
Tanpa menjawab Edward berjalan ke arah pintu dan meninggalkan kamarnya.
"Sebenarnya aku tahu kalau Alona terkena cambuk dari kepala pelayan dan untunglah aku membawa kantung darah karena Alona kehilangan banyak darah." ucap dokter Anton sambil memasang selang infus terlebih dahulu di tangan kiri Alona.
"Aku ingin tahu kejujuran mu Edward kalau kamu habis mencambuk Alona dan ternyata kamu jujur dan aku harap kamu tidak menyakiti istrimu karena Alona sangat berbeda dengan wanita lain. Pantas saja sahabat kami menyukainya," sambung dokter Anton sambil memasang selang untuk darah di tangan kanan Alona.
Setelah selesai dokter Anton mulai menarik kembali resleting gaun Alona hingga terlihat banyak luka cambuk membuat dokter Anto meringis karena membayangkan betapa sakitnya.
Setelah hampir satu jam pekerjaan dokter Anton selesai bersamaan Alona membuka matanya.
"Aku di mana?" tanya Alona.
"Kamu di mansion," jawab dokter Anton.
"Kenapa dokter di kamarku?" tanya Alona dengan wajah terkejut sambil berusaha menjauhkan tubuhnya tapi di tahan oleh dokter Anton.
"Jangan banyak bergerak, kamu masih terluka," ucap dokter Anton.
"Aku datang ke sini di panggil sahabatku Edward untuk memeriksa punggungmu. Punggungmu sudah aku balut dengan perban dan jangan sampai basah," ucap dokter Anton sambil merapikan perlengkapan dokternya.
"Maaf pergilah," ucap Alona yang merasa malu karena tubuhnya di lihat oleh dokter Anton.
"Tidak usah malu, dokter sudah di angkat sumpah untuk tidak mempunyai pikiran mesum dan tidak pernah berpikir untuk me le ceh kan pasiennya," ucap dokter Anton yang mengerti perasaan Alona sambil turun dari ranjang.
__ADS_1
"Oh ya ini obat untuk mengurangi rasa nyeri, penguat kandungan dan vitamin," ucap dokter Anton sambil meletakkan obat di meja.
"Dokter tahu kalau aku hamil?" tanya Alona dengan terkejut.
"Tentu saja tahu dari sahabatku dan memintaku untuk memberikan obat penguat kandungan dan vitamin agar janin mu kuat. Kenapa kamu harus menunggu sampai Edward ulang tahun?" tanya dokter Anton.
"Aku ingin memberikan kejutan dan aku minta dokter jangan mengatakan ke kak Edward apapun yang terjadi dengan diriku," jawab Alona.
"Baiklah, aku pamit" ucap dokter Anton.
"Terima kasih dok," jawab Alona sambil memejamkan matanya karena menahan rasa sakit.
"Sama-sama," jawab dokter Anton.
("Sepertinya aku kabur menunggu lukaku sembuh," ucap Alona dalam hati).
Ceklek
Edward membuka pintu kamarnya dan berjalan ke arah ranjang. Edward duduk di sisi ranjang sambil menatap wajah pucat Alona namun masih terlihat cantik.
"Maaf kalau aku tidak bisa menahan amarahku," ucap Edward dengan nada lirih namun terlihat jelas di telinga Alona.
Tubuh Edward yang sangat lelah membuat Edward turun dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci muka dan sikat gigi setelah selesai Edward berbaring di samping ranjang istrinya. Tidak membutuhkan waktu lama Edward tidur dengan pulas begitu pula dengan Alona.
__ADS_1
Seminggu Kemudian
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepatnya selama Alona sakit, Edward merawat Alona dengan penuh kesabaran dan perhatian hingga tidak terasa Alona sudah sehat kembali.
"Mommy, tadi telepon katanya kamu di suruh datang untuk menemani nenek karena sejak tiga hari nenek menanyakan mu," ucap Edward sambil memeluk istrinya karena Alona sedang memakaikan dasinya.
"Ok," jawab Alona singkat.
"Aku akan mengantarmu," ucap Edward.
Alona hanya menganggukkan kepalanya setelah selesai Alona memakaikan jas ke tubuh suaminya sambil tersenyum.
"Sekarang suamiku sudah tampan," ucap Alona.
"Dari dulu memang aku tampan," ucap Edward narcis.
"Aku tahu karena itulah banyak para gadis dan wanita tergila-gila dengan kak Edward," ucap Alona sambil tersenyum.
"Apakah kamu tidak cemburu?" tanya Edward.
"Tidak," jawab Alona singkat.
"Kenapa ?" tanya Edward dengan nada kesal.
__ADS_1