
__ADS_1
"Kok gratis? Biasanya kalau mengirim gambar desain kan seharusnya di bayar," ucap Eden.
"Itu kalau orang lain, kamu kan adikku masa sama adik hitungan?" ucap Alona sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum menatap adik iparnya.
"Tapi kak, aku tidak enak kalau gratis karena kan dari gambar itu aku buat pakaian terus di jual dapat uang tapi kak Alona tidak dapat uang jadi aku akan tetap membelinya," ucap Eden dengan tegas.
"Atau begini saja jika pakaian yang kamu buat hasil dari rancangan ku ada yang terjual aku ingin keuntungan untukku kamu berikan ke orang - orang yang membutuhkan. Kumpulkan dulu uangnya jika sudah terkumpul banyak bisa diberikan ke mereka," usul Alona.
Eden sangat terkejut dengan ucapan kakak iparnya karena hati Alona seperti Malaikat yang tidak bersayap.
("Kenapa kak Alona memiliki hati seperti Malaikat dan tidak seperti yang kami gambarkan selama ini? Dari cara bicaranya dan tingkah lakunya membuatku tidak yakin kalau kak Alona menabrak nenekku pasti ada orang lain yang mirip dengan kak Alona dan kak Alona di paksa untuk mengakuinya," ucap Eden dalam hati).
"Eden .. Eden .." panggil Alona karena Alona melihat Eden terdiam.
"Iya kak," jawab Eden tersadar dari lamunannya.
"Bagaimana, kamu setuju?" tanya Alona.
"Setuju kak," jawab Eden sambil tersenyum.
"Bagus, sekarang boleh kakak minta kertas, pensil ✏️ dan penghapus?" tanya Alona.
"Sebentar kak," jawab Eden.
Eden turun dari sofa kemudian berjalan ke arah meja untuk mengambil apa yang di minta oleh Alona.
"Ini kak," ucap Eden sambil memberikan kertas, pensil ✏️ dan penghapus.
"Sama-sama kak," jawab Eden sambil duduk di sebelah Alona.
Alona dengan serius mendesign pakaian untuk suaminya yang bernama Edward hingga lima belas menit Alona sudah selesai.
"Bagaimana? Cocok tidak di pakai sama kakakmu?" tanya Alona sambil memperlihatkan gambar desain nya.
"Cocok kak, bagus banget, buatin buat aku kak biar sekalian mau aku buat juga," ucap Eden.
"Ok," jawab Alona.
Alona kembali menggambar hingga setengah jam lebih Alona sudah selesai menggambar sebanyak 3 lembar.
"Aku buat segini dulu ya, nanti malam aku buat lagi dan aku kirim dengan menggunakan foto," ucap Alona.
"Terima kasih kak," ucap Eden sambil tersenyum bahagia karena mendapatkan gambar buatan Alona yang sangat bagus.
"Sama-sama, oh ya khusus untuk kak Edward tolong menggunakan bahan yang sangat mahal dan berkualitas," pinta Alona.
"Tentu saja kak," jawab Eden.
"Oh ya berapa harganya?" tanya Alona.
"Tidak usah bayar kak," jawab Eden.
__ADS_1
"Kok gitu, kakak tidak mau kalau gratis," ucap Alona.
"Kan kakak adalah kakakku masa sama kakak di suruh bayar dan hitungan," ucap Eden membalikkan perkataan Alona.
"Kan beda, kamu usahanya butik dan mencari keuntungan sedangkan kakak kan hanya membantu adikku yang sangat cantik ini," ucap Alona sambil menarik hidung adik iparnya.
"Aish ... kakak pinter banget kalau bicara sama seperti kak Edward,'' ucap Eden.
Alona hanya tersenyum membuat Eden membalas senyuman Alona.
"Oh ya kak maaf agak pribadi, kak Edward galak tidak?" tanya Eden penasaran.
"Kak Edward sangat baik dan perhatian karena itu pesan kakak kalian berdua saling rukun, saling sayang menyayangi dan saling perduli jika salah satunya sedang sedih," ucap Alona dengan mata berkaca-kaca namun berusaha tersenyum.
"Tentu saja kak, Mami dan Papi selalu mengajarkan kami untuk saling perduli dan saling sayang menyayangi," jawab Eden sambil tersenyum dan tidak melihat mata Alona yang sedang berkaca-kaca.
"Kakak senang mendengarnya," ucap Alona.
("Tidak seperti kakak, Ibu dan Ayah cenderung sangat sayang dengan Alena dari pada aku padahal kami sama-sama anak-anaknya," sambung Alona dalam hati).
Tes
Tes
Tes
Alona dengan cepat menghapus air matanya agar tidak di lihat oleh Eden namun sayang Eden melihat pergerakan tangan Alona.
"Kakak kenapa menangis?" tanya Eden.
"Ada debu yang menempel makanya kakak menangis, oh ya jadi berapa yang mesti kakak bayar?" tanya Alona mengalihkan pembicaraan.
"Ingat kakak tidak mau kamu rugi karena kakak sedikit tahu harga kain mahal," sambung Alona.
"Total bahan dan pembuatan satu stell pakaian kak Edward seratus lima puluh juta," jawab Eden.
("Maaf kak aku tidak mengambil untung sama sekali," sambung Eden dalam hati).
"Ok, bayar pakai kartu ini ya," ucap Alona sambil menyerahkan kartu debit.
"Maaf kak, apakah kak Edward tidak kasih kartu debit dan kartu kredit tanpa batas?" tanya Eden dengan terkejut karena Eden tahu kartu debit milik Alona dengan milik keluarga besarnya berbeda.
"Di kasih tapi karena ini untuk ulang tahun kak Edward maka aku ingin membelinya dengan menggunakan uangku. Kebetulan apartemen punya kakak laku terjual jadi kakak ingin menggunakan uang penjualan apartemen untuk membeli kado ulang tahun," jawab Alona menjelaskan.
("Kak Alona memang sangat berbeda dengan gadis lain biasanya jika di kasih kartu debit dan kartu kredit tanpa batas langsung belanja yang tidak penting," ucap Eden dalam hati).
"Baik kak," jawab Eden.
"Aku bisa tarik uang seratus lima puluh juta tidak?" tanya Alona.
"Uang segitu banyaknya untuk apa kak?" tanya Eden dengan terkejut.
__ADS_1